
"Bik," panggil Arzen pada pembantunya yang selesai membawa Nyonya Arita ke kamar.
"Ya, Tuan Muda, ada apa?" Ia menghadap dan tak berani menatap Arzen.
"Tolong bersihkan dua kamar untuk anak-anak saya," kata Arzen karena enam anaknya berada di kamarnya dan belum mendapat kamar.
"Baik, saya segera membersihkannya." Pembantu secepatnya pergi. Arzen pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat Aizhe duduk bersama mereka di sofa. Terlihat sudah mandi dan berganti pakaian dengan mengenakan baju piyama.
"Daddy!" Ara turun dan berdiri di depan kakinya yang panjang. Saking tingginya Arzen, Ara terus mendongakkan kepalanya. "Hm, apa?" tanya Arzen berjongkok.
"Ala mau tidul di sini, sama Mommy," jawab Ara membuat Arzen menatap Aizhe yang terkejut di sana.
"Untuk malam ini, Ara tidur berdua dengan Ibu kalian," ucap Arzen tiba-tiba menolak. Padahal, itu adalah salah satu keinginannya bisa tidur di samping Aizhe.
"Kenapa? Daddy ndak mau?" tanya Ara murung.
"Daddy mau, hanya saja belum waktunya." Arzen tak mau karena takut melakukan aneh pada Aizhe sebelum mereka menikah. Lima bocah tampan di sana mangut-mangut, paham kata Arzen itu.
"Permisi, Tuan. Dua kamar sudah saya bersihkan, dan sudah siap untuk dipakai," sahut pembantu datang melapor
"Bagus, sekarang bawa mereka ke sana." Arzen menyuruh pembantu menuntun Aizhe dan enam anaknya. Tapi Ara, meraih tangan Arzen yang besar kemudian memohon. Masih takut mimpi buruk. Akhirnya Arzen pun ikut masuk ke kamar Ara dan Aizhe. Sedangkan lima jagoannya, masuk ke kamar yang satunya, dan tidur bersama di sana.
Sambil menunggu Ara tidur, Arzen duduk di kursi, dekat jendela dan sedang menyiapkan kata-kata untuk membujuk Ibunya. "Mommy," panggil Ara kecil.
"Hm, kenapa?" tanya Aizhe yang memeluknya di tempat tidur.
__ADS_1
"Daddy ada di sana?" tanyanya tak menoleh ke Arzen.
"Ada, sayang," jawab Aizhe.
"Hm, bagimana Mommy tau?" tanya Ara. Aizhe tersenyum dan menjawab bahwa ia memakai perasaan sambil meraba dada Ara. "Belalti, Mommy suka Daddy?" tanya Ara tiba-tiba.
Aizhe diam sejenak. "Suka? Hm, sedikit." Aizhe yang masih bingung memastikannya, hanya menjawab seadanya.
"Sedikit? Kenapa ndak banyak, Mommy?" tanya Ara, selalu ingin tahu. "Karena yang banyak itu ada sama kalian," jawab Aizhe mengelus wajah Ara. "Hm, Ala sayang Mommy." Ara kembali memeluk Ibunya dan kemudian tertidur. Mendengar langkah kaki Arzen mendekat, Aizhe menutup matanya.
Ia pikir, Arzen mau tidur di sebelah Ara, namun ternyata sedang menyelimuti mereka. Selain itu, ia juga mendengarnya mengecup kepala Ara dan membelai kepalanya juga. Setelah itu, Arzen keluar. Aizhe menghela nafas lega, kemudian memejamkan mata, namun sulit baginya tertidur karena memikirkan Katherine yang sangat marah padanya.
Nampak, Arzen menuju ke kamar twins cs-nya dan melihat mereka juga sudah tidur di sana. Kini waktunya, membujuk Katherine.
"Ma…"
"Ngapain kesini? Kenapa tidak tidur saja bersama mereka?" tanya Katherine tanpa menoleh dan dengan suara dingin.
"Ma, maaf." Arzen duduk di tepi ranjang. "Memang Mama nggak suka dengan Aizhe karena buta, tapi Ma, Arzen telah berniat untuk mencarikannya mata pengganti. Jadi, Mama nggak usah benci mereka dan nggak perlu malu," kata Arzen. Namun Katherine hanya diam.
"Ma, aku menyukai mereka, terutama Aizhe yang aku cinta sejak enam tahun lalu." Arzen terus mengungkapkan isi hatinya tentang perasaan hatinya pada Aizhe.
"Lalu, kenapa kau tak pernah bilang soal ini sama Mama?" tanya Katherine sedikit melirik punggung Arzen.
"Karena aku pikir dia sudah mati waktu insiden kereta itu, tapi ternyata takdir masih mempertemukan kita, Ma." Arzen menjawab dan tersenyum sendiri di sana.
__ADS_1
"Mama, Arzen harap Mama mau menerima mereka," lirih Arzen sangat berharap. Katherine memeluk bantalnya dan dengan suara berat mengiyakan. "Baiklah. Mama akan coba."
Arzen menoleh cepat, tak terbayangkan Katherine dapat luluh semudah itu? Serius semudah itu, atau ada rencana di balik jawabannya?
'Ck, kau pikir Mama sudah merestui kalian? Heh, Tidak semudah itu membalikkan telapak tangan ku.' Katherine membatin dan diam-diam menyeringai.
"Makasih, Ma." Arzen tersenyum bahagia. "Sudah, sana keluar dan jangan ganggu Mama!"
"Baik, Mama. Selamat beristirahat." Arzen bergegas keluar dengan hati berbunga-bunga. Menuju ke kamarnya. Saat mau membuka pintu, ia mengurungkannya dan berbelok menuju ke kamar Aizhe. Masuk dengan gembira, sehingga Aizhe bisa merasakan kehadirannya itu.
Arzen tidur di sebelah Ara, memandangi Ara dan juga Aizhe di sana. Ia memejamkan mata dan berharap esok akan menjadi awal untuk memulai kehidupan barunya.
Satu jam berlalu, Aizhe yang tak bisa tidur membuka matanya. Meski tak melihat, tapi ia merasakan Ara sedang meringkuk kedinginan di sampingnya. Aizhe duduk, menarik selimut yang melorot ke bawah. Dengan hati-hati, menyelimutinya dan tiba-tiba tangannya diraih seseorang.
"Apa yang kau lakukan hingga meraba dadaku, hmm?" tanya Arzen di sana yang ternyata belum tidur karena memikirkan konsep untuk resepsi pernikahannya.
"Ma-maaf, aku hanya ingin menyelimuti kalian." Aizhe menjawab dengan sangat malu kemudian berbaring kembali.
"Se-selamat tidur," ucapnya membelakangi Arzen dan Ara. Namun tiba-tiba, Arzen dengan cepat berpindah ke sisinya dan mendekap Aizhe dengan hangat.
"Kalau pegang dada saja rasanya nanggung banget, mendingan kau pegang ini," bisik Arzen dengan mesumnya meraih tangan Aizhe dan meletakkannya ke atas miliknya.
"Ihh, jangan sembarangan!" Pekik Aizhe menunduk malu. Arzen tertawa kecil melihat wajahnya merah, ia pun memeluknya dan membisikkan sesuatu. "Aizhe, aku sangat tak sabar memilikimu sepenuhnya." Ciumnya ke pipi Aizhe dengan lembut. "Aku sadar, bahwa selama ini aku mencintaimu." Mengungkapkan isi hatinya langsung. Aizhe diam, tak tahu harus menjawab apa, karena tak mengerti bagaimana mengartikan perasaannya saat ini.
"Tak perlu jawaban dari mu, melihat mu sudah tau, aku sudah cukup senang." Ciumnya lagi dan tepat ke bibir Aizhe dan semakin memeluk tubuh wanitanya. Benar kata Davis, cinta datang kapan saja dan itu sudah Arzen rasakan malam ini. Kini Davis tersenyum kecil melihat pesan dari Arzen yang sudah yakin ingin menikahi Aizhe.
__ADS_1
Hanya pesan singkat, tapi memiliki makna yang dalam. Bukan cuman dua anak manusia yang dipersatukan dari pernikahan itu, ada enam anak yang ikut serta merasakan kebahagiaannya juga. Malam yang dulunya terasa sepi, malam ini sangat beda dengan adanya kehadiran Aizhe dan enam anak kembarnya. Aizhe sangat bersyukur hidupnya mulai sedikit berubah. Tapi itu tak terasa lama saat Katherine mulai bermuka dua.