
Semenjak malam itu, Katherine sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan kehadiran Aizhe dan enam anak kembarnya. Dalam pertemuan antara teman-temannya pun, Katherine sering kali memamerkan enam cucunya yang menggemaskan dan lucu. Hingga mereka merasa iri dan dengki karena Katherine dikaruniai cucu yang banyak dari Aizhe dan Arzen. Sementara Nyonya Arita, untuk kali ini tampak sering keluar tanpa alasan jelas. Seperti ada yang ia lakukan di belakang Arzen dan Katherine. Entah apa itu, tetapi yang jelas ini ada hubungannya dengan tes DNA.
Siang ini, di rumah besar Presdir Neo, terlihat Ara sendirian berlari cepat mencari Ibunya.
"Mommy! Mommy!" Ia masuk ke dalam kamar dan memanggil Aizhe yang bersama Chloe dan Axel yang sedang belajar.
"Hm, kenapa lari-lari, sayang?" tanya Aizhe mendengar nafas Ara yang ngos-ngosan.
"Mommy, Kak Loye, Kak Asel! Sini, kita nonton balleng!" Ara menarik kedua tangan Kakaknya.
"Hm, nonton apa?" tanya Aizhe ditarik berdiri juga.
"Mommy, lupa ya? Halli ini Kak Zee, sama Kak Natan ada di telepisi," kata Ara dengan semangat api karena dua kakaknya akan tampil kembali di acara Y-Show dengan Erina. Tak lupa mereka dijaga oleh Davis. Sedangkan Arzen, sibuk mengurus hal lain di perusahaannya dan mencari donor mata untuk istrinya.
"Yeahhhh! Ayo kita tonton, Mommy!" Axel merasa senang karena dua adiknya sangat beruntung bisa terkenal lewat acara TV. Sedangkan Axel, ingin populer dengan caranya sendiri yaitu dengan menjadi chef yang hebat. Sementara Arzqa, ia sekarang berada di samping Arzen karena memohon untuk mengajarinya berbisnis. Untuk Chloe, masih ingin di samping Ibunya hingga tak memilih pekerjaan dulu.
Aizhe dengan bahagia pergi ke ruang TV. Tanpa melihat tampilan di layar pipih persegi dan besar di depannya, Aizhe masih bisa mendengar suara Zee dan Nath yang berakting di dalam Drama bersama Erina.
Ara sampai bersorak-sorai di tengah-tengah Chloe dan Axel. Ia senang melihat akting kedua kakaknya yang lucu. Apalagi kalau sedang bercanda dan memperodikan aktor komedian.
__ADS_1
"Ara, jangan lompat-lompat sayang, nanti jatuh," ucap Aizhe juga senang bisa mendengar pekerjaan kedua putranya berjalan lancar dan ia juga khawatir pada Ara yang sangat heboh dan aktif. Benar saja, gara-gara terlalu riang, kaki Ara tersandung pinggir sofa.
"Akhhhhhh!" jeritnya kaget, membuat Aizhe berdiri dan panik. "Ara, kamu kenapa sayang?" tanyanya cemas. Namun sedetik kemudian, ia diam saat Chloe dan Axel bicara.
"Mommy, jangan kawatir, Ara baik-baik saja. Itu dia ditangkap sama Nenek," kata mereka menunjuk Katherine.
"Makasih… Ma-mama." Aizhe membungkuk setengah badan dan dengan sopan berterima kasih.
"Mommy, jangan cemas, Ala ndak apa-apa, hehe, maaf," ucap Ara setelah turun dari pelukan Katherine.
"Ehem, apa yang kalian tonton sekarang?" Katherine bertanya dan sedikit merasa canggung. Sedangkan Aizhe merasa lega karena Ibu mertuanya tidak memarahi Ara yang berisik.
"Nenek, ayo duduk sini. Kita nonton sama-sama, tellus lihat Kak Zee sama Kak Natan di telepisi." Ara menarik tangan Katherine duduk di sofa. Sementara Axel dan Chloe tak percaya adiknya sudah akrab dengan Katherine.
"Ba-baik, Nek!" Axel dan Chloe duduk di tempatnya, sedangkan Aizhe ditarik oleh Ara dan duduk di samping Katherine. Aizhe sedikit gugup karena ini pertama kalinya Katherine tidak menjaga jarak dengannya. Aura Katherine benar-benar kuat dan memang layak menjadi menantu Nyonya Arita karena keduanya sama-sama memiliki watak yang keras dan tegas, serta ketangguhan dan kesetiaan yang tinggi.
Ketiga anak kembarnya mulai fokus menonton. Sedangkan Katherine sibuk memandangi wajah Aizhe dan menantunya tersebut pun sadar kalau dirinya sedang diperhatikan.
"Itu, kenapa Mama lihat-lihat saya? Apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Aizhe merasa tidak nyaman. Dengan perasaannya, ia bisa merasakan Katherine terus menatapnya.
__ADS_1
"Hm, tidak, saya hanya berpikir, memang pantas Arzen tergila-gila denganmu, kau punya keunikan sendiri. Kau cantik, manis, sabar dan juga tangguh," ucap Katherine tiba-tiba memujinya.
"Te-terima kasih, Ma-ma juga cantik dan hebat." Katherine sedikit tersipu pujiannya dibalas oleh Aizhe.
"Hm, bagaimana kau tahu saya cantik?" tanya Katherine dan tak sadar ketiga cucunya mulai beralih mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Saya merasakan melalui aura Ma-ma." Aizhe menjawab dan menunduk, antara malu dan takut salah bicara.
"Ternyata kau pandai juga merasakan aura seseorang, tapi kalau begitu, apa kau tau arti dari aura setiap orang lain yang kau temui??" tanya Katherine merasa kagum dengan kemampuan Aizhe yang peka terhadap auranya.
"Saya tidak begitu yakin, tapi saya tau bagaimana aura gelap dari orang jahat," ucap Aizhe. Ara, Axel dan Chloe saling bertatap muka, mereka terkejut menyadari kelebihan Ibunya yang langka.
Katherine tersenyum tulus dan meraih kedua tangan Aizhe, membuat menantunya sedikit terkejut mendengar permintaan maafnya. "Aizhe, memang perbuatan Ma-mama waktu itu sangat kejam, tapi Ma-mama tidak ada niat untuk membunuh mu dan Ma-mama melakukan itu karena belum bisa menerima kenyataan Arzen yang sudah memiliki anak. Tapi sekarang, Mama sudah ikhlas dan mulai sadar kalau kehadiran kalian cukup berpengaruh besar di sini. Mama sudah tidak merasa kesepian dan juga Mama kagum pada kesabaranmu. Kau menantu saya yang hebat. Maafkan Mama, sayang."
Air mata Aizhe tiba-tiba berlinang sendiri, ia merasa terharu dan tersentuh dengan pernyataan Ibu mertuanya. Entah kenapa, hatinya merasa sangat bahagia. Rasa sakit dan luka di hatinya dan di jarinya seperti hilang seketika hari ini. Katherine menarik pundak Aizhe dan memberinya pelukan pertama kalinya. Hangat dan nyaman seperti berada di pelukan sangat Ibu.
"Mama….." Aizhe menangis dan tangisnya pecah di bahu Katherine. Suasana hati terasa damai melihat mereka berdua saling memaafkan dan saling menerima satu sama lain. Axel dan kedua adiknya juga merasa bersyukur dan terharu. Tak lupa, Nyonya Arita yang tak jauh dari mereka, ia tampak tersenyum lalu pergi tanpa menegur sapa mereka.
"Nyonya, anda mau kemana siang ini?" tanya pembantu tak sengaja berpapasan.
__ADS_1
"Saya masih ada urusan di luar. Katakan saja pada Arzen, malam ini saya menginap di sana."
"Baik, Nyonya." Pembantu pergi mengantar Nyonya Arita ke mobilnya. Tujuan Nyonya Arita sungguh mencurigakan kali ini.