KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
Bab 45 Hanya Setara Pembantu


__ADS_3

"Nek, aku titip Aizhe di sini, kalau ada apa-apa, telepon Arzen secepatnya." Karena hari ini twin cs mau sekolah, Arzen harus mengantarnya dan juga menghadiri rapat paling penting demi kemajuan perusahaannya.


"Hm, Nenek paham. Kalian hati-hatilah di jalan." Nyonya Arita mengangguk paham. Si kembar, mereka berpamitan dengan sopan kepada Nenek besarnya. Kemudian pamit kepada Aizhe, setelah itu menuju ke mobil. Mereka percaya, nenek besarnya bisa menjaga Aizhe.


"Aku pergi dulu, kau baik-baik di sini," kecup Arzen pada kening istrinya. "Hm, iya, tidak perlu cemas." Angguk Aizhe dan mencium tangan suaminya. Setelah pamit, Arzen membawa enam anak kembarnya.


"Bik!" panggil Nyonya Arita.


"Bawa dia ke kamarnya, dan teruslah berada di sampingnya, kalau Katherine datang dan melakukan sesuatu padanya, panggil saya," pesan Nyonya Arita ke pembantunya.


"Baik, Nyonya besar. Mari, Nyonya muda, saya bawa ke atas."


"Terima kasih, Nek, Bik." Senyum Aizhe kemudian mengikuti pembantu. Bersamaan Victor datang. "Selamat pagi, Nyonya." Sapanya ramah.


"Hm, kebetulan sekali, kau datang kemari!" ucap Nyonya Arita.


"Hm, memang ada apa, Nyonya?" tanya Victor.


"Bawa saya ke rumah sakit," jawab Nyonya Arita tiba-tiba.


'Hm, tumben sekali. Padahal beliau sangat tidak suka ke sana, tapi kenapa mendadak hari ini mau ke rumah sakit?' pikir Victor heran.


"Nanti kau juga akan tau setelah saya sampai ke sana, sekarang bawa saya saja," perintah Nyonya Arita.


"Baik, mari ikut saya, Nyonya." Victor dan mantan Presdir Neo itu pun keluar, menuju ke mobil putih di sana. Menyetir dengan kecepatan sedang dan menuju ke rumah sakit.


"Ck, mau kemana lagi si tua bangka itu?" Katherine yang berdiri di dekat jendela kamarnya, mendadak sudut bibirnya terangkat. "Sempurna! Semua orang sudah pergi, dan di rumah ini hanya si cacat busuk itu. Sekarang waktunya menegaskan statusnya di rumah ini." Katherine keluar dari kamar. Tertawa jahat di dalam hati dan memikirkan Aizhe yang menyedihkan. "Memang tak sia-sia dia masuk ke sini, aku punya boneka yang bisa dipermainkan sekarang."


"Uhuk…uhuk…"


"Anda tak apa-apa, Nona Aizhe?" Pembantu menghampiri Nyonya mudanya yang tiba-tiba batuk.


"Tenggorokan saya kering, Bik." Mendengar itu, pembantu paham kalau Aizhe sedang haus.


"Kalau begitu, saya turun ke bawah dulu ambil air untuk anda," ucap pembantu.


"Maaf, kalau saya sedikit merepotkan, Bik," lirih Aizhe.


"Sudah tugas saya di sini, anda tak perlu sungkan untuk meminta bantuan kepada saya, Nona." Senyum pembantu, kemudian keluar cepat sebelum Katherine melihatnya turun.

__ADS_1


Namun, Katherine yang sudah menunggu, akhirnya menuju ke kamar Aizhe setelah melihat pembantu itu masuk ke dapur.


"Bik, apa itu kau?" Aizhe yang buta, merasakan ada yang masuk namun langkah kakinya agak berbeda. Mendadak saja, sesuatu terlempar kearahnya.


"Bik-bik, kau pikir saya ini pembantu? Dasar buta!" caci Katherine yang melemparkan tumpukan baju kotornya ke wajah Aizhe.


"Ma-ma, ada apa kemari dan memberikan semua ini kepada ku?" tanya Aizhe sopan dan sedikit cemas.


"Ck, pake nanya segala! Tau diri dong! Di rumah ini, status kau hanya setara dengan pembantu, bukan seorang istri apalagi menantu saya. Jadi, keluar dan cuci semua itu." Dengan lantang dan nada menakutkan, Katherine menunjuk pintu. Tak peduli seberapa sakitnya Aizhe terima dari perkataannya itu, ia tetap ingin membuat menantunya itu kesulitan.


"Cu-cuci sekarang, Ma?" tanya Aizhe, menahan sakit di hatinya.


"Malah nanya lagi! Yaiyalah sekarang, cacat!" ujar Katherine dan menarik tangan Aizhe agar turun dari tempat tidur.


"Akhh!" jerit Aizhe didorong ke lantai sampai tersungkur.


"Nih, bawa semua dan sikat sampai bersih. Jangan pernah pakai mesin cuci itu, karena saya tak mau barang-barang mahal di sini rusak karena tanganmu!" seloroh Katherine pedas.


"Dan, jangan sampai ada satupun baju saya robek. Kalau saya melihatnya, siap-siap terima resikonya. Paham?" bentaknya arogan.


"Mengerti, Mama." Aizhe mengangguk dan memungut semua cepat. Berdiri dan meraba tembok sambil memeluk pakaian Katherine.


"Dasar pembantu rendahan! Jangan ikut campur!" marah Katherine di samping Aizhe yang jatuh terduduk karena tersenggol juga oleh Ibu mertuanya.


"Ampun, Nyonya. Maafkan dia," mohon pembantu lain, dan melihat Katherine memegang rotan milik Nyonya Arita.


"Maaf? Selama ini cara kerja dia ini tak pernah becus! Harusnya kalian berdua dipecat saja!" bentak Katherine.


'Ya Tuhan, apa dia sengaja mencari gara-gara?' batin Aizhe. Hanya mendengarkan saja, ia sudah tahu sifat asli Katherine.


"Ma-mama, jangan!" Aizhe yang berhasil meraih kaki Katherine, segera memeluk dan menghentikannya sebelum ada suara cambuk terdengar.


Melihat Aizhe di bawahnya yang memohon, Katherine tersenyum smirk. Puas sekali melihatnya tak berdaya.


"Ck, cepat bereskan gelas itu dan jangan ada yang membantu dia. Pergi sana!"


Dua pembantu itu terpaksa pergi membereskannya.


"Dan kau juga, cepat pergi cuci itu!" Tunjuk Katherine.

__ADS_1


"Baik, Mama." Aizhe memungut pakaiannya, kemudian mencari sendiri kamar cucian dan diawasi oleh Katherine dari belakang. Sekejam-kejamnya Katherine, ia masih sedikit khawatir kalau menantunya itu terjatuh dan takut kalau mati ditempat.


"Nih, pakai sabun itu dan sikat semua." Katherine melempar sabun cuci dan juga selang. Aizhe yang buta, sudah paham dan mulai mengerjakan keinginan Ibu mertuanya.


"Sikat yang benar dong!" bentaknya mulai. Padahal Aizhe dengan memakai perasaan sudah yakin mencucinya dengan benar.


"Nih, ada yang kotor! Cuci bersih!" tambahnya lagi dan menendang selang.


"Baik, Mama." Namun percuma saja, tangan Aizhe yang sedang menyikat itu  tiba-tiba diinjak.


"Akhhhhhhh, sakit, Mamaaaaaa." Jerit Aizhe merasakan ujung hak Katherine meremukkan jari-jari tangannya.


"Lemah sekali! Segitu saja nangis! Jangan berhenti, lanjutkan!" bentak Katherine tak peduli. Sosok Ibu mertua yang sangat buruk dan sombong.


Dua pembantu yang diam-diam memperhatikan Katherine di sana, mereka berdua merasa tak tega melihat tangan Aizhe bengkak dan merah. "Awas saja, kalau Nyonya pulang, akan saya laporkan!" gerutunya kesal, sama seperti temannya juga.


"Mama, ini sudah saya cuci. Kira-kira, saya jemurnya di mana? Mama bisa, bawa saya ke sana?" Aizhe berdiri, menenteng keranjang cuciannya yang berat.


"Kau punya mata, kan? Ya udah, sana cari sendiri!" pungkas Ibu mertuanya dan pergi berlalu, meninggalkan Aizhe yang menunduk di sana.


"Nona! Anda mau kemana membawa ini?" Dua pembantu menghampiri Aizhe dan mengambil keranjang cuciannya.


"Sa-saya mau jemur pakaian, Bik." Aizhe menjawab dan menunjuk ke depan.


"Ya Tuhan, ini bukan tempat jemuran, Nona," ucap mereka.


"Lalu ini apa, Bik?" tanya Aizhe dan merasakan angin di sekitarnya yang menghembus sejuk dan matahari yang terasa terik. "Nona, dua langkah lagi anda maju ke depan, anda bisa jatuh ke tanah." Ucapan mereka seketika mengagetkan Aizhe. Ternyata ia hampir terjun ke bawah dan mati konyol dari lantai tiga.


"Ma-maaf dan ter-terima kasih sudah menghalangi saya." Aizhe membungkuk dan merasa bersyukur pada pertolongan Tuhan melalui mereka berdua.


"Nona, tak usah seperti itu. Sebaiknya anda kembali ke kamar dan biar kami yang menyelesaikan ini." Satu pembantu membawa Aizhe dan satunya menjemur pakaian Katherine.


"Ck, hidup hanya merepotkan orang lain, mati saja sana." Cibir Katherine tak sengaja berpapasan dengan menantu dan pembantunya. Ia pikir akan ada teriakan histeris, tapi ternyata dua pembantunya masih sempat menolong Aizhe.


"Tapi untung rumah mewah ini tak jadi angker juga." Tambahnya lagi dan pergi dengan sombong. Pembantu melirik Aizhe karena merasa tangannya digenggam erat. Pasti, sakit dicaci dengan perkataan kejam itu.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya wanita berpakaian maid itu dengan cemas.


"Hm, saya baik-baik saja, Bik." Senyum Aizhe manis dan tetap sabar tanpa mengeluh padanya. Kalau saja ia bisa melihat, rasanya ingin pergi sejauh mungkin dari Katherine.

__ADS_1


__ADS_2