
"Apa yang Om lakukan?" tanya Zee, Arzqa dan Nath di samping Arzen yang sedang duduk di sofa panjang seraya mengotak-atik laptopnya. Sementara Axel dan Chloe, pergi ke dapur untuk menyiapkan sisa sup rendangnya. Ara dan Aizhe, mereka berdua duduk di sofa lain.
"Sedang mengurus sekolah kalian," jawab Arzen.
Ara yang duduk dipangkuan Ibunya tersenyum lebar. "Kami semua pellgi sekolah yah, Om?" tanyanya.
"Benar, sebelum kalian masuk kerja, alangkah baiknya kalian daftar sekolah dulu." Arzen sedikit mengulas senyum manis di bibirnya melihat anak perempuan Aizhe tampak sudah melupakan kasus penculikannya. Memang mental mereka, kuat seperti baja. Pastilah, mental nya dari sang Bunda.
"Tidak usah, Om," sahut Zee tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Nath dan Arzqa kaget. Terutama Ara, Aizhe dan Arzen yang tak menyangka Zee menolak.
"Biaya sekolah kami mahal, kalau kita semua sekolah, nanti—"
"Nggak usah khawatir, Om punya banyak uang. Jangan kan enam anak, puluhan anak bisa Om sekolahkan dengan gratis," ucap Arzen menyakinkan Zee dan sedikit menyombongkan hartanya.
"Seliyus, Om?" ucap Ara tak yakin.
"Ratusan liyus pun Om sangat yakin," kata Arzen tersenyum tipis.
"Kalau kami sekolah, tidak ada yang menjaga Mommy dong." Arzqa melirik cemas ke arah Ibunya.
"Tenang saja, Ibu kalian di sini akan baik-baik saja," ucap Arzen ikut melirik Aizhe. Setiap memandang wajahnya, selalu timbul rasa bersalah di dalam hati Arzen.
__ADS_1
"Tellus, nanti kita pellgi pakai apa, Om?" Ara turun dari pangkuan Ibunya, duduk di antara Arzen dan Zee.
"Tentu saja pakai supir pribadi kalian, Om sudah menyiapkan satu mobil dan telah mengatur seragam kalian. Davis yang akan membawakan semua itu di sini, besok." Jawab Arzen, sambil membelai rambut Ara, gadis kecil itu yang tampak ingin menangis.
"Makasih, Om!" lirih ketiga anak itu tersenyum senang. Arzen balas tersenyum lembut dan melirik Aizhe yang barusan mengusap air matanya.
"Oh, Mommy, kenapa menangis?" sahut Axel dan Chloe datang membawa semangkuk rendang dan sepiring nasi. Meletakkannya ke atas meja lalu mendekati Aizhe yang tampak terharu mendengar obrolan anak-anaknya. Ia merasa, Arzen bagaikan sosok ayah yang sedang menghibur mereka.
"Tidak kok, ini Mommy cuman kelilipan," ucap Aizhe malu. Sedangkan Arzen, sudah paham apa yang dirasakan Aizhe malam ini. "Kakak, kata Om Alezen, kita semua mau sekolah," ujar Ara kepada dua kakaknya itu.
"Sekolah? Sungguh, Om?" Mereka kaget tak percaya.
"Ya, itu tujuan Om datang ke sini." Arzen menjawab, seyakin-yakinnya. "Terima kasih, terima kasih, Om!" Dua anak itu membungkuk setengah badan. Mereka ingin menangis karena akhirnya bisa sekolah seperti anak-anak yang lain.
"Hm, daripada yang kemarin, ini rasanya lebih enak," puji Arzen setelah mencicipi beberapa sendok. Axel yang duduk di sebelah Aizhe, tersipu mendengarnya. Memang bahannya lengkap berkat Davis yang datang memenuhi isi kulkas mereka dan membeli beberapa daging juga.
"Hoamm…. Mommy, Ala mau bobo," ucap Ara menguap singkat. "Zee, Arzqa, Nath dan Loye, tolong antar adik kalian ke kamar. Sekalian juga, tidurlah lebih awal," suruh Aizhe.
"Tapi, nanti Mommy ke kamar bareng siapa?" tanya mereka.
"Nanti biar aku yang bawa Mommy," sahut Axel yang menunggu Arzen.
"Baiklah, jaga Mommy baik-baik di sini." Mereka pun membawa Ara. Meninggalkan Aizhe, Axel dan Arzen di ruang tamu.
__ADS_1
"Oh ya, setelah makan, Om langsung pulang?" tanya Axel pindah duduk di sebelah Aizhe.
"Axel, jangan ajak bicara orang yang lagi makan," tegur Aizhe dengan lembut. Axel cengengesan dan mengangguk paham, "Maaf, Mommy. Asel lupa." Setelah itu Axel memperhatikan Arzen yang tampak sengaja memperlambat dirinya. Hingga akhirnya Axel ketiduran di sebelah Aizhe.
"Tuan Presdir, apakah masih lama? Sepertinya putra saya sudah tertidur. Kalau anda sudah selesai, bisakah anda bantu saya bawa Axel ke kamarnya? Saya merasa tidak enak untuk membangunkannya," kata Aizhe.
"Hm, kau mempercayai saya?" tanya Arzen yang sudah selesai makan.
"Sebenarnya, saya belum yakin, tapi saya sedang mencoba mempercayai anda," jawab Aizhe tanpa rasa cemas.
Arzen tertegun, kemudian menghela nafas pelan. Sifat dan sikap polosnya, masih ada sedikit. "Baiklah, katakan di kamar bagian mana miliknya," ucap Arzen berdiri, mengangkat Axel yang tampak sangat terlelap.
"Di kamar bagian kiri, dekat kamar saya dan Ara," jawab Aizhe ikut berdiri. Sontak, kaget saat tangannya dipegang.
"Nggak usah takut, aku memegang mu agar kau tidak jatuh dari tangga," ucap Arzen ternyata mengkhawatirkannya.
"Te-terima kasih." Aizhe menunduk dan mengikuti Arzen sambil merasakan tangan pria itu yang hangat dan rasanya tak asing.
"Tuan, apakah dulu kita pernah bertemu?" tanya Aizhe di dekat pintu dan mengejutkan Arzen yang tengah membaringkan Axel di samping empat adiknya di sana.
Arzen berbalik badan, menatap Aizhe dengan perasaan deg-degan. 'Apa dia sudah mengenaliku?' pikirnya was-was.
.
__ADS_1
Udah, ngomong aja langsung🥺