
"Woah, ini setudiyo nya, Om?" Jari kecil Ara menunjuk studio luas di depannya.
"Ya, sekarang kita masuk dan lihat cara kerja mereka." Davis membawa mereka bertiga. Terlihat di dalam sana, ada banyak kru yang merekam Erina. Wanita itu terlihat profesional dalam menguasai acara itu. "Wah, asik juga! Kalau ada Loye, pasti dia akan mencoba alat-alat ini." Zee kagum dan takjub melihat mereka sudah menyelesaikannya.
"Okey, kita lanjutkan nanti!" Ketua kru menghentikan acara dan akan kembali pada jadwal tayang berikutnya
"Pak Davis? Tumben datang kemari dan membawa tiga anak. Apakah sekarang anda pindah profesi sebagai babysitter?" ucap Erina menghampiri mereka dan sedikit meledek.
"Maaf, Anda salah besar. Saya masih bekerja sebagai sekretaris," timpal Davis kadang kesal pada Erina suka meledek orang. Memang candaan, tapi itu terdengar kurang nyaman.
"Haha, santai dong, saya hanya bercanda, jangan diseriusin." Erina tertawa lucu.
"Tapi, ntuh ndak sopan, Tante." Tegur Ara.
"Ho'oh, sebagai perempuan yang jadi contoh untuk penggemarnya, Tante harus jaga image dan sopan santun kepada yang tua," nasehat Zee dan Nathan.
Erina diam tertegun dan tersenyum kecil. "Masih berumur lima tahun, tapi sudah pintar memberi nasehat, siapa yang ajarkan?" tanya Erina sedikit gemes.
"Mommy dong!" jawab mereka serempak.
"Wah…wah, Presdir Arzen tampaknya beruntung sekali. Tanpa dididik olehnya, mereka tumbuh lebih baik dari ayahnya sendiri," puji Erina.
"Hm, Tante ndak suka Daddy?" tanya Ara tiba-tiba.
"Benar, saya lumayan tidak suka. Orangnya, sombong, dingin, cuek, seenaknya, bikin jengkel dan lebih utama, jahat tak punya hati."
"Tapi, sebanyak apapun keburukannya, aku tak masalah kalau menjadi istrinya." Tatap Erina dengan seringai tipis dan melihat tiga anak itu jengkel mendengarnya
"Haha, tenang saja, tak usah melotot seperti itu, meskipun dulu saya mau jadi istrinya, tapi sekarang saya ogah. Jadi istri kedua adalah yang paling saya benci." Erina sadar, karena percuma jadi istri yang tak dicintai. Lagian uangnya juga banyak dan tak butuh uang lain.
Davis menghembus nafas, lega mendengar wanita itu tak ada niat untuk merusak hubungan atasannya. Kalau Erina sampai nekat, siap-siap saja reputasinya hancur, sehancur-hancurnya.
—---—
"Uum, sakit," ringis Aizhe yang diganti perbannya oleh Dokter. "Tahan ya, Nona, tinggal sedikit." Elus wanita berjas putih itu menenangkan Aizhe yang kesakitan dan prihatin melihat jari pasiennya bengkak.
"Dok, kira-kira, berapa hari agar ini bisa sembuh?" tanya Arzen sambil memegang tangan kanan Aizhe dan merasa istrinya menahan perih di jarinya.
__ADS_1
"Sekitar 2\3 Minggu, Tuan muda. Tapi, jika dia melakukan pekerjaan berat, ini bisa sampai dua bulan," jawab Dokter dan selesai mengobatinya.
"Masih sakit?" tanya Arzen melihat Aizhe diam.
"Sudah tidak," jawab Aizhe tersenyum. Namun percuma, dibalik senyumnya, Arzen tau Aizhe menahannya. Ia pun mengetuk lembut dahi Aizhe dengan ujung jari telunjuk. "Kalau sakitnya sangat menyakitkan, bilang saja, jangan dipendam. Paham?"
"Mengerti, maaf." Aizhe mengangguk.
"Baiklah, ini ada beberapa obat. Diminum sesuai aturan supaya dapat meringankan nyerinya dan sekali-kali datang kemari untuk mengganti perbannya," pesan Dokter sebelum pasangan suami istri itu pergi.
"Paham, Dok. Terima kasih." Arzen dengan tulus, berterima kasih dan mengambil obatnya lalu menuntun keluar istrinya.
"Hei, siapa barusan ke sini?" sahut Victor datang ke ruangan rekan kerjanya. "Cucu pasienmu, Tuan Arzen dan istrinya," jawabnya langsung.
"Hm, kenapa mereka ke sini?" tanya Victor. 'Apa wanita itu hamil lagi?' pikirnya liar.
"Untuk mengobati tangan istrinya yang terluka," jawab Dokter membereskan atas mejanya.
"Terluka? Terluka bagaimana?" tanya Victor kepo.
"Aku juga tidak tau kronologinya, tapi kondisi tangannya bengkak gara-gara kena sesuatu yang keras. Mungkin tak sengaja tangannya kejepit pintu," ucap Dokter yang tak diberitahu kejadian aslinya.
"Sebelum mereka ke sini, aku melihat mu bersama Nyonya Arita tadi pagi. Untuk apa dia ke sini?" tanya Dokter pada Victor yang duduk di kursi.
"Hm, aku juga tidak tau pastinya, tapi sepertinya dia melakukan tes DNA. Mungkin mengetes DNA Tuan Arzen dan ke-enam anaknya," jawab Victor yang membawanya ke Dokter lain.
"Loh, tapi hasil DNA mereka cocok, kok,"
"Cocok? Dari mana kau tau mereka cocok?" tanya Victor.
"Seminggu lalu, Tuan Arzen ke sini melakukan tes DNA dan barusan dia ambil dari ku," jelas Dokter itu memberi salinan DNA Arzen dan enam anak kembarnya.
"Hm, sebaiknya kau ambil itu dan berikan pada Nyonya Arita."
"Tak usah deh, kontrak kerja ku sudah habis. Nyonya Arita juga sudah sembuh dan biarkan saja Tuan Arzen sendiri yang kasih tau." Victor menolak karena malas melihat Arzen.
"Astaga, wajah mu jelek sekali." Ledeknya ke Victor yang cemberut.
__ADS_1
—---—
"Pak! Pak!" Seorang anggota kru datang memanggil Davis. Mengontrol nafas sebelum bicara pada sekretaris Presdir Neo tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya Davis.
"Pak, kebetulan anda ada di sini, kami butuh bantuan!" jelasnya panik.
"Tenang dulu, terangkan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Erina penasaran.
"Pak, Nona Erina, untuk acara berikutnya, kami mendapat kabar kalau bintang tamu acara Y-Show ini tak bisa hadir," jawabnya berhenti sejenak.
"Kenapa?" tanya Davis dan Erina.
"Kata ketua, bintang tamunya mengalami kecelakaan dan terpaksa kami harus mencari bintang tamu lain," ucapnya membuat mereka syok.
"Tapi karena sudah kepepet waktu, apa lebih baik hari ini kita tunda saja dan melanjutkannya ke jadwal Minggu depan?" sambungnya bingung.
"Jangan, kalau sampai itu terjadi, citra acara ini akan rusak. Sebaiknya kalian ganti temanya dan—" henti Davis melirik Nath dan Zee.
"Dan apa, Om?" Mereka bertiga bertanya.
"Kalian berdua yang akan membantu Nona Erina menyelesaikan acara ini. Apa kalian bisa akting?" tanya Davis.
"Bisa! Nathan bisa!" Nath mengangguk cepat.
"Zee ndak tau, tapi Zee mau coba," ucap Zee tersenyum.
"Kalau Nona Ara?" tanya Davis ke gadis cilik itu.
"Ndak mau, Ala takut." Geleng Ara tak berani tampil di tv.
"Hm, baiklah." Angguk Davis paham karena ini juga bahaya mengekspos Ara ke publik.
Karena sudah sepakat, dua bocah itu dibawa untuk dirias. Sedangkan Davis pergi menjenguk bintang tamu mereka yang dirawat di rumah sakit tak jauh dari studio. Sementara Ara, diam melihat dua kakaknya yang kini tampil bersama Erina. Ara memandangi Erina dan membayangkan Ibunya dapat melihat seperti artis itu. "Momi, kapan bisa melihat ya?" Ara menatap ke bawah dan menutup mata. Yang dia lihat hanya kegelapan dan itu menakutkan. Ia sadar, Ibunya pasti mendambakan penglihatannya sembuh.
"Kau kenapa, dek?" Seorang anggota kru datang karena melihat Ara, gadis bermata unik itu bersedih. "Ndak apa-apa, Tante." Ara tersenyum imut dan tak mau orang lain tau isi hatinya.
__ADS_1
…..