
"Victor, bagaimana keadaan Ibuku?" Victor yang sudah memeriksa denyut nadi, detak jantung dan lain-lain, ia menoleh kepada Arzen yang berdiri di sampingnya.
"Tuan Arzen, seandainya saja saya terlambat datang kemari, Nyonya Katherine sudah tak dapat ditolong. Beruntungnya, anda memanggil saya tepat waktu," ucap Victor.
"Lalu, apa yang terjadi padanya?" tanya Arzen diselimuti kecemasan, bukan amarah lagi.
"Ibumu terlalu berlebihan mengkonsumsi obat selama seharian ini dan hampir mengalami overdosis. Jika itu terjadi, ini bahaya dan harus ditangani secepatnya ke rumah sakit. Tetapi, tak usah khawatir, sekarang nyawanya masih aman, namun hanya saja Nyonya Katherine mungkin akan mengalami demam saat ini. Anda tak perlu panik lagi, ini hanya sementara." Victor menerangkan dan melihat kondisi Katherine telah perlahan kembali normal. Wajahnya tak begitu pucat lagi, detak jantungnya normal dan nafasnya stabil. Hanya menunggu Katherine sadar dari tidurnya.
"Syukurlah, aku lebih takut kehilangan Ibuku daripada hartaku." Arzen mengelus dada. Lega dan mulai tenang. Namun, ketika memperbaiki selimut di kaki Katherine, arah mata Arzen berhenti di luka yang membekas di sana.
"Kenapa, Tuan Arzen?" tanya Victor melihat raut wajah Arzen yang menegang. Sebelum Victor melihat apa yang dilihatnya, Arzen menutup cepat kaki Ibunya lalu berterima kasih kepada Victor. Dalam hatinya, Arzen sudah tau penyebab Ibunya mengkonsumsi obat, yaitu baru saja mendapat kemarahan Arita. Dulu, memang kadang seperti ini, namun Katherine tak pernah senekat itu menelan semua obat-obatan.
"Baiklah, saya kembali ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa, hubungi saya lagi." Sudah menerima bayaran, Victor pulang. Tangan Arzen mulai terkepal kuat-kuat. Melihat Ibunya lemah di tempat tidur, ia keluar dan menemui ketiga anaknya yang tak ikut bersamanya tadi.
Menanyakan dulu kepada Axel, Chloe dan Arzqa.
__ADS_1
"Hm, yah, Dad. Nenek habis dihukum," jawab mereka lirih.
"Daddy, mau kemana?" Ara menahan Arzen dan melihat muka ayahnya yang masam. "Ara, jangan ganggu Daddy dulu." Arzqa menarik adiknya. Membiarkan Arzen bicara empat mata pada Arita yang saat ini berada di balkon lantai dua. Amarah besar tersirat di dalam matanya.
"Hm, Arzen, mengapa ke sini? Ingin menghirup udara segar bersama Nenek?" Dengan tenang sambil menyeduh teh hangat, Nyonya Arita yang duduk sendirian di sana, melontarkan pertanyaan kepada cucunya.
"Nek, aku mau bicara serius kali ini." Arzen berdiri di samping kursi.
"Duduklah, dan tenangkan dirimu. Kau membuat Nenek takut," kata Nyonya Arita seperti paham kedatangan Arzen.
"Lantas, kau kecewa?" lirik Nyonya Arita.
"Ya, aku kecewa, Nek!" ujar Arzen.
__ADS_1
"Meskipun Mama jahat sama Aizhe, aku marah, tapi tidak akan pernah berani memukulnya. Karena aku sadar, tanpa Mama, aku tidak akan ada di keluarga ini." Arzen berdiri kemudian melirik sinis Nyonya Arita yang diam.
"Dan Nenek harus tau, aku berencana akan pindah dari sini dan membawa Ibuku bersama kami. Tinggal di sini, hanya membuatnya terus tertekan. Lagipula, aku bisa membujuk Mama tanpa Nenek."
Nyonya Arita pun berdiri, namun tak menahan Arzen melainkan menengadah ke langit di atas sana.
"Jika kau berani bawa Ibumu dan mereka keluar dari sini, siap-siap saja harta yang kau dapatkan semua itu Nenek sita malam ini juga," ucap Nyonya Arita serius. Ia tak begitu khawatir karena harta yang berlimpah itu masih atas namanya dan Arzen hanya mendapat sedikit dari yang dia hasilkan selama ini.
"Apa maksud Nenek?" Arzen berbalik badan dan tak jadi pergi.
"Simpel saja, kau keluar malam ini dari sini, besok kalian semua jadi gembel di luar sana!"
Arzen semakin mengepalkan kedua tangannya. Melihat sifat asli Neneknya yang lebih arogan dan jahat, Arzen dari awal sudah sadar wanita itu mungkin menjadikan cucunya hanya sebatas alat untuk mengelola hartanya. Dari nada suaranya saja, terdengar tak ada ketulusan. Lantas, bagaimana waktu dia memberi gelar kepada Aizhe. Apa itu tulus atau hanya untuk memberinya pujian dari para tamu? Dia sangat cerdik berakting di depan publik.
Arzen pergi dengan kesal dan tak bisa berkata-kata untuk melawan Arita sekarang. Ini sosok Neneknya yang paling dia benci di masa lalu sehingga hidupnya berantakan. Arzen agak menyesal, seharusnya dia biarkan Arita sakit selamanya daripada kembali seenaknya.
__ADS_1
....
Udah paling galak, paling kejam juga😰🙁