
Sejak kepergian Arita, tiga bulan ini terasa hampa. Kesedihan masih menyelimuti Aizhe karena dia tidak menyangka, Arita telah pergi sebelum bayi di dalam perutnya lahir.
“Dari tadi murung terus, apa yang kamu pikirkan, hm?” Arzen duduk di sampingnya, menaruh teh manis yang dia buat sendiri lalu mengusap perut Aizhe yang usia kehamilannya sudah delapan bulan.
“Mas, aku lagi mikirin Nenek. Kenapa ya, waktu itu Nenek tidak bilang saja kalau dia mau pergi. Aku kan jadi nggak bisa—”
Arzen mendekap tubuh istrinya.
“Sudah, jangan sedih terus. Kita doakan saja yang terbaik buat Nenek di sana.” Mengusap butiran bening yang berjatuhan dari kedua mata biru Aizhe. Dengan mata itu, Aizhe terlihat lebih cantik. Tapi Arzen masih merasa bersalah pada Victor karena belum sempat minta maaf atas ucapannya dulu saat dia cekcok dengannya.
Aizhe pun mengukir senyum manisnya.
“Oh ya, Mama kemana ya?” tanya Aizhe tidak melihat Ibunya itu dari pagi.
“Hmm, mungkin lagi shopping bareng anak-anak.” Arzen juga heran karena sore ini seharusnya mereka sudah membuat kericuhan di rumah. Tanpa dicari-cari pun, Arzen sudah mendapat foto dari Katherine yang memang berada di mal bersama enam cucunya. Dan benar saja, keributan di sana tidak bisa terelakkan lagi.
“COWOK!!”
“CEWEK!!”
“TIDAK, KAMI TAU INI COWOK!!”
“BUKAN, INI CEWEK TAU!!”
Dari suaranya saja, Chloe dan Zee lagi-lagi berbeda pendapat tentang jenis kelamin adik baru mereka.
“Tidak usah keras kepala! Kami ini tau, yang lahir nanti cewek!!” kata Nathan di pihak Zee yang ingin punya adik perempuan lagi.
“Bukan cewek, ihhh! Yang benar itu cowok!!” timpal Axel dan Arzqa yang berada di pihak Chloe, karena sudah yakin dari ucapan Arzen bulan kemarin setelah Ibu mereka melakukan pengecekan di rumah sakit.
“KAKAK!! BERHENTI DONG!!” pekik Ara, sudah capek mendengar perdebatan kelima kakaknya yang tidak ada yang mau mengalah. Gadis itu berkacak pinggang lalu merebut baju perempuan di tangan Zee dan Nathan.
“Mau dibawa kemana itu, Ara?” tanya mereka berdua.
“Mau di-kem-ba-li-kan!” jawab Ara ketus. Zee dan Nathan melipat bibir melihat adik mereka galak, apalagi tidak mau berpihak padanya. Oleh sebab itu, Zee dan Nathan ingin adik perempuan lagi. Sifat Ara benar-benar mirip dengan Arzen.
“Kakak! Ayo, pulang!” panggil Ara di samping Katherine yang dari tadi menahan tawa karena hadirnya Ara bisa menjadi penengah diantara kelima kakaknya. Hanya Ara di antara mereka yang bisa mengendalikan emosi kelima kakaknya itu.
“Ayo, sini!!” panggil Ara lagi.
“Tuh, jangan lupa, itu dibawa juga.”
“Ayo, Nenek! Kita ke mobil.” Ara menggandeng tangan Katherine, pergi meninggalkan lima kakaknya yang cemberut karena Ara tidak mudah diperintah.
__ADS_1
“Aaahhh!!” Mereka mendesah kesal bersama seraya membawa belanjaan masing-masing.
“Mommy!!” seru Ara berlari ke dalam pelukan Ibunya.
“Woah, perut Mommy besar sekali.” Tambahnya menyadari perubahan perut Ibunya.
“Hm, iya nih, adik kalian sepertinya sudah tidak sabar melihat dan bermain bersama kalian.” Aizhe tertawa kecil dan mengelus perutnya yang juga diusap oleh Ara.
“Mommy!” panggil Axel, Chloe, Nathan, Arzqa dan Zee mendekat. Sedangkan Katherine membawa belanjaan mereka bersama pembantu dulu ke atas yang berisi perlengkapan tambahan untuk calon bayi.
“Hmm, kenapa?” tanya Aizhe duduk di tengah-tengah mereka.
“Mommy, dulu kita juga pernah ada di sini ya?” tanya mereka dengan rasa penasaran ingin tahu.
“Hm, iya. Memang kenapa kalian bertanya itu?” Aizhe menjawab sedikit malu-malu.
"Woah!! Pasti perut Mommy dulu sangat besar ya?” tanya Axel dan dijawab anggukan oleh Aizhe.
“Terus, kita keluarnya dari mana, Mommy?” tanya Nathan.
“Keluar dari perutlah!” sergah Arzqa, membuat Aizhe sedikit tertawa melihat mereka penasaran.
“Ihh, kami juga tau! Tapi lewatnya dari mana!?” kesal Nathan di samping Zee yang mengangguk untuk kakaknya itu yang sedikit pusing meladeni satu adiknya itu yang sok tau.
“Kenapa harus pusing? Kita itu keluarnya dibantu sama Dokter, temannya Nenek,” sahut Chloe, bukan sok tau, tapi memang sudah tau.
“Keluarnya dari perutlah!” kesal Arzqa lagi dengan jawaban yang sama.
“Ihh, menyebalkan!” Nathan memalingkan wajah dengan acuh tak acuh.
“Sudah, sudah, jangan bertengkar. Kalian lahir dulu itu dibantu oleh Dokter, terus keluarnya dari sini.” Aizhe mengangkat sedikit bajunya dan menunjukkan bekas operasi..
“Kenapa kita bisa lewat sini, Mommy?” tanya Ara dari tadi menahan kekesalan melihat kakaknya berdebat lagi hanya karena ingin tahu lahirnya lewat mana.
“Perut Mommy dulu dibedah.”
Glug.
Mereka serempak menelan ludah dengan wajah yang memucat dan keringat dingin.
“Hm, kenapa semua pada diam?” tanya Aizhe heran. Tadi berisik, sekarang semua anaknya terdiam.
“Ndak apa-apa, Mommy.” Mereka tersenyum dan kapok bertanya karena jawaban Aizhe sangat menakutkan jika dibayangkan.
__ADS_1
“Puff, kalau begitu, kalian pergi mandi sekarang, sebelum Daddy pulang dari kantor,” ucap Aizhe sambil mengacak rambut mereka bergantian.
“Siap, Mommy!!” Kelimanya bergegas mematuhi perintah Aizhe. Begitupun Ara, sebelum berdiri, ia mengecup pipi Aizhe dulu, kemudian menyusul lima kakaknya.
Tidak lama kemudian, Arzen pulang. CEO tampan itu langsung duduk di samping istrinya dan tidak lupa merebahkan dirinya yang lelah ke sofa sejenak.
“Hm, kenapa suntuk begitu? Apa ada masalah di kantor?” tanya Aizhe pada Arzen yang kembali ke kantor tadi setelah mendapat panggilan dari Davis.
“Tidak ada kok, cuma posisi sekretaris aku saat ini lagi kosong,” ucap Arzen.
“Hm, kosong? Kemana Davis?” tanya Katherine, datang membawa segelas air dingin. Melihat wanita itu sudah pulang, Arzen tanpa bertanya, sudah tahu anak-anak sekarang berada di kamar mereka.
“Itu, Ma. Davis kuberhentikan,” ucap Arzen lalu meminum air yang dibawa Katherine.
“Hm, berhenti? Kenapa tiba-tiba?” tanya Aizhe dan Ibunya.
“Dia dan Erina ingin berangkat ke London. Orang tua Erina menunjuk Davis untuk mengambil alih bisnis mereka, Ma.”
“Oh, kirain ada apa-apa,” ucap Katherine barusan cemas dan berpikir sudah terjadi sesuatu pada mantan sekretaris mertuanya itu.
“Hm, kamu kenapa diam, sayang?” tanya Arzen melihat istrinya murung.
“Kamu mau melahirkan, Nak?” tanya Katherine karena dulu, dia juga sering begitu. Terdiam karena kadang menahan rasa sakit saat mendekati usia sembilan bulan kehamilannya.
“Ah, tidak apa-apa.” Aizhe menggelengkan kepala dan tidak bisa mengatakan permintaan Erina pada Arzen. Ia takut, suatu saat nanti Erina melupakan kesepakatan itu. Jadi, daripada ada masalah timbul di kemudian hari, Aizhe memilih memendamnya sendiri.
“Sayang, kalau kamu mau sesuatu, bilang saja. Nanti aku belikan apa yang mau kamu beli,” ucap Arzen dan tidak bisa berhenti mengusap perut Aizhe. Dia sangat sayang pada bayi di perut istrinya karena ini pertama kali baginya berada di sisi Aizhe yang sedang mengandung anaknya.
“Kalau begitu, apa bulan ini kita bisa liburan?” tanya Aizhe.
“Woah!! Mommy, mau liburan kemana?” sahut anak kembar mereka tiba-tiba berdiri di belakang sofa.
“Astaghfirullah, kalian selalu bikin jantungan Daddy!” celetuk Arzen kaget dan mengusap dadanya yang berdetak kencang.
“Hihihi… Daddy jangan cemberut begitu dong, nanti tampan Daddy berkurang tau.” Tawa Ara meledek di samping Chloe lalu menatap Ibunya.
“Mommy! Kita liburannya di hutan saja!” usul Ara akhirnya mengagetkan semua orang.
“Awhh… sakit, Mas." Aizhe tiba-tiba meringis, pertanda mau melahirkan.
“Mommy, kenapa?” tanya mereka panik melihat Ibunya kesakitan, membuat Arzen Dan Katherine segera membawa Aizhe ke rumah sakit karena ketuban Ibu si kembar sudah pecah.
“Kamu sih, Ara! Kalau bicara itu jangan suka ceplos! Tuh, adik kecil kita jadi mau keluar sekarang." Zee mencubit gemas kedua pipi adiknya, dan akhirnya mereka liburan di rumah sakit.
__ADS_1
….
Dari dulu Ara emang suka ceplos wkwk, mungkin si debay juga tidak mau liburan di hutan hhh...