KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 26 #Rasanya Menyakitkan


__ADS_3

(21+)Harap bijak dalam membaca⚠️


2. Flashback, awal Aizhe bertemu Arzen


Tahun demi tahun berlalu, umur Aizhe sudah 16 tahun. Aizhe tumbuh tinggi dan semakin cantik. Hinaan dari para tetangga berangsur-angsur hilang setelah Aizhe beranjak remaja. Gadis buta yang cantik itu perlahan mengetahui beberapa pekerjaan, mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel dan membuang sampah. Hingga Evelin yang makin tua, sudah tak bisa melampiaskan emosinya kepada cucunya.


"Makasih, Bu." Aizhe menerima paketnya dari tetangga barunya yang beberapa hari lalu pindah ke apartemen. Berhati baik dan mau mengizinkan Aizhe bekerja di rumahnya. Karena itu, Aizhe bisa mengumpulkan sedikit uang.


"Sama-sama, Nak Aizhe." 


Aizhe pun dengan tongkatnya berjalan pulang.


"Nek, Aizhe pulang." Aizhe masuk, mencari Evelin. Tetapi, apartemennya yang sempit itu kosong.


"Hm, apa Nenek bekerja lagi?" gumamnya. 


"Baiklah, aku simpan hadiah ini buat Nenek. Kata Tante tadi, besok tanggal 21 Juni, itu artinya ulang tahun Nenek." Aizhe meraba lemari, kemudian menjinjit dan menaruh bingkisan itu ke atas lemari.


"Sekarang aku pergi masak." Aizhe keluar, pergi menyiapkan makan siang. Meski buta, Aizhe sudah ahli memakai dapur. Dengan bergantung pada perasaannya, ia bisa memasak sesuai takaran dan tau letak bumbu-bumbu dapur.


Usai menyiapkan makan siang di atas meja dan menutupnya, ia keluar menyapu lantai, mengepel, buang sampah dan akhirnya merajut syal polos untuk dijual.


Krek…


"Selamat datang, Nenek!" sambut Aizhe berdiri. Evelin berjalan masuk dan bertanya, "Kau sudah makan?" 


"Belum, Aizhe tidak bisa makan kalau tidak bersama Nenek," jawab Aizhe.


"Baiklah, kemari dan kita makan siang,"


"Baik, Nek." Aizhe menyusul Evelin. Mereka berdua duduk berhadapan tanpa rasa canggung.

__ADS_1


"Nek, dari mana barusan?" tanya Aizhe.


"Keluar, membelikanmu tiket kereta,"


"Hm, tiket? Untuk apa?" tanya Aizhe heran.


"Aizhe, kau sudah besar, dan nenek sudah semakin tua, jika terus di sini, kau akan hidup sendirian. Jadi—"


"Tidak, Nek. Aizhe tidak mau pergi, Aizhe tetap mau bersama Nenek," tolak Aizhe cepat.


"Tenanglah, Aizhe. Dengarkan dulu Nenek sampai selesai," ucap Evelin menenangkan Aizhe yang panik.


"Tapi, Nek—"


"Aizhe, Nenek mau jujur, sebenarnya orang tua mu masih hidup, hanya saja, nenek membenci mereka karena membuang mu ke sini. Tapi, mereka sekarang sudah insyaf, mereka ingin kau pulang ke sana. Orang tua mu, merindukan mu, Aizhe," jelas Evelin.


Aizhe diam. "Orang tua? Masih hidup? Apakah itu benar, Nek?" tanya Aizhe memastikannya lagi.


"Aizhe, tenang saja, jika Nenek sudah resign, Nenek akan pergi mengunjungimu." Mengelus rambut Aizhe dengan lembut.


Buih air mata Aizhe jatuh, perasaannya campur aduk. Antara sedih dan senang. "Apakah Aizhe harus ke sana sekarang, Nek?" 


"Ya, kereta itu akan berangkat nanti, sekarang bersiaplah dan kemas barang-barangmu," ucap Evelin dengan lembut dan memeluknya. Aizhe berdiri, membalas pelukan Evelin. "Aku sayang Nenek lebih dari siapapun." Evelin tertegun, langsung ungkapan itu menusuk ke dalam hatinya.


Aizhe dan Evelin kini berada di stasiun kereta api, Aizhe dituntun masuk. "Aizhe, dengarkan nenek, kalau kereta ini berhenti, maka turunlah, dan cari nama Enire Blossom, itu nama Ibumu."


"Baik, Nek." Aizhe mengangguk dan berdebar-debar. Evelin pun turun dari kereta, berdiri di sana dan melihat kereta mulai bergerak pergi. Evelin berbalik badan, berjalan menjauh, namun seketika ia berlari dengan air mata. "Aizhe!!" Namun kereta itu telah pergi jauh. Sorot matanya menunjukkan penyesalan besar, semenjak Aizhe mengungkap rasa sayang padanya.


"Halo, apa ada orang di sini?" Aizhe memanggil, karena terdengar suara ketukan kaca di sebelahnya. "Aneh, kata Nenek di dalam gerbong ini banyak penumpang, tapi kenapa dari tadi tidak ada yang bersuara?" gumam Aizhe.


Tok tok…

__ADS_1


Aizhe menoleh, lagi-lagi suara ketukan itu terdengar. "Halo, siapa disana?" tanya Aizhe, namun tak ada yang menjawab, membuatnya khawatir. Tiba-tiba, suara kicauan burung terdengar.


"Bu, Pak, apa kalian mendengar suara burung? Kira-kira itu dimana?" Aizhe bertanya lagi, mengira ada orang yang duduk di samping dan di depannya.


"Haha, maaf, kalau saya banyak bicara, soalnya ini pertama kali saya naik kereta." Aizhe tertawa sambil mengelus lengannya dengan malu-malu.


"Kira-kira, kereta ini akan berhenti di kota mana ya, Pak, Bu?" tanya Aizhe mulai merasa cemas, karena merasa seperti dirinya sendirian saja. Aizhe pun berdiri, melambaikan tangannya ke depan, meraba apakah ada orang atau tidak ada, dan hasilnya kosong.


"Halo, apa ada orang?" Aizhe berjalan sambil mengulurkan tongkatnya ke depan. Berharap ada orang yang disentuh, namun tetap saja kosong. Aizhe yang takut, duduk kembali dan menunduk.


"Apa jangan-jangan nenek sudah membohongi aku?" gumam Aizhe menelan ludah. Karena mulai haus, ia membuka tas selempangnya dan mencari air mineral tetapi isinya juga habis.


"Duh, bekal ku sudah tidak ada nih," keluh Aizhe gelisah.


"Mau minum?" Seseorang tiba-tiba mengagetkannya.


"Ah, siapa disitu?" Aizhe memeluk tasnya erat.


"Heh, tak usah takut begitu dong, uang saya banyak kok dan juga saya bukan pencuri," ucapnya, dengan sombong duduk di kursi depan Aizhe.


"Lalu, kamu siapa?" tanya Aizhe dan tetap memeluk tasnya.


"Alien."


"Ha?" Aizhe mengernyitkan dahi mendengar jawaban yang sangat di luar planet bumi. Melihat raut wajah Aizhe yang kaget, suara tawa cowok itu pecah dan terdengar mengejek.


"Hahaha, ternyata kau ini memang buta." Baginya itu lucu, tapi bagi Aizhe, rasanya menyakitkan. Kekurangan itu, tak patut ditertawakan, benar, bukan?


….


Calon Papa si kembar emang ngeselin😤coba saja Aizhe bisa melihat, pasti sudah dilempar ke luar kereta😒😑

__ADS_1


__ADS_2