
"Hm, kenapa ke sini, sayang?" Aizhe yang duduk di atas tempat tidur, ia menengok ke suara langkah kaki mereka. Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa duduk di depannya.
"Mommy, kami mau tau sesuatu dari Mommy," ucap mereka.
"Hm, apa itu?" tanya Aizhe sambil membelai rambut Arzqa yang menyandarkan kepalanya di atas pangkuannya.
"Mommy, ayo ceritakan pada kami tentang orang tua Mommy," kata mereka. Aizhe diam sesaat dan tersenyum.
"Maaf, Mommy tidak tau, sayang."
"Hm, kenapa tidak tau, Mom? Memangnya Mommy belum pernah bertemu?" tanya mereka merasa sedih mengetahui Ibunya tak mengenal orang tuanya.
Aizhe menggelengkan kepala. "Tidak, sayang. Jangankan bertemu, mendengar suara mereka saja Mommy belum pernah," jawab Aizhe.
"Memangnya Nenek tidak pernah cerita dulu ya, Mommy?" tanya Zee dan Nathan.
"Tidak, Nenek tidak tau juga siapa kedua orang tua Mommy," lirih Aizhe merasakan gemuruh kesedihan di hatinya mulai timbul.
"Kenapa? Apakah Nenek merahasiakannya atau jangan-jangan Mommy….." Mereka berhenti saat Aizhe tak mampu membendung air matanya.
"Mommy…. Mo-mommy…. Itu anak yang dibuang." Aizhe menjawab jujur apa yang ia tahu dari mulut Evelin dulu. Setelah ia melahirkan mereka, Evelin baru jujur jika dirinya dipungut di jalan, dekat tempat sampah. Bayi kemerah-merahan yang sangat kecil dengan mata cacat.
"Maaf, Mommy tidak bisa kasih tahu siapa nenek dan kakek kalian," ucap Aizhe terisak. Perasaannya semakin sakit bila mengingat perkataan Evelin. Mungkin karen dia cacat, Aizhe dibuang begitu saja, atau mungkin Aizhe adalah anak hasil hubungan gelap sehingga kehadirannya tak layak di dunia ini.
Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa maju. Mereka memeluk Aizhe dan minta maaf. Tidak seharusnya mereka membuka luka lama Ibunya. Mereka sadar, derita Ibunya jauh lebih berat dibandingkan hidup mereka dulu yang tanpa sosok ayah.
"Mommy, maafkan kami."
Aizhe tersenyum tegar dan mencium satu-satu kepala anaknya. "Tidak apa-apa, Mommy sudah punya kalian dan Daddy, jadi Mommy tidak sendirian." Mereka balas tersenyum dan mengakui Aizhe adalah ibu mereka yang paling tangguh. Tanpa mereka sadari, dibalik pintu seseorang berdiri dengan kedua tangan yang terkepal. Namun, tiba-tiba, ia kaget saat Ara datang memanggilnya.
"Nenek, dalli mana saja?" Ara datang bersama Katherine dan menghampiri Nyonya Arita.
__ADS_1
"Oh ini, Nenek dari keluar berbelanja, nih ambillah dan bagikan ke saudara mu di dalam," ucap Nyonya Arita memberi bingkisan berupa hadiah kecil tapi dengan harga yang fantastis.
"Yeah, tellima kasih, Nenek. Ala sayang, Nenek." Ara kemudian masuk berkumpul dengan yang lain. Sedangkan Katherine bertatapan dengan mertuanya, namun Nyonya Arita melewatinya dengan acuh. Katherine menunduk lalu mengintip di dalam kamar Aizhe dan keenam anaknya sangat bahagia sekali. Membuatnya kadang iri dan membayangkan dirinya dulu bisa sebahagia itu.
"Huff, sudahlah." Katherine berlalu pergi namun tiba-tiba Nyonya Arita memanggilnya.
"Katherine!"
"A-ada apa, Ibu?" Katherine bertanya lirih.
"Mana Arzen?" Nyonya Arita mencari Arzen.
"Keluar atur jadwal penerbangan nanti sore, Ibu," jawab Katherine.
"Penerbangan? Mau kemana dia?" tanya Nyonya Arita mendekat.
"Em, itu, Arzen ingin membawa istrinya bulan madu, Ibu," ucap Katherine cemas dimarahi.
"Tidak, mereka di sini, Ibu." Katherine menjawab seadanya.
"Oh ya sudah, kalau Arzen pulang, katakan jangan sampai kehilangan Aizhe di sana, paham?" kata Nyonya Arita serius.
"Baik, Ibu." Katherine mengangguk paham.
"Tunggu, Ibu mau kemana lagi?" tanya Katherine mencegahnya menuruni anak tangga.
"Ada urusan di luar, jadi akhir-akhir ini Ibu tak bisa di sini sementara." Nyonya Arita kembali meninggalkan rumahnya. Katherine pun menghela nafas lega dan capek menahan ketakutannya. Tetapi, ia merasa aneh pada nada suara Nyonya Arita yang berpesan kepadanya jangan sampai Aizhe hilang.
Kini, Arzen dan Aizhe pamit berangkat honeymoon. Meninggalkan dan menitipkan keenam anak kembarnya kepada pembantu. Meski begitu, ia harap Ibunya benar-benar berubah dan bisa menjaga si kembar dengan baik.
Namun, tiga hari ini, Katherine malah sering menangis sendiri di kamarnya. Membuat anak-anak Arzen merasa terheran-heran. Tak ada yang nakal, tapi Nenek mereka seperti bersedih dan tertekan.
__ADS_1
Karena penasaran, mereka masuk ke dalam kamar Katherine. "Nenek, kenapa selalu sedih?" tanya Zee dan yang lainnya.
Katherine mengangkat wajahnya dan melihat wajah mereka yang berpaduan dengan Arzen dan Aizhe. Katherine cemberut lalu tersenyum seperti biasa. "Tak apa-apa, Nenek baik-baik saja kok." Katherine tak bisa jujur karena malu bercerita.
"Nenek, ini siapa?" Tiba-tiba Ara dan Arzqa menunjuk foto pria muda di dalam album foto lama.
"Oh ini, dia kakek kalian waktu masih hidup, di sini dia masih murid SMA." Katherine bercerita sedikit.
"Woah, Kakek sangat tampan, Nek!" ujar mereka kagum. Katherine tersipu malu mereka memuji suaminya.
"Tellus, ini pasti Nenek ya!" Ara menunjuk foto seorang gadis cantik dan terlihat agak centil.
Dengan malu-malu, Katherine mengangguk.
"Hihihi, Nenek cantik banget!" puji Zee tak lupa menggombal neneknya.
"Terima kasih." Katherine tersenyum senang. Ia pun mulai menceritakan setiap foto di dalam album. Foto pernikahan, foto awal kenalan, foto berpacaran, foto lamaran dan masih banyak lagi, namun semuanya pun berhenti di foto terakhir dimana terlihat Katherine dan Ericsson memakai jubah operasi. Katherine menutup albumnya dan tak menceritakan maksud foto terakhirnya.
"Nenek, siapa bayi di dalam foto tadi?" tanya Axel sempat melihat ada foto bayi.
"Apa itu, Daddy?" tanya mereka yang lain.
Katherine tersenyum dan tak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Mereka pun paham, dan mengira itu memanglah Arzen. Tapi parasnya agak berbeda.
"Nenek, tadi itu siapa?" tanya mereka sangat penasaran. Katherine menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus panjang.
"Itu anak saya."
....
Beberapa bab lagi akan segera Tamat, ikuti dan dukung selalu author ya, Terima kasih and selamat beraktivitas 🥰
__ADS_1