KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 41 Daddy, Ini Apa?


__ADS_3

Setelah ganti pakaian dengan baju polos berwarna sesuai kesukaan mereka, enam anak kembar Aizhe kembali masuk ke dapur.


"Daddy! Ini apa?" Ara naik ke kursi dan melihat ada banyak bahan yang sudah dipersiapkan Arzen.


"Ini semua adalah bahan membuat cake throw back!"


"Ha? Cek torowbek? Kue apa itu?" tanya twins cs (cilik six) baru dengar. Sedangkan Aizhe tertawa kecil karena namanya unik.


"Sudah, nanti Daddy kasih tau kalian kalau sudah jadi," ucap Arzen memakai topi koki. Kemudian memberikan tujuh topi dan celemek juga kepada mereka.


"Daddy, bantu Ala!" pinta Ara tak tahu pakai kedua benda itu. Arzen pun dengan senang hati mengenakannya ke tubuh kecil Ara. "Daddy, bantu Mommy juga!" lanjutnya menunjuk Aizhe di sana yang tampak kesulitan, meskipun dibantu lima anaknya. Arzen pun mendekat, memasang sendiri topi itu dan juga celemek ke tubuh Aizhe. Melihat enam anak mereka mengalihkan perhatiannya ke bahan kue, diam-diam Arzen mengecup leher Aizhe, membuat Wanita butanya bergidik geli.


"Shht, cuma dikit, sayang." Membisik ke telinga Aizhe, sehingga telinganya merah tomat.


"Daddy, ayo bikin!" Tarik Ara tak sabar. Arzen pun berdiri, mencari kue yang enak di On-tube. Dua menit menunggu perintah, twins sixnya mulai bekerja sesuai komando dari Arzen.


"Axel, ambil vanili, mentega, butter dan satu stok coklat batang di sana," perintah Arzen menunjuk keresek merah.


"Zee, ambil tepung terigu di situ." Tunjuk ke keresek biru.


"Nathan, ambil—"


"Ambil apa, Om?" tanya Nath sudah tak sabar ingin ikut membuat adonannya.


"Panggil, Daddy dulu dong," ucap Arzen berhenti sejenak.


"Hehe, ambil apa, Da-daddy?" tanya Nath cengengesan.

__ADS_1


"Ambil 10 butir telur, terus aduk pakai ini sampai ngembang," jawab Arzen memberikan alat pengaduk telur.


"Daddy, biar Loye saja!" pinta Chloe ingin mencoba memakainya. "Ndak boleh, ini punya ku," tolak Nath memeluknya.


"Eheh, jangan bertengkar, untuk Loye pakai ini juga," tahan Arzen melerai mereka sebelum ada cekcokan. Ia memberikan satu juga alat pengaduk telur. Menyuruh dua anaknya itu mengocok telur yang terpisah untuk adonan atas dan bawah.


"Untuk Aska, apa?" tanya Arzqa hampir dilupakan.


"Ah, iya lupa, Arzqa ambil pewarna kue di sana. Nanti setelah kuenya jadi dan matang, krimnya akan diwarnai dengan ini, dan Daddy yang akan menyempurnakannya," kata Arzen menunjuk kotak kecil. "Siap, Papa! Laksanakan!" hormat Arzqa mencari pewarna yang diminta ayahnya. Melihat semua bekerja, Ara yang duduk dipangkuan Ibunya, ia turun dan merengek ke Arzen. "Daddy, Ala juga mau kellja, Ala juga mau," mohonnya dengan polos.


"Duduk di sana, jaga Mama." Arzen menunjuk Aizhe, tak mau Ara capek-capek melakukannya.


"Ndak mau, Ala juga mau." Terpaksa anak itu berlari ke arah Nath dan Chloe, tak mau dengar Arzen.


"Kakak, lagi buwat apa?" tanya Ala duduk.


"Ini telur, Ara," jawab Nath dan Chloe.


"Tellus ini, apa?" tunjuknya ke alat kecil di tangan mereka.


"Jangan, Ara! Ini bahaya! Bukan mainan," larang Nath dan Chloe. "Ndak mau, Ala juga mau coba," rengek Ara menariknya.


"Ara, jangan ganggu kakak mu, sayang," panggil Aizhe dan menegurnya. Tiba-tiba saja, Ara tak sengaja memencet tombol, sehingga alat Mixer itu menyala dan berputar.


"Akhh, Ala takut, ada mostell, Mommy!" Ara lari memeluk Aizhe. Ia terkejut melihat Mixer itu berputar sendiri. Axel, Zee dan Arzqa terbahak-bahak melihat adik kecil mereka menjerit. Sedangkan Arzen membantu Nath dan Chloe mengocok telur agar tak merusak tekstur kuenya nanti.


"Makanya, jangan nakal, kalau dilarang harus didengar, paham, sayang?" nasehat Aizhe dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, maaf, Mommy." Ara mengangguk, sudah kapok dan memilih diam bersama Aizhe sampai gilirannya tiba.


Setelah melewati keseruan mereka mengacau dan memporak-porandakan isi dapur, akhirnya kue berhasil matang sempurna. Aroma kue yang harum dan enak pun menyebar kemana-mana. Apalagi selai strawberry di tengah lapisan dan olesan coklat di atas yang sangat mengunggah naf-su makan.


"Daddy, ini boleh Ala makan?" tanya Ara ingin mencoba.


"Jangan, ini buat Nenek," larang lima kakaknya.


"Boleh dong," jawab Arzen dan melihat lima anak lelakinya yang terheran-heran.


"Haha, jangan khawatir, di dalam oven masih ada satu untuk Nenek kalian," ucap Arzen menunjuk.


"Yeyy, makan kue dulu!" ria Ara di samping Aizhe yang mengelus dada lega ada bagian untuk ke-enam anaknya.


Semuanya mencoba setiap potongan kue dan rasanya memang nice, awalnya terasa manis di lidah dan di akhir terasa lebih sweet.


"Daddy, ayo kasih Mommy!" pinta Ara memberi sepotong kue untuk Arzen dan menyuruhnya menyuapi Ibunya. Dengan malu-malu, Arzen dan Aizhe menuruti kemauannya. Sedangkan lima anak lelakinya berpaling dan pura-pura terbatuk-batuk. "Hm, manis," komentar Aizhe mengakui mereka bisa bikin kue semanis dan lumer di lidah


"Ya dong, manisnya kan semanis Momi-nya …" putus Arzen melirik Ara dan lima anak lelakinya.


"Mommy kita!" sambung mereka balas memuji Aizhe hingga Ibu cantik mereka tersipu. Wajahnya sangat merah, seperti kepiting rebus. Padahal ia buta, tapi sudah merasakan rasa bahagia itu dari suara mereka. "Terima kasih," lirih Aizhe.


"Sama-sama, Mommy." Mereka memeluk Aizhe.


Setelah menyiapkan kue dan semua sudah lengkap dengan pakaian pesta mereka, anak-anak menggemaskan itu tinggal menunggu Aizhe selesai dirias oleh makeup artist profesional yang telah dibayar mahal oleh Arzen. Tak lupa, memberikan gaun terindah menurutnya sendiri.


Lima bocah laki-laki tampannya pun, langsung terpesona melihat Ibu mereka yang keluar dengan anggun, seperti bak putri dari keluarga kaya. Ara yang duduk di sofa, juga diam terkesima. Gadis kecil yang memakai wig rambut panjang terlihat imut dengan bando kelinci putihnya. Apalagi Arzen, mata dan hatinya sudah tak bisa berpaling darinya.

__ADS_1


"You are so beautiful tonight, Aizhe." Puji Arzen meraih tangan Aizhe dan menggandeng tangannya ke mobil bersama enam anak kembarnya. Aizhe terus berdebar-debar di samping Arzen yang kini menyetir ke rumah Nyonya Arita.


__ADS_2