KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 35 #Menangis Terharu


__ADS_3

"Om, kita mau pellgi kemana dulu? Mau bawa Ala kemana?" tanya Ara polosnya.


"Hm, kira-kira Ara mau kemana?" tanya Arzen dan melihat-lihat beberapa toko di pinggir kota.


"Hm, makan! Ayo makan dulu, Om!" jawab Ara antusias.


"Puff, Ara lapar ya, sayang?" tanya Aizhe tertawa kecil.


"Hm, Mommy, sedikit, hehe," cicit Ara mengelus perutnya.


Sedangkan Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa menepuk wajah melihat adiknya yang meminta ini-itu. Padahal mereka tak berani menyuruh Arzen, itulah Ara, punya keberanian lebih besar dari mereka. Atau, memang ini karena ikatan batin di antara Ara dan Arzen yang membuatnya se-santuy dan se-gemoy itu?


"Baiklah, kita mampir ke sana."  Arzen telah memilih restoran yang cocok. Tidak ramai dan lumayan menu masakannya disukai oleh anak-anak seperti mereka. Makanan yang tidak tinggi kalori dan lemak.


"Halo, selamat datang, Tuan." Karyawan datang menyambut mereka dengan ramah dan satu karyawan lainnya terkejut kagum melihat lima anak laki-laki itu kembar, terutama mata Ara yang unik. Tak hanya mereka, pengunjung yang datang juga membicarakan mereka, dan menganggap Arzen dan Aizhe sangat muda memiliki anak sebanyak itu.


"Ah mungkin itu adik mereka," katanya begitu di belakang Arzen dan Aizhe.


Karyawan pun menuntun mereka menuju ke meja besar, khusus untuk satu keluarga. "Woah, tempatnya bagus, Mommy," kata Ara duduk di antara Aizhe dan Arzen, sedangkan lima anak laki-lakinya duduk berbaris di depan mereka.


"Silahkan, Tuan dan Nona memilih," ucap Karyawan memberi lima lembar menu hidangan pembuka.


Masing-masing anak sudah memilih, tetapi setelah melihat harganya yang mencapai ratusan ribu, Axel dan empat adik laki-lakinya meletakkan buku menu di depan mereka. Tak bisa memakan hidangan semahal itu.

__ADS_1


"Hm, kenapa, dek?" tanya karyawan. 


"Mommy, mau makan apa?" tanya Ara masih sibuk pilih makanan yang enak untuk perutnya. Aizhe yang buta, ia bingung mau jawab apa.


Melihat mereka diam, Arzen pun memesan semuanya yang ada di buku itu, hingga mulut kelima anak Aizhe menganga. Karyawan pun pergi menyiapkan pesanan mereka secepatnya.


"Om, seliyus beli semua?" tanya Ara mewakili semua kakaknya.


"Hm, iya," angguk Arzen tersenyum.


"Tenang saja, uang Om sangat banyak, nggak akan semudah itu habis hanya beberapa makanan ini," sombongnya dengan mengeluarkan black card yang isinya tak terbatas. Lagi-lagi, Aizhe merasakan perasaan tak familiar dari Arzen.


"Apa itu, Om?" tanya Ara terkejut, kecuali lima kakaknya yang lagi-lagi tercengang di sana. Hanya mereka yang dapat membuat Arzen menunjukkan satu kartu andalannya dari 10 kartu terhebatnya.


"Ini uang, Ara," ucap Arzen singkat, padat, dan jelas.


"Ya, anak manis, dari awal juga Om ini kaya raya," ucap Arzen gemas. "Mau coba pegang?" 


"Mau, Om!" Ara mengambil card itu. Lagi-lagi, Axel dan empat adiknya semakin terperangah, melihat tangan dari adik paling kecil mereka telah menyentuh card itu yang berisi ratusan milyaran juta. Orang-orang juga sebagian heboh melihat Arzen bukanlah orang biasa. Seandainya saja Arzen membuka kacamatanya, mereka pasti akan lebih heboh lagi. Dan bisa saja, ada artikel tentang Presdir Neo berkencang dengan seorang wanita yang memiliki enam anak kembar.


Benar saja, seluruh harga yang dibayar oleh Arzen mencapai puluhan juta. Mereka baru makan, belum membeli apa-apa. Mungkin nanti, dalam seharian ini ada ratusan juta yang dihabiskan Arzen untuk anak-anak kembarnya. Kali ini, Arzen menuju ke toko elektronik yang besar.


"Om, mengapa kita ke sini?" tanya Chloe.

__ADS_1


"Sini, masuk, ada beberapa barang yang mau Om beli." Arzen masuk bersama mereka. Rupanya, ia membeli tujuh handphone baru untuk enam anak kembar Aizhe.


"Woaaaaw, ini untuk kita?" tanya Zee dan Nath terharu. Seumur hidup, barang yang mereka inginkan, telah mereka miliki.


"Hm, nggak usah lihat harganya, lihat niat baik Om saja," kata Arzen menjawab dengan senyuman. Axel menunduk, ia menangis melihat harganya puluhan juta, yang artinya Arzen sudah hampir mengeluarkan uang sebanyak 209 juta lebih.


"Kamu kenapa, Axel?" tanya Aizhe yang dari tadi diam, mulai cemas pada putra sulungnya yang terisak di depannya.


Bukan cuma Axel, yang lainnya juga menangis terharu. Dulu mereka sangat kesulitan tanpa benda itu, sekarang mereka merasa lega ada yang bisa dipakai untuk menelpon Dokter. Sekarang tak hanya bekerja saja, anak-anak itu bersedia kerja seumur hidup di bawah perintah Arzen.


"Nggak usah cemas, mereka menangis karena senang," ucap Arzen pada Aizhe. "Oh ya, ini juga untukmu," lanjutnya meletakkan Premi Berry-4S yang harganya seharga tiga ekor anak sapi. Karena memiliki fitur lacak yang canggih dan tahan banting.


"Nggak perlu, saya nggak bisa pakai itu," tolak Aizhe sadar dirinya tak bisa melihat. Bahkan tak tahu cara memakainya.


Arzen pun diam, baru menyadarinya. "Oh, maaf, aku lupa," kata Arzen sedikit bersalah dan menyimpannya saja ke dalam tas belanjaan.


"Nggak apa-apa. Mendengar anak-anak mendapatkannya, saya sudah cukup bahagia, Tuan." Melihat Aizhe tersenyum, Arzen mengepal kedua tangannya. Perasaannya campur aduk sekarang melihat Aizhe sekuat dan sesabar itu menerima kondisinya. Kalau saja ia berada diposisinya, Arzen sudah mengakhiri hidupnya sejak lama.


"Oh ya, ngomong-ngomong, jika boleh tau, seandainya ada orang yang ingin mendonorkan matanya, apa kau bersedia melakukan operasi mata?" tanya Arzen tiba-tiba, membuat ke-enam anak kembar itu mendongak ke Arzen. Sedangkan Aizhe diam sejenak. Itu pertanyaan yang sulit, karena harus menerima mata dari seseorang. Sementara dirinya, tak mau mengambil kebahagiaan milik orang lain.


"Sa-saya merasa, ini sudah cukup." Axel dan lima adiknya, menunduk sedih mendengar jawaban Aizhe, yang seakan tak mau mencoba operasi mata baru. Padahal mereka sangat bersedia mendonorkan matanya untuk Ibu yang paling mereka sayang.


"Baiklah, mari kita ke toko lain." Arzen mengangguk paham, dan merasa Aizhe belum siap untuk itu. Mereka pun pergi ke toko pakaian paling besar di kota. Tempat para orang kaya dan artis berbelanja. Karena harganya per-pasang, di luar akal sehat. Semua itu karena faktor kesombongan dan gengsi mereka dalam berpakaian. Tak mau penampilan mereka kalah saing dari pengusaha yang lain, terutama pada Arzen si pria sombong nomor 1 di kota. 

__ADS_1


.


Kalau Aizhe udah tahu si Arzen adalah cowok di masa lalu, kira-kira perasaannya gimana ya😥


__ADS_2