KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 47 Langsung Jadi Suami Tampan


__ADS_3

"Woaaaahhh… ini apa, Om?" Zee dan Nathan menunjuk gedung tinggi dan besar yang berdiri megah di depannya. Papan iklannya pun terpampang indah dan menakjubkan. Menunjukkan sebuah acara Erina yang menjadi host di sana.


"Ini adalah salah satu gedung perusahaan Neo, dan bukan gedung utama. Meskipun begitu, gedung ini tempat pak CEO meluangkan waktunya. Mari kita masuk, sebelum Papa kalian marah." Davis mengajak mereka masuk.


Seketika karyawan berdiri dan menyambut dengan ramah kedatangan mereka. Ada yang tersenyum, melambai ke Ara, dan memuji Aizhe yang beruntung mendapatkan atasan mereka. Akan tetapi, ada pula yang iri dan dengki dibalik senyuman mereka. Davis pun menyuruh Aizhe dan tiga bocah cilik atasannya masuk ke elevator.


"Ahh, Mommy!" Ara memeluk kaki Aizhe karena elevator bergerak naik. "Om, kita mau kemana?" tanya Zee dan Nath takut. Pertama kalinya naik memakai itu.


"Kalian tak perlu ketakutan, ini namanya lift. Alat cepat menuju ke lantai atas, tepatnya ke ruang ayah kalian," ucap Davis sedikit lucu melihat ekspresi mereka.


"Apakah tempatnya jauh, Pak?" tanya Aizhe juga cemas.


"Tidak, Nona. Ruangan Presdir cuman terletak di lantai 31 dan berada di lorong lima." Davis menjawab dengan detail.


"Woah, tinggi sekali." Ara gemetar mendengarnya. Sedangkan Zee dan Nath tak sabar memotret ketinggiannya.


Tiba di lorong lima, Davis menunjuk pintu ruangan Arzen.


"Sudah sampai, Om?" tanya mereka bertiga.


"Benar, ini ruangan ayah kalian. Silahkan masuk menemuinya," jawab Davis membuka pintu. Aizhe yang menentang bekal siangnya, masuk sambil digandeng oleh ketiga anaknya.


"Ehem, Pak Presdir. Mereka telah tiba," deham Davis kepada Arzen yang duduk membelakangi mereka.


"Ehem, Tuan muda," panggil Davis lagi, namun Arzen tetap menatap ke arah jendela. Mendengar ada suara dengkuran, Davis maju dan ternyata atasannya sedang terlelap disana.


"Hihihi, Daddy tidull, Mommy." Ara tertawa melihat Arzen tidur dan terlelap di sana dengan wajah yang lelah.


"Pak Davis, sekarang bagaimana? Apa saya bangunkan saja?" tanya Aizhe meletakkan bekalnya di atas meja.


"Sebaiknya ditunggu saja, Nona. Soalnya, kalau dia tidur dan dibangunkan secara tiba-tiba, kadang ngamuk seperti Gorilla," jawab Davis karena pengalaman.


"Kalau begitu, Om bawa kita jalan-jalan dong," rengek Zee dan Nath. "Hm, Ala juga mau!" ikut Ara merengek.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan Nona?" Davis melihat Aizhe.


"Saya di sini saja, Pak. Siapa tau dia bangun dan mencari saya," ucap Aizhe menolak dan membiarkan tiga anak-anaknya yang melihat-lihat isi kantor.


"Baiklah, anda tenang saja, saya akan menjaga mereka." Davis membawa keluar tiga anak atasannya. "Hm, tanpa aku lihat, ruangan ini rasanya luas dan sejuk. Terutama ada banyak buku di sini. Kira-kira isinya apa ya? Apa novel?" Aizhe menunduk sedih dan menyentuh tangannya yang masih sakit.

__ADS_1


"Huff, tidak, ini sudah cukup." Aizhe sangat ingin melihat, tapi juga merasa ragu. Buta saja, ada banyak yang membencinya, lalu bagaimana jika dia sudah bisa melihat? Apakah akan lebih banyak atau sebaliknya?


Daripada memikirkan hal yang membuatnya terpuruk, Aizhe berjalan dan meraba kaca tebal di depannya. Menghirup udara segar dan menatap ke depan di mana di sana ada gedung lain yang tinggi dan pemandangan yang juga indah. Tapi sayang, hanya gelap gulita yang dilihat Aizhe seumur hidupnya.


Aizhe berjalan pelan dan mulai diam. Merasakan dirinya jauh dari awal tempatnya berdiri. "Bagaimana ini?" Aizhe mundur, takut melangkah ke depan gara-gara membayangkan ucapan pembantu tadi.


"Arzen… Arzen… " panggilnya ketakutan dengan nafas tersengal-sengal. Ia lupa bagaimana kembali ke Arzen.


"Tuan… Arzen, kau di mana?!" Aizhe meraba-raba di udara. Ia mulai panik, tak merasakan keberadaan Arzen dan merasa semakin jauh. Sontak berhenti, saat mendengar langkah kaki.


"Arzen, apa itu kau?" Tapi tak ada suara.


"Si-siapa itu?" tanya Aizhe mundur dan terpojok ke tembok.


"Jangan mendekat! Jangan dekat!" pekiknya semakin panik.


"Hei, tenanglah sayang, ini aku."


Aizhe menyentuh dada seseorang di depannya dan segera memeluk Arzen.


"Hm, apa aku sudah membuatmu takut?" tanya Arzen cemas.


"Tenanglah, kau masih aman di ruangan ku, sayang," hibur Arzen mengecup kepala istrinya.


"Maaf, gara-gara aku, kau pasti terbangun," lirih Aizhe lagi.


"Justru, aku berterima kasih, berkat kau ada di sini, aku tidak melewatkan makan siang, sekarang, semua sudah aman kok." Arzen mengelus punggung Aizhe dan mencium keningnya.


"Sini, temani aku makan siang." Aizhe ditarik kembali ke kursinya. Mendudukkan Aizhe ke kursi kerjanya, kemudian Arzen mengambil kursi lain dan duduk di depan Aizhe.


"Kau tak marah, kan?" tanya Aizhe lagi.


"Tidak, kok. Santai saja. Aku bukan anak kecil yang suka ngamuk kalau bangun tidur," jawab Arzen dan tertawa.


"Berarti, Pak Davis bohong?" tanya Aizhe.


"Hm, memang dia bilang apa soal aku?" balas Arzen bertanya dan penasaran sambil menyuapi dirinya serta sekali-kali menyuapi istrinya.


"Katanya, kalau kau bangun, langsung jadi Gorilla,"

__ADS_1


Uhuk…uhuk …


"Arzen, kau kenapa?" tanya Aizhe cemas. Arzen mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis. 'Sial, si Davis kurang asem! Malah bongkar aib orang!' gerutu Arzen ternyata benar.


"Aku baik-baik saja kok, kau jangan pikirkan perkataan dia. Davis kadang ngawur," kata Arzen dan tak sadar di sisi lain Davis terbatuk-batuk di sebelah tiga bocah yang sedang makan ice krim. Davis sadar, ada seseorang yang membicarakannya saat ini. "Ini pasti, dia yang sudah bangun!" gerutu Davis tau itu atasannya.


"Puff, sepertinya memang benar," tawa Aizhe kecil.


"Hm, benar apanya?" tanya Arzen kepo.


"Benar kalau kau tidak jadi Gorilla,"


"Ya dong, Arzen gitu loh. Sesudah tidur, langsung jadi suami tampan."


"Hahaaaaa," tawa Aizhe geli mendengarnya. Arzen ikut tertawa dan senang melihat Aizhe ceria. Namun seketika, raut wajah Arzen berubah masam melihat tangan istrinya selesai diperban.


"Aizhe, apa yang terjadi pada tangan mu?" Nada suara Arzen pun juga berubah serius. Aizhe menyembunyikan tangannya, dan tak sadar telah memperlihatkannya.


"Aizhe, jawab." Desak Arzen.


"I-ini karena aku sendiri kok," jawab Aizhe terkekeh.


"Bohong, katakan yang sebenarnya," tegas Arzen tak percaya.


"Ini-ini…"


"Apa ini karena, Mama?" tebak Arzen.


"Apa Mama yang melukaimu?"


"Jawab, Aizhe!" Nada suara Arzen meninggi.


Aizhe mengangguk pelan dan segera mengeratkan tangan Arzen. "Jangan, jangan marah, ini hanya luka kecil kok. Jangan marah sama Mama," mohon Aizhe tak mau ada pertengkaran.


"Kecil? Bengkak kayak gini kau bilang kecil? Aizhe, seandainya kau melihatnya, ini-ini bukan luka kecil, sayang. Rasakan sendiri, jari kau bisa diamputasi!"


"Sekarang, kita ke rumah sakit. Lakukan pemeriksaan." Arzen mengangkat Aizhe untuk dibawa segera sebelum bengkaknya lebih parah. Aizhe menunduk dan menahan tangisnya, memang sakit namun Aizhe enggan mengeluh. Itu yang sering dia lakukan, jika ada apa-apa, Aizhe tak mau menceritakan nya ke orang lain dan tak mau membuat orang lain khawatir.


"Arzen, kau tak akan marah sama Mama, kan?" tanya Aizhe masih cemas. Tetapi, Arzen hanya diam karena sedang menahan amarah besar di dadanya. Marah pada diri sendiri karena tak bisa melindungi istrinya. Sementara Katherine, tampak tertawa bebas sambil men scroll layar hapenya menggunakan jari-jarinya yang sehat. Puas rasanya, sudah membuat Aizhe tersiksa.

__ADS_1


__ADS_2