KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 29 #Aku Nggak Mau Dia Mati


__ADS_3

Belum puas dengan menikmati bibir Aizhe, Arzen melepaskan sweaternya dan menanggalkan baju kaos putihnya ke atas dada. Mata Arzen langsung jela-latan menatap bola dada besar terpampang di depannya. Arzen menghimpit tubuh gadis di depannya.


"Ku mohon jangan," desis Aizhe merasakan dua pucuknya disentil jahil. Mendengar suara Aizhe, tangan Arzen yang menahan pahanya, ia pindah meramas bola empuk di depannya. "Umm, jangan, ku mohon, hentikan." Aizhe menangis dan memohon. Namun, Arzen seakan pura-pura tidak mendengarnya dan lebih menikmati hisapan bibirnya, sehingga Aizhe perlahan merasakan hawa aneh merang-sang dirinya.


"Kamu buta, tapi pintar merawat diri, Nona," puji Arzen sempat-sempatnya.


"Tolong hentikan, aku hanya ingin hidup tenang. Datang kesini untuk bertemu orang tua ku, tapi kenapa, kenapa aku harus bertemu dengan mu, penjahat!" isak Aizhe ingin menggerakkan kakinya untuk menendang, tetapi Arzen yang menyadari itu, mencengkram satu pahanya dan berbisik ke telinganya, "Nona, itu artinya kau sedang dituntun menemui cowok tampan seperti ku,"


"Tidak, lepaskan aku! Aku tak sudi bertemu cowok biadab sepertimu!" seloroh Aizhe marah, namun gejolak aneh yang timbul gara-gara tangan Arzen yang usil, membuatnya lemas.


Arzen tersenyum smirk, perlahan tatapannya menuju ke CD berwarna putih yang menutup akses rudalnya. "Jangan, jangan itu, ku mohon." Aizhe merasakan CDnya dilepaskan dengan kasar dan miliknya dielus nakal oleh dua jari Arzen. "Merah dan empuk, sayang," gumam Arzen mesum.


Aizhe memberontak, namun segera diam tersentak menerima benda aneh di bawah perutnya. "Ahhh, ku mohon, jangan." Aizhe mengerang pelan saat pahanya dibuka lebar dan dipaksa memuat sesuatu yang besar dan panjang di sana. Mulut Aizhe terbuka lebar, sakit dan perih, benda itu merobek segalanya.


Tak perlu dijelaskan detailnya, Arzen sekarang benar-benar memaksa tubuh Aizhe melayani hasratnya sampai darah segel Aizhe menetes keluar.


Tidak hanya itu, Arzen kembali membekap mulut Aizhe dengan bibirnya. "Nona, kau harus ingat, ini pelayanan paling nikmat yang kau terima dari cowok tampan sepertiku. Tak perlu memberiku tarif, karena ini gratis untuk mu seumur hidup." Arzen berbisik nakal, dan semakin mempercepat ritmenya sampai Aizhe benar-benar dibuat lemas hingga tak bisa meronta lagi. Hanya desa-hannya erotis yang terus menjawab ucapan cowok berotak sikopeat itu.

__ADS_1


Arzen pun berhenti, dan dengan senang hati ia menyumbangkan semua nuklirnya ke dalam rahim Aizhe, sehingga gadis itu terbelalak merasakan sesuatu meledak di sana dan juga rasa hangat yang tak pernah dia rasakan. Air matanya, semakin berlinang mengetahui dirinya dinodai dengan cara kejam itu. Tetangga baik yang sering menganggapnya suci, kini, malam ini kesuciannya telah direnggut orang lain. Merasakan sakit yang luar biasa itu, membuatnya tak sadarkan diri, bersamaan Arzen juga sudah selesai.


"Deg"


Arzen kaget, melihat gadis itu pingsan. "Hahaha, saking lelahnya dan nikmatnya rudalku, kau tidur duluan, Nona," tawa Arzen jahat, kemudian ia mengelus paha Aizhe yang basah dan licin akibat keringat mereka berdua. Arzen pun memperbaiki penampilan Aizhe, namun sebelum memakaikan CDnya, cowok berotak sikopeat itu membersihkan area miliknya dan setelah itu mengecupnya sebentar, tak lupa menjilat dengan lembut.


"Baiklah, kamu tidur di sini, sekarang waktunya aku menyiram bensin ini dari gerbong pertama. Baik-baik di sini dan jangan sampai kamu ikut terbakar, aku nggak mau itu sampai terjadi, Nona." Arzen menepuk kepala Aizhe kemudian pergi menenteng empat stok berisi bensin. 


Tak lupa, korek api sudah siap di mulutnya. Berjalan angkuh melewati puluhan box di sebalahnya yang berisi bubuk gan-ja. Ia tanpa rasa takut kini berhadapan dengan masinis di sana yang seorang anggota mafia bertubuh kekar dan bertato sangar. Tak ada pilihan lain, Arzen yang siap dengan strateginya, melawannya sendirian. Bertarung di dalam kereta yang sedang melaju tanpa kendali. Sialnya, gara-gara setengah tenaganya yang terkuras akibat bercinta, Arzen mulai kewalahan dan tak bisa mengimbanginya lagi.


Bughh!


Seseorang terlempar keluar dari gerbong pertama.


"Tuan muda!!" Davis syok melihat kejadian itu. Apalagi api besar berangsur-angsur melahap setiap gerbong kereta yang kini menuju ke gerbong terakhir, tempat Aizhe pingsan. Terlihat seluruh tubuh masinis terbakar habis setelah Arzen berhasil menumpahkan semua bensin sehingga api timbul akibat rokok yang terjatuh dari mulut mafia itu.


"Tuan muda, ayo kita pergi, sebelum kereta itu meledak," desak Davis menarik Arzen yang mendarat dengan selamat ke tanah.

__ADS_1


"Tidak, Davis! Di sana ada seseorang! Aku harus menyelamatkannya! Aku tak mau dia ikut mati!"


Arzen memaksa Davis melepaskannya, tetapi Davis tiba-tiba mematung mengetahui ada orang lain selain cucu atasannya di sana.


"Siapa itu, Tuan?" tanya Davis.


"Aku tak tahu siapa namanya, tapi dia adalah gadis tipe ku!" jawab Arzen lantang dan melihat kereta sudah jauh di sana, sehingga akhirnya meledak hancur. Menerangi malam dengan kebakaran.


"Tidaaaaaaaakkk!" Arzen teriak, memucat tak berdaya. "Pa-padahal dia itu tipeku, tapi malam ini lagi-lagi aku tak mendapatkannya." Arzen pingsan, karena lelah dan syok. Davis menyeret Arzen, pergi segera ke rumah sakit. Sedangkan Aizhe, dia berhasil terlempar keluar dan kini terbaring semakin lemah di balik batu besar. Seluruh tubuh Aizhe seolah lumpuh dengan kepala yang berdarah, membuatnya semakin kesakitan. Gadis buta itu menangis tanpa suara. Sendirian di sana, berteman sepi dan siap menunggu ajal tiba.


"Ya Tuhan, jika memang tak ada kebahagian lagi untuk aku di dunia ini, cabut saja nyawa ku malam ini juga. Bukan karena aku kecewa pada takdir, melainkan aku hanya tak ingin menjadi beban untuk orang lain." Aizhe sudah putus asa. Ia kini hanya dapat bergantung pada sang pencipta.


Ia sedih pada dirinya yang lemah, dan juga kecewa pada Evelin. Nenek yang Aizhe sayang selama hidupnya, ternyata berniat membuangnya. Apakah Evelin sudah senang?


....


🥺

__ADS_1


__ADS_2