
Pukul dua dini hari, pintu persalinan masih belum terbuka. Aizhe di dalam sana yang sedang berjuang melahirkan anaknya dengan normal, tampak kali ini begitu sulit.
“Nah kan, Mama tadi sudah bilang, mendingan pakai cecar saja! Kamu sih masih ajah ngotot!” omel Katherine di samping Aizhe sembari menggenggam tangan putrinya dan memarahi Arzen yang memilih melahirkan dengan cara normal.
“Yah, maaf, habisnya Arzen pikir ini juga cara yang mudah, Mama.” Arzen meminta maaf dan menahan cengkraman tangan Aizhe yang sangat kuat di lengannya.
“Ayo, Bu, ini sedikit lagi sudah mau keluar,” ucap Dokter terus memberi semangat dan aba-aba.
“Mama, Ibu, sakit….” jerit Aizhe.
“Ayo sayang, kamu harus kuat, buktikan pada anak kita nanti dia punya Ibu yang tangguh sepertinya,” kata Arzen tersenyum dan mengusap keringat yang bercucuran di kening istrinya. Dalam hatinya, dia terus berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya.
“Bertahanlah Nak, kepala bayi kalian mulai keluar nih,” tambah Katherine yang sudah tidak sabar melihat cucu kecilnya sembari manahan tangisnya dari tadi.
“Bis…huh…huh…bismillah, aaakhhhhh!!!” satu tarikan nafas dan suara Aizhe yang keras itupun mengisi ruang persalinan dan tak lama kemudian, setelah suara erangan Aizhe hilang, muncullah suara yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Namun anehnya, suaranya beda dari yang lain.
“Huweeee!”
“Loh, kok suaranya gitu?” kaget Arzen dan Katherine. Detik kemudian bayi itu menangis lagi.
“Oeeekk!!” tangis bayi itu dengan sisa-sisa ari di tubuh polosnya yang kemerah-merahan itu.
“Alhamdulilah, selamat, Pak, Bu, anaknya sudah lahir dan lucu sekali ya, seperti tahu apa yang membuat ayah dan neneknya terkejut.” Tawa Dokter wanita, rekan kerja Victor itu dan memberikan bayi di tangannya kepada Katherine dengan hati-hati.
Air mata Katherine berjatuhan dari pelupuknya, seumur hidupnya, ini pertama kalinya dia menggendong bayi. Sedangkan Aizhe tersenyum lega dan bersyukur.
Sementara Arzen justru diam-diam menitikkan air mata. Bayinya sangat menggemaskan sampai ingin membawanya pulang cepat ke rumah, tapi Dokter pun mengambil bayi itu untuk dibersihkan terlebih dulu, setelah itu, Dokter meletakkan bayinya di atas dada Aizhe untuk disu-sui sementara, tapi mulut bayinya tertutup dan tidak mau.
“Loh, kenapa ditolak, baby? Susu Ibumu enak loh, Daddy sudah pernah coba,” kata Arzen dan langsung saja kepalanya digetok oleh Katherine.
“Arzen, kamu ini ya! Kalau bicara lihat tempat dulu.” Marah Katherine karena ucapan Arzen itu sangat menggelikan.
“Hehe… maaf.” Arzen tersenyum bodoh dan melihat Aizhe menahan tawa. Sedangkan bayinya, tiba-tiba menangis lagi.
“Huwee!”
__ADS_1
“Hahaha…” Semua orang tertawa dengan lucu. Setelah pindah ke ruang rawat dan sudah memeriksa kondisi anak dan Ibu, akhirnya, Dokter mengizinkan anak-anak kembar Aizhe masuk.
“MOMMY!!” Seketika, bayi di dalam box, menangis lagi. Membuat langkah Ara dan lima kakaknya berbelok ke arah box kaca di sana.
“WOAHH!! Adik kecil cantik sekali!” puji Zee dan Nathan.
“Ihhh! Bayinya cowok tau! Tampan seperti kami!” tukas Chloe, Axel dan Arzqa.
“Tidak, ini bukan cowok!” ujar Zee dan Nathan.
“Ishhh! Ini cowok!” kesal Chloe, Arzqa dan Axel. Sedangkan Ara tersenyum-senyum sembari memegang tangan adiknya dengan jari telunjuknya. Bayi itupun berhenti menangis. Tidak seperti ke lima bocah di sampingnya yang masih cekcok.
“Anak-anak, berhenti! Jangan berdebat, kalau adik kalian nangis lagi, Daddy bawa kalian pulang ke rumah," tegur Arzen kepada mereka dan akhirnya diam.
“Fufufu… kalau kamu sudah besar, jangan nakal ya,” tawa Ara pada adik kecilnya, lalu melihat Aizhe di sana yang tersenyum.
“Mommy!!” Ara berlari ke Aizhe.
“Hm, Ara senang banget ya, suka sama adik kecil kan?” tanya Aizhe dan mengusap kepala Ara kemudian melihat Arzen sedang menceramahi 24 non stop lima anaknya di sana.
“Hm, siapa ya?” Aizhe dan Katherine saling menatap, mereka sudah persiapkan namanya tapi mereka masih ragu-ragu.
“Hm, kalau begitu, apa Ara punya saran nama bagus buat Dede?” tanya Aizhe.
Ara menyentuh dagu dan melihat box kaca di sana. Seketika dia menemukan satu nama di kepalanya.
“Victoria!”
Arzen, dan kelima anaknya menoleh mendengar nama itu.
“Kok pakai nama itu?” tanya mereka mendekati Ara.
“Hihi, Ara tiba-tiba dapat itu,” jawab Ara cengengesan.
“Baiklah, Daddy setuju!” ucap Arzen karena nama itu juga lumayan mirip dengan Dokter Victor. Semua orang pun setuju dengan nama adik mereka. Bahkan bayi di dalam Box kaca pun tampak menyetujui dengan tangisannya.
__ADS_1
“Oeekkk!”
“Hahaha….” Akhirnya, bayi itu menyu-su pada Aizhe sembari tangan kecilnya menggenggam jari Ara.
“Daddy,” panggil anak-anak tampannya yang duduk di samping Arzen yang sibuk memandangi bayi kecil itu yang sangat buas menghisap dada istrinya. Tampak ada rasa cemburu di mata Arzen. Padahal Victoria adalah anaknya sendiri tapi entah kenapa dia merasa seperti punya saingan baru.
“Daddy, Nenek mana?” tanya mereka tidak melihat Katherine.
“Ehem, tada…. nenek bawa sarapan untuk kalian.” Katherine mendeham di ambang pintu dan membawa beberapa makanan saji yang lezat. “Yeyyy!! Makasih Nenek.”
“Sama-sama. Eh.. . tapi jangan rebutan, ya!” kata Katherine di kepung enam cucunya. Arzen tertawa lalu berdiri mendekati Aizhe. Dia ingin mengusap pipi bayinya, namun si Dede kecil tiba-tiba menangis dengan keras.
“Oeeekkh!”
“Arzen, kamu ngapain barusan? Habis cubit ya?” Tatap Aizhe serius dan segera menenangkan bayi di dadanya.
“Tidak kok, sayang! Aku belum sentuh dia tapi bayi kita udah nangis duluan.” Arzen cemberut karena dapat omelan istrinya, ditambah sedikit kesal karena sang bayi diam lagi saat Aizhe menyu-suinya kembali.
Katherine yang melihat Arzen menatap sinis pada bayi itu, cuma menahan tawa. Cucu kecilnya yang belum dua minggu lahir sudah mengibarkan bendera perang pada Arzen. Anak-anak kembar Aizhe juga menahan tawa karena sang bayi sepertinya lebih jenius dari mereka nanti.
Benar-benar, cinta dan kebahagian telah menghampiri kehidupan mereka dan kehidupan baru sang bayi. Tawa canda dan keusilan Victoria pada Arzen yang memenuhi rumah mereka, hingga 9 tahun kemudian kebahagian itu mulai sirna ketika Ara tiba-tiba menghilang di rumah hantu, salah satu tempat hiburan yang dibangun Arzen untuk anak-anak berkebutuhan khusus demi menebus kesalahan Arita di masa lalu. Kemanakah putri satu-satunya Arzen itu berada?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah Ara dengan suami Mafia kejamnya yang berkaitan tentang kematian Victor. Cerita terbaru akan publis di tanggal 1 bulan juli dengan judul;
ISTRI TAWANAN SUAMI KEJAM
Gendre: Mafia dan Reinkarnasi, nikah paksa, balas dendam.
Siapakah yang terpilih berkesempatan hidup kembali untuk menyelamatkan Ara dari belenggu incaran Mafia?
Note; cerita hanya fiksi belaka. Terima kasih dan tunggu update novel terbarunya ya! Dilarang Plagiat!
Eid Al Adha Mubarak ✨
Saya selaku author KJCK mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 1444 H untuk semua sahabat pembaca yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin 🙏😇
__ADS_1