KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 64 Flashback Ericsson : Surat Terakhir


__ADS_3


End



"Dia buta," ucap Arita acuh dan dingin.


Eric sontak syok mengetahui anak mereka cacat.


"Mama pasti bohong kan? Mama bilang begitu agar ada alasan untuk menyingkirkannya, kan?" kata Eric tetap berusaha tenang. 


"Tidak, Mama serius, bayi ini tidak sehat dan terlahir cacat. Lihat sendiri bola matanya yang jelek," ucap Arita dengan sombong menghina cucunya sendiri.


"Lalu kenapa? Apa yang mau Mama lakukan pada bayi kami?" tanya Eric kecewa pada Ibunya.


"Mama tidak mau bayi ini ada di keluarga kita, dia hanya akan menjadi bahan olok-olokan untuk merusak reputasi Mama," kata Arita dengan kejam.


"Tidak, berikan bayi Eric, Mama!" Eric ingin merebutnya tapi Arita menatapnya sinis.


"Dia buta! Cacat dan jelek! Tidak layak menjadi cucu Mama! Dia hanya akan memberikan keturunan yang cacat juga di masa depan!" pungkas Arita tanpa sadar menyayat hati putranya sendiri.


"Mama…. kenapa Mama tega pada dia? Apa salah dia, Ma? Bayi kami hanya ingin hidup bersama kami dan tidak ada niat untuk merusak Mama. Sekarang berikan bayi Eric," pinta Eric balas sinis.


"Lagipula, kami masih bisa memberikan anak lain untuk mewariskan harta Mama," tambahnya tak mau bayi pertama mereka dipisahkan darinya.


"Justru itu, kalian ikhlaskan saja bayi ini dan tunggu kelahiran anak berikut kalian. Bayi ini suatu saat nanti hanya menyusahkan kalian!" ujar Arita masih ngotot .


"Mama! Tolong mengertilah! Aku … dan Katherine sudah lama mendambakan kehadirannya, tapi sekarang Mama malah ingin menghancurkan impian kami! Tolong, sekali ini saja, jangan buat Eric tertekan!"


Eric memohon. Dalam hatinya juga merasa lelah berada dibawah tekanan Ibunya.


"Tidak, kalau kalian tidak buang bayi ini, Mama sendiri yang akan membuangnya dan mengurus perceraian kalian," ucap Arita semakin kejam.


"Mama! Stop! Eric ini manusia, bukan alat atau robot yang selalu patuh! Eric punya perasaan, dan Mama tak ada hak mengatur sepenuhnya Eric! Eric bisa pilih sendiri apa yang terbaik untuk hidup kami."


Eric berteriak lantang sampai bayi di tangan Arita menangis kencang. Ia kaget mendengar bentakan ayahnya yang sakit hati.


Arita menajamkan tatapannya dan tetap pada pendiriannya. "Percuma, Mama akan tetap membuangnya."

__ADS_1


"Baiklah, kalau Mama lakukan itu, aku laporkan Mama ke polisi," ancam Eric. Namun Arita juga membalasnya dengan ancaman lebih besar hingga Eric tak berdaya. "Baiklah, lakukan saja, Mama akan bunuh diri bersama bayi ini."


Perasaan Eric semakin sakit diberi pilihan berat itu. Tak punya pilihan lain, ia pun terpaksa menuruti perkataan Ibunya. Tanpa sepengetahuan Katherine, Eric pergi bersama Arita.


Malam yang dingin dan gelap, sebuah mobil berhenti di sebuah tempat rongsokan sampah. Eric terguncang hebat dibawa ketempat kumuh dan kotor itu.


"Sekarang letakkan bayi itu di sana," ucap Arita yang duduk di sebelahnya.


"Mama, sebaiknya kita bawa ke panti asuhan," mohon Eric merasa hatinya semakin tercabik-cabik.


"Tidak, di sana hanya akan menyusahkan orang lain." Arita menolak tanpa perasaan ampun pada cucunya sendiri.


Eric terisak-isak di dalam hatinya, kakinya terasa berat turun dari mobil. Memandangi wajah bayinya yang belum ada sehari lahir, ia tak mampu melakukan kebiadaban Ibunya.


"Eric….!"


Eric yang dipaksa pun segera turun, ia menengok ke atas langit yang gelap dan berkabut. Tampak akan turun hujan malam ini. "Ya Tuhan, maafkan saya." Eric meminta ampunan lalu berjalan masuk ke dalam sambil diawasi oleh Arita.


"Oekkhh… oekhh…" tangis bayinya setelah merasakan sesuatu jatuh membasahi wajahnya. Terlihat Eric menangis tersedu-sedu sambil mengecup puluhan kali ubun-ubun buah hatinya.


"Eric, cepatlah!" panggil Arita sebelum ada yang melihat perbuatannya.


Tetes demi tetesan air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk Eric yang bengkak. Pria tampan itu meletakkan bayinya di tepi tempat sampah. "Maafkan Papa, sayang. Mungkin untuk sekarang, kamu belum bisa hidup bersama Papa. Tapi percayalah, Papa dan Mama sangat sayang padamu." Eric dengan berat hati dan perasaan hancur meninggalkan bayinya. Berpura-pura tak mendengar tangisan pilu di belakang sana. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur tempat itu.


"Huwaaaa…. bohong! Kau pasti bohong kan, Eric?!" tangis Katherine sudah diberitahu soal anaknya yang dikabarkan meninggal. Ia memukul dada Eric yang terdiam di depannya.


"Dia tidak bohong, anak yang kamu lahir kan meninggal beberapa menit setelah lahir dari rahimmu," sahut Nyonya Arita datang bersama seorang bocah laki-laki empat tahun.


"Hiks…hiks… anakku…." Katherine pingsan tak sanggup menerima kenyataan putrinya. Dengan senang hati dan penuh cinta ia curahkan pada buah hatinya, tapi sekarang ia gagal memberikan anak untuk Eric.


"Maafkan aku, Katherine. Aku salah tidak bisa menyelamatkannya," lirih Eric sama hancurnya karena tidak bisa jujur pada Katherine.


"Papa…" panggil bocah itu mendekati mereka. Eric menoleh melihat Arzen kecil. Ia berjongkok dan memeluk bocah itu.


"Maaf, Papa tak bisa berikan adik untukmu, Zen."


Arzen cilik menggelengkan kepala, dan memeluk Eric yang menangis. Beberapa hari kemudian, karena dihantui rasa bersalah, Eric datang ke tempat buangan sampah. Namun ia tak melihat  jasad bayinya dan hanya ada beberapa anjing liar yang mencari makanan di sana.


Sekali lagi Eric merasakan kehancuran hidupnya, ia mengira putrinya sudah mati dimakan binatang. Dari situlah, kepribadian Eric berubah, ia banyak diam dan suka menangis tiap malam. Kadang membuat Katherine sedih melihat suaminya terpuruk. 

__ADS_1


Apalagi sepuluh tahun sudah berlalu, mereka belum dikaruniai anak lagi. Tuhan mungkin sudah geram hingga memberi mereka karma. Bayi yang dititipkan untuk mereka jaga dan sayangi malah disia-siakan.


Bahkan Arita mengidap penyakit gagal ginjal dan butuh pendonor secepatnya. Hingga suatu hari, ia mendapat pendonor dari seseorang. Alangkah terkejutnya, yang mendonorkan ginjalnya adalah Eric.


Arita jatuh bersimpuh di lantai, merasa sangat hancur melihat isi kotak yang terdapat dua bola mata Eric. "Akhhhhh, Eric!!!" Ia mengerang kesakitan mengetahui anak semata wayangnya meninggal dan mendonorkan semua organnya kepada pasien lain. Ia hanya diberi surat terakhir dan dua bola mata Eric untuk dijadikan kenang-kenangan. 


Betapa hancurnya Eric sampai ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara itu. Katherine pun sama hancurnya, ia sudah ditinggalkan anaknya sekarang ditinggalkan oleh suami tercinta.


"Huwaa…. Eric…. kenapa kau meninggalkan aku seperti ini." Katherine menangis sejadi-jadinya.


21 Oktober, Ericsson.


Maafkan aku, Katherine, karena aku tidak bisa mengungkapkan ini secara langsung kepadamu. Surat ini adalah ungkapanku yang paling dalam, yang mungkin bisa menjelaskan mengapa aku melakukan apa yang tidak harusnya aku lakukan.


Ketika ibuku memaksaku untuk membuang bayi kita, aku terjebak dalam dilema yang sulit. Aku tidak bisa mempercayai bahwa seseorang bisa begitu kejam kepada cucunya sendiri. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa bayi kita mengalami cacat. Aku merasa terjepit di antara cinta untukmu dan rasa sakit yang aku rasakan melihat bayi kita menderita.


Aku memilih untuk menuruti ibuku dalam keputusannya, dan itu adalah keputusan yang aku sesali setiap hari. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak melawan dan melindungi bayi kita. Aku merasa gagal sebagai suami dan sebagai ayah. Aku mengetahui bahwa keputusan ini membebani pikiran dan hatiku. Aku merindukan bayi kita setiap hari, dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah aku lakukan.


Bila nanti aku menyumbangkan semua organ tubuhku, itu adalah keputusan yang aku ambil dalam upaya untuk memberikan harapan dan kehidupan kepada orang lain. Aku ingin melakukan sesuatu yang baik, meski itu tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang. Aku ingin memberikan makna pada hidupku yang penuh penyesalan.


Katherine, aku tahu betapa sakitnya kehilangan anak kita dan aku tahu betapa sakitnya hidup kita sekarang. Aku juga tahu bahwa aku telah mengkhianati kepercayaanmu dan kepercayaanku pada diriku sendiri. Aku meminta maaf dengan segenap hati atas semua rasa sakit yang telah aku timbulkan padamu.


Aku berharap kamu bisa memaafkanku, meskipun aku tidak yakin apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri. Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Kamu adalah segalanya bagiku.


Aku menulis surat ini dengan air mata yang mengalir tanpa henti, dengan harapan bahwa kamu akan memahami perasaanku yang terdalam. Aku tidak bisa kembali dan mengubah masa lalu, tetapi dua hal yang harus kamu tahu, kamu adalah cinta sejati dalam hidupku, dan Emi adalah bukti cinta terakhirku untuk mu.


Teruslah berjuang, Erine, dan terima kasih telah mencintaiku meski aku tidak pantas. 


Dengan cinta yang tak berujung,


Ericsson.


Membaca isi surat Eric dari pengacara, Katherine kembali menangis pilu di depan Arzen, merasa sakit hati mengetahui kebenaran dari kezaliman dan kekejaman Arita di belakangnya dulu.


"IBUUUUU…. JAHATNYA KAU PADA KAMI!!"


.....


🥺Malangnya dirimu...ERik, moga tenang di sana🤧uhh jadi baper, maaf nih hehe...

__ADS_1


Terima kasih untuk reader, bunda dan kakak-kakak cantik yang sampai sekarang masih menemani author hingga bab sekarang🥰❤Tanpa kalian mungkin cerita ini sudah mangkrak seperti novel ku yng lain😅jangan lupa like, komen, dan subscribe supaya author semakin semangat mempersatukan mereka🥳🥳tapi kira² keputusan Nenek Arita mendonorkan matanya udah benar nggak nih?😅


Dan Terima kasih pada Kak Thea yang berbaik hati memberi kopi penyemangat nya🥰. Terima kasih dan semangat beraktivitas😘


__ADS_2