
"Daddy, bolanya ndak bisa diambil, pohonnya tinggi sekali. Maafkan Ala." Ara menunduk sedih dan merasa bersalah.
Arzen berlutut di depannya dan mengusap bahu putrinya yang bergetar. "Nggak apa-apa, nanti Daddy yang ambil buat Ara. Sekarang kita istirahat dulu, terus minum susu." Arzen menunjuk di atas nampan yang dibawa Katherine tadi, ada banyak gelas yang berisi susu dan jus. Tak lupa berbagai potongan kue yang enak.
Bibir enam anak kembar jenius Aizhe pun merekah. "Yeahhh, susu coklat!" Ara dan lima kakak tampannya dibawa ke arah Katherine.
"Sayang, coba deh kau ambil itu," pinta Erina kepada Davis yang tingginya setara dengan Arzen.
"Hm… gimana ya, pohonnya tinggi, kalau aku manjat, terus jatuh nanti badan aku sakit semua." Davis ragu melihat bolanya ada di ujung paling tinggi di sana.
"Tenang saja, di sini kan ada Dokter, sayang." Erina menunjuk Victor.
"Ehem, sebaiknya kau dengarkan saja ucapan calon suamimu," ucap Victor yang tidak mau karena ingin segera pulang dan mandi agar tubuhnya yang penuh bau keringat hilang semua. Ia takut, kuman berumah tangga di keteknya.
"Hah, kenapa memangnya?" tanya Erina dan merangkul mesra tangan Davis.
"Suami saya ini jago manjat tau! Jangankan manjat pohon, manjat hati saya aja berhasil." Kedip Erina tersenyum dan merayu Davis, membuat jiwa jomblo Victor merasa panas.
"Heh, Nona Erina, dengar baik-baik, memang calon suami anda ini jago di berbagai bidang, tapi kalau dia sampai jatuh terus tulang pinggangnya patah, nanti malam pertama anda akan terlewatkan dengan sia-sia. Anda akan menyesal jika itu terjadi!" tutur Victor menerangkan resikonya.
Erina merinding, dan langsung ketakutan.
"Ihh, kalau begitu, jangan deh. Ayo, Davis, lupakan saja bola ini. Daripada kau patah tulang, mending dia saja yang patah tulang." Erina membawa Davis meninggalkan Victor yang tercengang.
"Astagaaaa, mereka semua suka sekali berkata seenaknya, ihhhhhhhhhhh……" Victor menendang batang pohon di dekatnya. Kesal pada sifat mereka yang sombong.
"Ck, ngapain sih repot-repot ambil bola ini? 'Kan kalian punya banyak uang! Dasar manusia pelit!" gerutu Victor sekali lagi memukul batang pohon dan tak menyangka, tiba-tiba ada yang menimpa kepalanya dari atas.
"Bedebug"
__ADS_1
"Aduhhhh…."
Semua orang menoleh ke sumber jeritan Victor.
"Hah, apa itu?" Aizhe bertanya dan mendengar jelas Victor kesakitan setelah bola yang tersangkut jatuh menimpa kepalanya. Untung saja bukan buah kelapa, kalau itu yang jatuh, Victor bisa geger otak sekarang juga.
"Nggak ada apa-apa, Victor di sana cuma digigit semut."
Arzen mengabaikan Victor yang menggerutu di dekat pohon. Bertengkar dengan bola di depannya, membuat semua orang terkekeh dan merasa Victor pria yang lucu. Ia yang mengkhawatirkan orang lain, tapi dirinya sendiri yang kena musibah.
Akhirnya, Victor pamit pulang untuk ke rumah sakit. Pergi memeriksa kepalanya di sana dan tak tau menahu tentang Arita.
"Tuan Arzen, Nona Aizhe dan Nyonya Katherine, saya harap kalian hadir di acara pernikahan kami. Jangan lupa juga ajak anak-anak lucu kalian ya," ucap Erina memberi undangan pernikahannya yang akan digelar dua minggu lagi.
"Baiklah, tenang saja!" Arzen mengangguk .
"Kalau begitu, kami pulang dulu, masih banyak urusan yang perlu kami siapkan, terima kasih untuk jamuan hari ini, Nyonya Katherine." Davis pamit kemudian membawa Erina pulang.
Siang ini, Katherine berniat keluar untuk mengunjungi makam Evelin. "Mama, mau ke sana sekarang?" tanya Aizhe di samping Arzen. Sedangkan enam kembar jeniusnya berada di kamar dan sedang belajar karena akan ada ujian penentuan masuk ke sekolah Dasar. Pas sekali, ulang tahun si kembar pun juga sudah tidak lama lagi.
"Hm, Iya. Mama ingin berterima kasih padanya dengan cara ini. Berkat dia yang memungut mu, Mama masih bisa bersama dengan mu sekarang."
Katherine mengelus tangan Aizhe yang dulu ia injak dengan kejam.
"Arzen, hari ini kau tidak sibuk di kantor, kan?" tanya Katherine pada Arzen.
"Tidak, Ma. Hari ini Arzen tidak sesibuk kemarin, tapi meskipun begitu, aku saat ini menunggu laporan dari pihak kepolisian soal Nenek," kata Arzen masih memikirkan Arita. Memang Arita jahat, tapi Arzen tidak bisa lama-lama membencinya karena wanita itulah yang membantu Katherine membesarkan dan merawatnya dari kecil.
"Kalau begitu, kalian bisa kan temani Mama keluar sebentar hari ini?"
__ADS_1
"Hm, bisa." Arzen dan Aizhe mengangguk.
"Nenek, Mommy, Daddy, mau kemana?" Ara dan lima kakak tampannya turun dan mencegah ketiga orang dewasa itu yang mau keluar dari rumah. Mereka berdiri di samping pembantu yang sedang diberi amanat untuk menjaga mereka selagi Arzen keluar.
"Sayang, Mommy sama Nenek mau ziarah ke makam Nenek Evelin, kalian di sini ya, jangan nakal dan harus saling menjaga, paham?" ucap Aizhe berpesan kepada anak-anaknya.
Mereka sebenarnya ingin ikut, tetapi mereka masih harus belajar dulu. "Baik, kami mengerti, Mommy."
"Hm, terima kasih, sayang." Kecup Aizhe pada mereka. Setelah itu, Arzen membawa istri dan Ibunya ke tempat makam Evelin.
"Tunggu, Loye!" panggil Axel menahan Chloe yang mau masuk ke dalam kamar.
"Kenapa?" tanya Chloe berhenti.
"Apa kamu tidak bisa melacak Nenek? Nenek sudah lama belum pulang, aku cemas pada Nenek," ucap Axel gelisah memikirkan Nenek besarnya. Chloe menoleh ke dalam kamar dan melihat empat adiknya di sana dibantu belajar oleh pembantu.
"Hm, bagaimana ya… aku tidak tau di mana posisi Nenek sekarang. Daddy sudah mencari ke semua tempat yang sering Nenek datangi, tapi tidak ada satupun tempat yang dikunjungi Nenek, Asel." Chloe menunduk lesu, baru kali ini ia sulit menemukan letak keberadaan seseorang.
"Asel, kamu kenapa?" Chloe kaget melihat Axel sungguh-sungguh menangis.
"Aku rindu, Nenek." Axel mengusap matanya. Perasaannya campur aduk antara rindu dan gelisah, serta takut Arita akan seperti Evelin yang tutup usia tanpa mereka di sampingnya. Ia ingat, Evelin meninggal tanpa sepengetahuan Aizhe dan mereka. Hanya tetangga yang dulu datang melaporkan Nenek mereka meninggal karena sakit keras saat bekerja demi sesuap nasi.
Perasaannya saat ini seperti yang ia rasakan dulu. Padahal Arita sudah jahat terhadap Ibunya, tapi Axel satu-satunya yang sangat takut Arita meninggal di luar sana.
"Ki-kita…. harus cari Nenek, Loye." Axel menangis di bahu Chloe yang sedang memeluk dan menenangkannya.
…
Axel begitu perhatian. Mau itu Evelin, Arita atau Katherine, dia sayang banget sama tiga Neneknya. 🥺
__ADS_1
Beberapa bab lagi, tamat.
Update lagi hari ini? Jangan lupa like, komen dan subscribe. Terima kasih dan selamat beraktivitas 🥰semoga terhibur.