
"Karena saya sudah mengobatinya, sekarang saya mau pulang." Victor membereskan tasnya..
"Tidak mau ikut main bola dulu, Om?" tanya Axel.
"Tidak, saya hari ini agak sibuk," tolak Victor.
"Bilang saja Om penakut, huuuu." sahut Ara balas meledek.
"Om Doktell takut kalah sama Daddy," soraknya lagi di pundak Arzen.
"Ho'oh, bilang saja kau tidak tau main bola," sambung Arzen mengejek juga. Anak dan Ayah sama-sama punya sifat menyebalkan!
"Om, ikut main saja. Nanti kita ajarin tendang bola," ajak Zee dan Nath. "Yah benar." Axel dan Arzqa mengangguk.
"Loye yakin, Om pasti jago main bola!" teriak Chloe di dekat Aizhe yang cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar anak dan suaminya mengganggu Victor.
"Ikut saja lah, Dokter." Erina juga ikut memaksa.
"Nanti calon suami saya yang satu tim denganmu," tambahnya menunjuk Davis, meski sudah berumur 30 tahun lebih, tapi tenaga Davis tak bisa diremehkan. Dia dulu adalah sang juara di segala bidang olahraga.
"Wah, ini nggak adil dong!" celetuk Arzen.
"Hm, apa yang tidak adil?" tanya Aizhe dan Katherine.
"Coba hitung siapa saja yang main, semuanya ada sembilan, anggota kurang satu dan nggak ada yang jadi wasit," jelas Arzen. Semuanya pun saling menatap.
"Berarti kurang dua orang, gitu?" tanya Erina.
Arzen dan lima anaknya mengangguk.
Seketika Ara turun dari pundak ayahnya kemudian lompat di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Ala! Ala mau main juga! Ala bisa tendang bola," pinta Ara kemudian melihat Erina yang tertarik juga.
"Nah, sekarang gimana kalau Ara jadi wasitnya, terus biar saya yang ikut main. Saya dulu suka main futsal." Sebelum masuk ke dunia Entertainment, Erina merupakan gadis tomboy dan suka berantem dengan laki-laki. Davis sampai tertegun mengetahui masa lalu calon istrinya. Ia pikir Erina sudah anggun sejak dulu, ternyata punya sisi bar-bar.
Karena ditunjuk menjadi wasit, Ara pun hanya bisa patuh. Ia duduk di antara Aizhe dan Katherine sambil mengamati permainan dua tim di depannya. Tampak Arzen satu tim dengan Victor, Axel dan Zee. Sedangkan tim lawan diisi oleh Davis, Arzqa, Nath dan Chloe. Sementara Erina, karena dilarang oleh Davis, artis cantik itu akhirnya duduk manis di samping Katherine.
Terdengar kelima anaknya ricuh di dalam permainan. Mereka bermain dengan lincah dan tangkas sampai membuat tiga pria dewasa itu diam terpana melihat permainan mereka yang memukau. Baru lima anak saja sudah bisa menguasai permainan, bagaimana jika setengah lusin lagi? Mungkin bisa menjuarai pertandingan olahraga ini ke tingkat internasional.
"Nenek, mau kemana?" tanya Ara melihat Katherine berdiri.
"Mau ambil cemilan untuk kalian," jawab Katherine lalu masuk untuk menyuruh pembantu menyediakan jamuan manis untuk mereka.
Ara pun kembali mengamati permainan di depannya yang sudah berlangsung dua puluh menit. Sedangkan Erina diam-diam melirik Aizhe yang dengan sabar duduk menemani Ara.
"Mereka anak-anak yang hebat, bukan?" ucap Erina pada Aizhe.
"Aku kagum dengan didikan mu," tambahnya memuji Aizhe.
"Hm, Tante juga kagum pada kalian yang cerdas dan baik menjaga Ibu kalian. Kalian semua anak yang berbakti dan lucu-lucu," balas Erina memuji Ara dan lima saudara kembarnya.
"Terima kasih, Nona Erina. Anda juga wanita yang baik." Aizhe membalas pujiannya, dan merasa senang Erina bukanlah wanita jahat dan ia sosok artis yang berkelas.
Erina sedikit tersipu dan pada akhirnya hubungan mereka terjalin dengan baik. Tiba-tiba Aizhe terkejut saat Erina mengatakan sebuah permintaan.
"Bagaimana, apa kau mau?" Karena Ara sedang fokus menonton, Erina mengajukan permintaan yang berisi perjodohan dengan anak mereka.
"Walau ini terlalu cepat, saya ingin sekali punya hubungan lebih dekat dengan anda, Nona Aizhe." Erina yang tahu Aizhe adalah cucu utama, ia ingin membentuk ikatan keluarga pada Aizhe di masa depan.
"Kalau begitu, siapa yang kau sukai diantara kelima anak kami? " tanya Aizhe.
"Dia, anak yang bernama Zee." Erina menunjuk anak keempat Arzen. Aizhe pun tersenyum dan menerima kesepakatannya. "Akhh, makasih, calon besan." Erina memeluk Aizhe yang sangat baik. Namun pelukannya terlepas saat mereka berdua mendengar teriakan Arzen yang marah di sana.
__ADS_1
"Victor! Tendang bolanya yang benar dong!"
"Lihatkan, kita kalah poin lagi!"
"Ck, menyebalkan satu tim dengan mu."
Arzen frustasi karena tim lawan selalu mencetak gol. Katherine yang datang membawa cemilan dan minuman manis, hanya geleng-geleng kepala.
"Lah, ini juga salah anda, Tuan Arzen. Saya sudah semaksimal mungkin mainnya, tapi anda selalu menguasai bola dan jarang mengopernya pada saya, jadi ini bukan salah saya sepenuhnya," protes Victor dan melihat tim lawan berjoget-joget di depan gawang.
"Hei, anak manis, siapa yang menang?" Mereka memanggil Ara. Ingin tahu langsung dari sang wasit. Ara turun dari kursi dan mendekati bola di depannya. Ia mengambilnya lalu garuk-garuk kepala.
"Siapa yang menang, sayang?" tanya Aizhe. Katherine dan Erina pun juga penasaran.
Ara cengengesan dan menjawab, "Ndak tau. Mungkin Daddy."
Rahang Davis, Nath, Arzqa dan Chloe hampir jatuh mendengar keputusan wasit. Kali ini yang bersorak ria adalah Arzen, Axel, Zee dan Victor.
"Akhhh, ini curang namanya tau!" Tim Davis menggigit bibirnya, diakui kalah oleh Ara.
"Ya sudah, kita main lagi!" kata Chloe yang tak terima. Namun, bolanya malah dicuri Ara. "Hihihi, sekallang Ala yang main."
Semua mata melotot pada Ara yang tidak menendang bolanya melainkan dilempar ke atas. "Ara, kasih bolanya sama kita!!!" panggil lima kakaknya mengejar.
"Hahaha… Ala ndak mau, ayo sini ambil sendilli." Ara yang berlari, benar-benar menyebalkan. Saking nakalnya, bola yang harusnya masuk ke gawang justru nyasar ke atas genteng lalu terlempar ke pohon hingga akhirnya nyangkut di sana.
"Daddy, bolanya ambil dong!" Tiga pria dewasa itu menepuk wajah. Tak habis pikir satu anak ini dapat membuat mereka frustasi. Kalau saja mereka berjiwa mafia, Ara sudah dijual ke orang lain. Meskipun begitu, mereka tak akan tega pada gadis yang menggemaskan itu. Belum juga jadi istri orang, Ara sudah membuat mereka pusing tujuh keliling.
…
Untung cuma satu anak yang nakal ya pak ceo 🤭
__ADS_1