
"Arzen, sampai di rumah nanti, jangan marah sama Mama ya." Aizhe di dalam mobil membujuk Arzen yang duduk di sebelahnya dan menyetir mobil.
"Ini tidak sepenuhnya salah Mama, soalnya aku sendiri yang mau cuci baju, terus Mama tidak sengaja injak-”
"Aizhe!" Arzen menepikan mobilnya. Lalu, ia melihat istrinya yang secepatnya menundukkan kepala.
"Sudah, berhenti lindungi Mama. Aku tau bagaimana sifat Mama yang ini, dan sekarang jangan bela-bela Mama. Kalau kau begini terus dan bohong, kepercayaan ku bisa hilang terhadap mu," tegur Arzen serius.
"Aku hanya tak mau, gara-gara aku, hubungan kau dan Ibumu rusak, maaf." Aizhe semakin menurunkan pandangannya. Arzen menghembuskan nafas pelan, lalu ia menarik dagu Aizhe agar bisa melihat wajah istrinya.
"Baiklah, untuk ini aku tak akan bahas lagi, tapi mulai besok, kita pindah dari sana dan kembali ke rumah baru mu." Arzen sudah memilih dan yakin. Daripada tinggal satu atap dengan Ibunya yang membenci Aizhe, ia lebih baik pergi dari rumah Nyonya Arita agar kejadian ini tak terulang.
"Sekarang, kau tak keberatan, kan?" Arzen mengecup tangan kiri Aizhe yang diperban dan menunggu jawaban darinya.
"A-aku ikut kau aja, tapi sebelum itu, lebih baik bicarakan dulu sama—"
"Tenang saja, sayang. Nenek pasti setuju kalau sudah tau ini." Arzen mengusap rambut Aizhe dan senang melihat istrinya tak murung lagi. "Mau makan ice krim dulu?" tawar Arzen melihat toko di pinggir jalan.
"Boleh," angguk Aizhe mau.
"Ya udah, kau di sini tunggu aku sebentar." Arzen keluar dan secepatnya masuk ke sana. Aizhe menyentuh dada, ia masih merasa khawatir kepada Nyonya Arita kalau tau perbuatan Katherine. Tapi, ia juga merasa sedikit lega karena Arzen mau mendengarkannya. Dua menit menunggu, terdengar pintu dibuka.
Arzen duduk di kursinya. "Rasa apa?" tanya Aizhe tak sabar mencicipinya dan mengeluarkan tangan kanannya ingin memegangnya sendiri. "Coba tebak, aku pilih rasa apa?" Arzen belum memberinya karena ingin tau jawaban Aizhe dulu.
"Hm, apa ya," gumam Aizhe.
"Rasa anggur?" tebak Aizhe kemudian.
"Wow, benar! Tau dari mana yang satu ini anggur?" tanya Arzen dan merasa kagum.
__ADS_1
"Ya itu rasa kesukaan kau," jawab Aizhe. Arzen mendeham, agak malu-malu karena Aizhe tau rasa favoritnya.
"Baiklah, kalau yang satu apa?" tanya Arzen lagi.
"Ayo, cepat, sebelum cair nih," desak Arzen tak sabar.
"Pasti nggak tau, kan?" ledek Arzen.
"Vanilla?" tebak Aizhe cepat. Senyum Arzen perlahan sirna. Ia pikir, Aizhe akan salah menebaknya, tapi rupanya benar lagi.
"Kok bisa tau, sih?" Arzen menggaruk kepala dan heran.
"Aku, pakai perasaan dan ini." Aizhe menunjuk dada dan hidungnya, kemudian tertawa kecil tak mendengar suara Arzen.
"Nah, sekarang bagi ice krim dan hadiahnya," pinta Aizhe.
"Baiklah, kau menang." Arzen memberikan ice krimnya ke tangan kanan istrinya. "Hm, hadiahnya tidak ada?" Lesu Aizhe tak dapat barang lain selain ice krim yang kini dia coba.
"Mana?" Aizhe meminta dengan mengeluarkan tangan kirinya. Berpikir ada balon atau permen, namun ternyata hadiahnya sesuatu yang tak terduga-duga. Mata Aizhe melebar mendengarnya.
Dengan manisnya, Arzen maju. Ia menjilat sisa ice krim di sudut bibir istrinya dan pindah berbisik, "Hadiahnya, tubuhku." Wajah Aizhe perlahan merah merona dan tak sadar ice krimnya jatuh gara-gara nge-blus. Tawa Arzen tertahan melihat istrinya menunduk malu.
"Dasar suami mesum!" Aizhe memukul paha Arzen dan rupanya tepat sasaran. "Aduh, sakit," ringis Arzen pura-pura.
"Hm, sakit? Di mana?" Aizhe sontak panik.
"Di sini." Aizhe tersipu merasakan tangan kanannya diletakkan ke dada Arzen. "Hm, kenapa sakit di situ?"
"Karena, aku sakit kalau lihat kau terluka."
__ADS_1
"Ihh, gombal." Cubit Aizhe dan cemberut karena Ice krimnya jatuh dan sekarang tak dapat apa-apa. "Puff, jangan ngambek, nih ambil punyaku."
"Kalau aku ambil, kau makan apa?" tanya Aizhe memegang ice krim Arzen.
"Kalau kau kenyang, aku kenyang," ucap Arzen. Ditanya apa, dijawab juga apa. Memang nyebelin.
"Kalau aku lapar, kau gimana?" tanya Aizhe sambil menjilat ice krim.
"Ya, aku belikan makanan untuk mu." Jawabnya enteng. Kirain mau jawab lapar juga.
"Puff, kau lucu." Aizhe tertawa dan kemudian menoleh. Arzen pun juga menatapnya. "Kenapa?" tanya Arzen merasa Aizhe mau bicara tapi ditahan.
"Itu, kau sungguh mencintaiku?" balas Aizhe bertanya.
"Oh, jadi yang kemarin-kemarin itu belum cukup buat kamu percaya? Ya sudah, aku akan pergi ke perusahaan dan menyiarkan cintaku ini kepada mu secara publik."
"Ih, jangan! Itu berlebihan." Aizhe segera mencegah sebelum Arzen melakukannya. "Hm, terus, kau mau bicara apa lagi?" Arzen melihat istrinya yang masih ingin bicara.
"Em, cintamu itu sebesar apa kepadaku?" tanya Aizhe agak penasaran. Arzen diam sejenak, kemudian berbisik. "Cintaku, sebesar matahari ini. Tak ada celah untuk orang lain dan cintaku hanya sepenuhnya menyinari mu dan anak-anak kita."
Aizhe berpaling malu, wajahnya sangat merah sampai mau demam dan meriang.
"Masih ada?" Arzen bertanya lagi, setia sekali mendengarkan apa yang mau diketahui istrinya.
"Su-sudah cukup, kita pulang saja ke anak-anak." Aizhe menggeleng cepat sambil menggenggam tangan Arzen. "Baiklah, kita jemput anak-anak dulu." Arzen mengerti dan melaju pergi.
"Apa dulu dia seperti itu kepada wanita lain?" gumam Aizhe dan penasaran siapa saja wanita yang pernah dekat dengan Arzen. Tapi, kalau bertanya lagi, ia juga takut akan membuatnya sakit hati. Daripada bikin penyakit sendiri, ia pun diam saja.
.
__ADS_1
Ya, benar, gak usah dicari tau, fokus aja bucinin Arzen hihi..
Kira² nasib Katherine gimana nih sekarang?