
Tiga hari berikutnya, kabar Arita belum diketahui. Pihak kepolisian juga tak menemukan dimana mantan Presdir Neo itu berada, sehingga kasus Arita ditetapkan sebagai orang hilang. Semua orang turut mencemaskan Arita dan ada yang berargumen jika wanita tua tersebut bisa jadi diculik.
Pagi yang cerah ini, Arzen yang berpakaian santai lantas menghubungi Davis, namun Davis sama halnya tak tahu menahu dimana Arita sekarang. Arzen pun yang marah dari kemarin, kini perasaannya berubah mengkhawatirkan Arita. Ia pun mendekati jendela dan melihat di luar sana lima anak laki-lakinya sedang berjajar di samping Aizhe. Mereka dengan ceria menemani Aizhe dan Ara melakukan senam pagi. Senam sih senam, tapi anak-anak itu kadang bermain asal-asalan di sana. Ada yang jungkir balik, kayang dan salto. Kalau saja Aizhe dapat melihat, sudah ditegur habis-habisan. Tapi yah… namanya anak kecil, ada-ada saja kelakuan nakal mereka yang membuat orang darah tinggi.
Tiba-tiba saja, Arzen yang termenung dikejutkan oleh Katherine.
"Arzen…" Ia menoleh. "Ya, kenapa Mama?" tanyanya seraya menyimpan benda elektronik nya ke dalam saku.
Wanita berpakaian olahraga merah muda itu menghampirinya dan tampak ingin bicara sesuatu.
"Arzen, Mama ingin tau, apakah kamu sudah dapat mata baru untuk Aizhe?" tanya Katherine ingin putrinya cepat melihat.
"Kalau belum dapat, Mama bersedia memberikan sepasang bola mata Mama ini."
Arzen diam sesaat. Merasa tersentuh dengan keinginan Katherine, bahkan rela buta demi kebahagiaan Aizhe. Arzen tersenyum simpul dan memandangi keluarga kecilnya di sana.
"Mama, tidak usah, Arzen sudah mendapat pendonor untuknya,"
"Dan sekarang, Arzen tinggal melakukan operasinya.” Arzen melihat Katherine di sampingnya terharu.
"Si-siapa orang itu?" tanya Katherine sembari mengusap air matanya yang sempat jatuh.
"Aku juga tidak tahu, Ma. Orang itu tidak mau mengatakan identitasnya dan bahkan tidak mau bertemu dengan kami," jawab Arzen sangat penasaran siapa orang itu.
"Kalau begitu, apa kau sudah menemukan Nenek mu?"
"Aku belum mendapat apa-apa, Ma. Mungkin Nenek sudah kabur agar kita tidak menangkapnya," ucap Arzen lesu.
"Tidak mungkin, dia tak mungkin meninggalkan kekayaannya di sini." Katherine tak percaya.
Mendadak, ada Ara di balik jendela. Dengan tangan mungilnya, ia mengetuk kaca dan menunjuk Aizhe. Ia ingin Arzen dan Katherine keluar.
"Daddy! Ayo sini!! Kita ballemain!" panggilnya ceria.
Arzen dan Katherine pun keluar. Mereka diminta bermain sepak bola. Karena halaman yang luas dan cukup dibuat main, anak-anak kembar Aizhe menantang sang Ayah.
__ADS_1
"Daddy, ayo main bola…." Mereka melemparkan bolanya kepada Arzen. Sedangkan Ara duduk di samping Aizhe dan Katherine seraya menunggu jawaban Arzen.
"Daddy, kenapa diam terus?" tanya mereka sudah tak sabar.
"Sebentar, kita kurang satu."
Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa memandang bergantian diri mereka. Menghitung jumlah yang cukup, masing-masing dua tim berisi tiga orang.
"Hm, apa yang kurang Daddy?" tanya mereka tak merasa kekurangan anggota. Tiba-tiba, ada yang menyahut.
"Hei Tuan sombong, tiga saja belum cukup bermain bola, anak-anak," tawa Victor mendadak datang.
"Haaaaa…. Kok, kamu ada di sini? Siapa suruh kamu datang?" Arzen dan kelima jagoan tampannya menatap kebingungan.
"Tuh di sana yang suruh saya ke sini, Tuan Arzen." Ara mengangkat tangan saat Victor menunjuknya.
"Ha, ngapain putri saya menghubungimu?"
Sekali lagi, Ara mengangkat tangannya yang satu. Mata mereka terpaku melihat jari kelingking gadis kecil itu terluka karena tergores kerikil.
"Hihihi, Om Doktell! Ayo sini!"
"Sayang sekali, kedatangan saya bukan bermain bola, permisi." Victor menghampiri Ara, dan berkumpul dengan Katherine dan Aizhe.
Arzen mengerucutkan bibirnya, seperti kelima anaknya juga.
"Daddy, kita lanjut main atau tidak nih?" tanya mereka.
"Lanjut dong, Tuan muda!"
Tiba-tiba lagi, ada yang menyahut. Mereka menoleh ke sumber suara dan itu milik sekretaris Davis yang datang bersama seseorang.
Ayah dan lima anak itu terperangah melihat Erina bergandeng tangan dengan Davis.
"Wih, ada apa ini? Kenapa kalian datang bersama?" tanya Arzen heran. Davis pun dengan malu-malu menceritakan status hubungan mereka yang sedang berpacaran dan bahkan tidak lama lagi ingin menggelar pesta pernikahannya.
__ADS_1
"Serius, kalian mau menikah?" Katherine menghampiri mereka berdua.
"Ya, Tante. Kami saling cinta dan sudah yakin ingin lanjut ke ikatan lebih serius," ucap Erina tersenyum ceria dan melirik Davis yang grogi karena berhasil mendapatkan hati wanita yang dulu disukai Katherine.
"Tante, nggak marah, kan?" tanya Erina mencairkan suasana.
"Tentu saja tidak dong!" sahut Arzen sangat mendukung.
"Kami sangat senang, benar kan anak-anak?" tambahnya menoleh ke lima anaknya.
"Benar, kami ikut senang! Semoga bahagia, Tante!" ujar mereka tersenyum manis.
"Ululu… do'ain juga ya kami dikasih anak cewek, hihihi," ucap Erina dan merangkul lengan Davis dengan mesra.
"Siap, Tante! Semoga cantik dan sehat seperti Tante!" kata mereka tak sadar mendoakan salah satu calon istrinya.
Aizhe di samping Ara merasa senang mendengar kabar bahagia mereka. Sedangkan Victor cemberut karena hanya dia yang belum punya pasangan. Aizhe pun terkejut ketika Ara bicara sembarangan kepada Victor.
"Om Doktell, jangan sedih, nanti Ala yang jadi istelli Om Doktell."
Semua orang terbahak-bahak, kecuali Arzen yang masam di samping Katherine. Gadis kecilnya selalu saja suka ceplas-ceplos sebelum berpikir. Bahkan Victor tak sangka dilamar sama anak lima tahun lebih. Kepribadian Ara sangat terbalik dengan Arita.
" Tidak, aku menolak!" kata Victor cepat sebelum kena kasus kejahatan. Semuanya kembali tertawa melihat bibir Ara maju lima senti.
"Kenapa, Om? Ala 'kan cantik sepellti Mommy tauuu!" celetuknya polos.
"Yah, emang cantik, tapi sayang masih anak ingusan, belum bisa pakai baju benar terus makannya masih belepotan. Selalu ngompol tiap malam juga."
Victor mengejek.
"Huwa… Ala benci Om! Endak suka! Om Doktell jelek!" Ara lari ke arah Arzen. Arzen dengan senang hati menggendongnya dan ia tak menyangka cinta pertama putrinya malah jatuh ke Victor. Aizhe menahan tawa, mendengar saja sudah seheboh ini apalagi jika ia bisa melihat, pasti sudah terjungkir balik..
..
Tipe Ara emang agak lain sih sukanya malam ke om-om wkwk, untung Victor masih waras 😆
__ADS_1