KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 69 Cucu Baru Untuk Mama


__ADS_3

Di area pemakaman, tak hanya Arzen, Aizhe dan Katherine saja. Ada beberapa orang lain datang mengunjungi mendiang keluarga mereka.


Walaupun Evelin dulu kadang jahat, tempat terakhirnya tetap berada di area yang layak. Itu semua karena rasa sayang Aizhe lebih besar dari rasa benci di dalam hatinya. Bahkan kebenciannya sudah hilang sejak lama.


"Nek Evelin… maaf bila kedatangan saya sangat terlambat, tapi, saya senang dengan kebaikan anda yang dulu memungut putri kami. Mungkin kami sudah tak bisa membalasnya dengan materi, tapi saya mulai sekarang akan tetap membalasnya dengan doa yang terbaik untuk anda di sana. Sekali lagi, terima kasih dan maaf." Katherine meletakkan serangkaian bunga di atas batu nisan Evelin. Setelah itu, mereka bertiga mengantarkan doa sejenak.


Aizhe di samping Arzen pun berlutut di dekat batu nisan Evelin. Dengan keadaan buta, ia mengelus ukiran nama wanita di sana dan mencoba meredam isak tangisnya.


"Nenek… mungkin ucapan Nenek dulu itu hampir benar. Dulu aku dikirim untuk bertemu orang tuaku, dan sekarang aku sudah bersama Ibu. Nenek juga harus tau, sekarang cucu Nenek sudah besar. Maaf, aku nggak bisa ajak mereka hari ini, tapi di lain hari, aku pasti akan membawa mereka lihat Nenek. Terima…. terima kasih untuk semua yang telah Nenek berikan pada Aizhe."


Aizhe memeluk batu nisan di depannya. Ia amat menyayangi Evelin dan merindukannya. Tanpa sedikit kebaikan Evelin waktu itu, mungkin ia tak akan hidup sekarang dan memberikan enam pewaris untuk Arita.


"Yuk, sayang. Kita pulang." Arzen membujuk istrinya. "Hm, baiklah." Aizhe tersenyum tegar lalu dengan langkah berat meninggalkan makam Evelin. Mereka tak langsung pulang, melainkan Arzen membawa Katherine ke apartemen Evelin, tempat istrinya dibesarkan.


Sungguh Katherine merasa sedih melihat tempat itu dekil, sempit, gelap, kotor dan bau. Air matanya mengalir tak sanggup membayangkan Aizhe kecil yang buta tumbuh di tempat kumuh seperti itu. Ia yang selama ini hidup enak dan mewah merasa Ibu yang paling jahat dan keji.


"Ma… semua sudah berlalu, sekarang Mama jangan pikirkan itu. Sekarang aku sudah bersama Mama." Aizhe menghibur Katherine yang langsung memeluknya. "Andai saja Mama tau dan mencegah ayahmu saat itu, kau tidak akan bernasib seperti ini dan Papa mu pasti masih hidup sampai sekarang. Ini semua salah nenekmu yang jahat." Katherine semakin menyalahkan Arita.

__ADS_1


Mereka pun masuk sebentar. Terlihat Aizhe duduk dan beristirahat di kursi sembari bersandar di bahu Arzen. Mereka menunggu Katherine yang sedang masuk ke dalam kamar Evelin. Tampak ingin mencari sesuatu di dalam lemari sana.


"Hm, apa yang Mama pegang itu?" Arzen melihat Ibunya keluar membawa sebuah benda persegi.


Katherine duduk di kursi dan meletakkan benda itu di atas meja. "Apa itu, Ma?" tanya Aizhe penasaran.


Dengan suara serak, Katherine menjawab, "Ini… foto mu waktu masih bayi."


Arzen dan Aizhe tertegun. Mereka tak sangka Evelin menyimpan beberapa foto Aizhe dari bayi, balita, remaja sampai Aizhe melahirkan anak. Tampak Evelin hanya mengambil gambar di saat momen yang bahagia untuk Aizhe.


"Mama… nggak perlu sedih, nanti kita buatkan cucu baru untuk Mama."


Suasana yang tadi kelam, berubah canda tawa. Arzen bisa-bisanya berkata demikian sembari mengelus perut istrinya. Sudah punya anak setengah lusin, masih ingin menambah menjadi selusin? Tapi tak salah juga sih, ia punya banyak harta sehingga bisa menjamin kehidupan anak-anaknya di masa depan.


Dua jam kemudian, mereka pergi dan membawa album itu. Katherine akan menyimpan foto-foto Aizhe dan cucunya ke dalam albumnya yang baru. Tujuannya kali ini ke tempat area makam Ericsson.


Kali ini, Katherine sudah bisa menahan tangisnya karena tak datang sendirian lagi. Dengan hadirnya Aizhe, rasa cintanya pada Ericsson semakin kuat. Walau Eric yang membuang putrinya, Katherine sudah tau suaminya dulu dipaksa melakukan itu.

__ADS_1


Aizhe tersedu-sedu di samping Katherine, karena tak bisa bicara secara langsung dengan ayahnya untuk pertama kalinya. Bahkan tidak sempat lagi melihat bagaimana wajah Ericsson. "Papa… ini Emi datang lihat Papa." Aizhe berhenti sejenak, mengumpulkan nafas.


"Sekarang Emi sudah pu-pulang…." Arzen memeluk istrinya yang sudah tak sanggup bicara. Perasaan Aizhe bergejolak. Ingin marah tapi ia tak bisa melampiaskannya.


"Emi… sayang Papa dan sudah maafkan Papa. Semoga Papa tenang di sana." Aizhe menaburkan kelopak bunga lalu memeluk Arzen lagi. Menumpahkan kerinduannya di dada suaminya. Sedangkan Katherine tersenyum lega melihat Aizhe sudah menemui tempat terakhir ayahnya.


Karena hari sudah sore, mereka pun bersiap hendak pulang. Setelah mobil mereka keluar dari area pemakaman, tiba-tiba seseorang datang menghampiri makam Ericsson. Ia berdiri memegang payung hitam dengan raut wajah pucat pasi dan sedih yang teramat dalam. Sebelum pergi, taburan bunga bertaburan di atas makam Ericsson. Setelah itu, melangkah pergi tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Setiap langkah, air matanya terus berjatuhan dengan rasa sakit dan penyesalan di hatinya.


"Maafkan Mama."


"Semua ini salah, Mama." 


Karena terus menerus tenggelam dalam rasa bersalahnya, ia tak sadar kedua matanya semakin membengkak. Membayangkan dirinya, mengandung, melahirkan, menjaga, merawat, membesarkan dengan sepenuh jiwa, namun akhirnya dia sendiri yang menghancurkannya.


….


Penyesalan selalu datang di belakang, Nek. Makanya kalau mau buat sesuatu, dipikir dulu apakah itu udah baik atau sebaliknya merusak hidup putramu sendiri🤕 

__ADS_1


__ADS_2