KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 57 Ayo Mandi Sayang


__ADS_3

"Yeyyyy…. akhirnya selesai juga." Zee dan Nathan meregangkan kedua tangannya. Merasa lelah bekerja hari ini, namun mereka tetap senang bisa menghasilkan uang dan pengalaman baru.


"Kalian anak-anak yang hebat dan gampang banget hapal naskah acara tadi," puji Erina datang tiba-tiba.


"Terima kasih, Tante juga hari ini lebih cantik," balas Zee dan Nathan memuji.


"Ulululu… kalian masih kecil tapi sudah pandai menggombal." Erina nyaris terpikat. Kejeniusan dan ketampanan mereka berdua memang turunan dari Arzen, tetapi kebaikan mereka tentu dari Aizhe.


"Kami pulang dulu, sampai jumpa, Tante!" Zee dan Nathan pergi mencari Davis. Erina tersenyum dan merasa anak-anak Aizhe beruntung sekali terlahir di keluarga Nyonya Arita.


"Aduh aduh… jadi pengen cepat nikah terus punya anak cewek." Erina berharap dalam hati dan rasanya ingin menjodohkan anaknya suatu saat nanti kepada salah satu lima anak kembar Arzen.


"Haha… mereka semua bibit-bibit unggul di masa depan." Erina pergi dan tertawa lucu. Sedangkan Zee dan Nathan berhenti sejenak di dekat tembok dan mendengarkan obrolan Davis dengan seseorang.


"Nyonya sungguh-sungguh sudah memutuskannya?"


"Apa yang sudah diputuskan?" ucap Zee bingung di samping Nathan. Mereka berdua kembali menguping dan mendengar suara di sebrang sana milik Nyonya Arita.


"Benar, untuk harta saya di kemudian hari, sudah saya bagi rata kepada enam anak-anak Arzen. Mereka adalah cucu kandung saya dan sudah sepantasnya mendapatkan warisan dari saya," tutur Nyonya Arita sambil memandangi tes DNA di tangannya.


"Cucu kandung? Ta-tapi bukannya Tuan Arzen bukan anak kandung Tuan Eric dan Nyonya Katherine, mengapa Anda berkata demikian, Nyonya?" ucap Davis tampak mengetahui sesuatu dan ucapannya barusan berhasil mengagetkan kedua anak kembar Aizhe.


Zee dan Nath bertatap mata. "Maksudnya, Daddy …." Mereka berdua tak menyangka bahwa Arzen bukanlah cucu kandung Nyonya Arita dan bukan anak kandung Katherine bersama Ericsson. Memang, karena Arzen adalah anak dari sepupu Ericsson. Arita mengadopsinya dan mengangkatnya menjadi anak untuk Katherine dan Ericsson yang dulu belum dikaruniai anak. Ia berharap kehadiran Arzen bisa memberikan cucu kandung untuknya dan itu tidaklah diketahui Arzen kecil dulu.


"Davis, tanpa dijelaskan, kau sudah paham siapa cucu kandung saya sebenarnya." Nyonya Arita menyudahi panggilannya. Davis pun masih diam termenung dan memikirkan sesuatu yang sangat diluar pemikirannya.


'Itu artinya…. No-nona Aizhe adalah cucu Nyonya Arita juga? Ta-tapi seingat saya, Tuan Ericsson hanya menikahi Nyonya Katherine. Apa jangan-jangan Nona Aizhe adalah salah satu anak Tuan Ericsson dari wanita lain?' Davis terus menerka-nerka apa maksud dari ucapan Arita barusan.


"Om!!!" panggil Zee dan Nathan.


"Ya, Tuan muda!" Davis berbalik badan dan berdiri tegak.


"Ayo, pulang."

__ADS_1


"Baiklah, mari ikut saya." Davis mengelus dada karena mengira percakapannya barusan tidak didengar oleh mereka.


….


"Selamat datang, Tuan." Pembantu datang menyambut kepulang Arzen dan ketiga jagoan tampannya. Terlihat Zee dan Nathan di samping Arzqa merasa sedih dengan kebenaran identitas ayah mereka.


"Di mana istri dan anak-anak saya yang lain, Bi?" tanya Arzen dan memberikan jas mahalnya.


"Mereka ada di belakang, Tuan," jawab pembantu.


"Terus, Nenek di mana?" tanya Arzqa yang tak melihat Katherine dan Arita.


"Nyonya Arita keluar, dan kata beliau ingin bermalam di luar. Kalau Nyonya Katherine, berada di belakang bersama mereka," jawab pembantu menunjuk ke arah belakang dimana ada taman bunga luas di sana.


"Apa? Mama juga ada di sana?" Arzen bergegas melihat kondisi istri dan anak-anaknya. Zee, Nathan dan Arzqa segera menyusul ayahnya. Mereka cemas pada Aizhe yang bisa saja dicelakai oleh Katherine.


Namun apa yang terjadi tidaklah seperti di benak Arzen, karena Aizhe dan anak-anaknya tampak bergembira di dalam taman. Bahkan bercanda tawa bersama Katherine yang sedang mengajari mereka menanam bunga.


"Hahaha... Kak Loye ambil ini!" sorak Ara menyemprotkan air ke tubuh Chloe namun yang basah kuyup malah Axel.


"Nenek, Mommy! Taddaaa... Ala buwat mahkota dalli bunga lili!" seru Ara memasangnya di atas kepala Aizhe dan Katherine. Sedangkan Chloe dan Axel bermain semprot-semprotan sampai baju mereka semakin basah kuyup.


"Ckckck, kalau kalian begini terus, bisa sakit tau!" Arzen datang dan mengambil selang di tangan Axel dan Chloe. Ara menoleh dan tersenyum lebar melihat ayahnya dan ketiga kakaknya sudah pulang.


"Akhhh, cepat lalli! Ada mostell gobilin!" pekik Ara berlari bersama Axel dan Chloe ke arah Katherine dan Aizhe. Arzen, Nath, Zee dan Arzqa mengerutkan dahi disebut monster.


Ternyata tak hanya main semprotan, mereka ingin lanjut main Drama kerajaan.


"Lattu, lattu Katlin! Lattu Mommy! Cepat usill mostell nya!" pinta Ara menunjuk Arzen, Zee, Nathan dan Arzqa yang tambah heran.


Katherine tersenyum smirk, merasa seru ikut ke dalam Drama kerajaan cucunya. Ia dengan tegas dan anggun maju berhadapan dengan Arzen dan ketiga perajuritnya.


"Duke Axellio! Duke Chloenio!" panggil Katherine.

__ADS_1


"Ya, yang mulai ratu!" sahut mereka berdua berdiri di samping Katherine.


"Siapkan diri kalian! Kita harus mengusir mereka dan halangi tujuan empat goblin ini merebut putri Mommy kalian!" ucap Katherine layaknya Ratu kerajaan.


"Siap, Ratu Katlin!" lantang Axel dan Chloe memegang pedang mainan. Ara pun sedikit tertawa geli melihat akting mereka, sedangkan Aizhe bingung apa yang sedang terjadi.


Arzen pun tersenyum menyeringai. Ia kini paham hubungan Ibunya dan anak-anaknya ternyata sudah seakrab itu. Dalam hatinya, ia merasa senang dan sekarang ikut ke dalam drama buatan anak-anaknya.


"Prajurit, serang merekaaa!" ujar Arzen lantang.


Zee, Nath dan Arzqa pun berdiri di depannya sambil memegang selang masing-masing. Suasana yang menegang seketika pecah dengan penyerangan keenam anak kembar Arzen. Katherine pun juga ikut menyemprot Arzen. Semuanya basah kuyup dan tertawa ria, begitupun Aizhe. Momen yang langka dan menyenangkan. Tak pernah dirasakan oleh Aizhe dan anak-anaknya sebelumnya.


"Akhhh, stop! Stop! Daddy menyerah!" pekik Arzen tak tahan menerima serangan bertubi-tubi dari mereka semua. Tak sangka, ketiga perajuritnya pindah haluan ke pihak Aizhe.


"Hahahaha...." Katherine tertawa puas melihat Arzen dikepung di semua sisi. Apalagi keenam cucunya langsung menyerbu sampai Arzen jatuh ke tanah. Akhirnya mereka berhasil menumbangkan Papa goblin tampan mereka.


"Hei, sudah. Nanti kalian semua sakit," ucap Aizhe mulai kedinginan. Arzen menoleh dan melihat istrinya menggigil.


"Baiklah, anak-anak, permainan hari ini kita sudahi. Sekarang kalian pergi mandi," kata Katherine pada keenam jagoannya.


"Baik, Ratu!" Mereka segera masuk bersama Katherine. Sedangkan Arzen membawa Aizhe pergi ke kamar.


"Huachiiii...." Aizhe bersin dan mulai flu. Mendengar itu, Arzen menghubungi Victor untuk mengecek semua kesehatan anggota keluarganya.


"Sini, kita mandi dulu. Nanti ada Victor yang akan membawa obat untukmu dan anak kita," ucap Arzen meraih tangan Aizhe.


"Hm, kau mandi aja dulu." Aizhe sedikit malu mandi bersama. Apalagi ini pertama kalinya ia diajak mandi bersama.


"Loh, kenapa ditolak?" tanya Arzen cemberut.


"Habisnya, aku kan buta. Kalau mandi bersama, nanti kelamaan terus kau bisa ikut masuk angin," ucap Aizhe perhatian.


Arzen tersenyum dan mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Kalau sakit, tinggal panggil Victor saja. Jadi, ayo mandi sama-sama, sayangku."

__ADS_1


Tetap saja Arzen membawa Aizhe ke dalam kamar mandi. Tak masalah pada kekurangan istrinya, yang jelas Arzen ingin selalu di samping Aizhe. Papa Goblin sangat bucin seperti Ericsson dulu.


__ADS_2