
Arzen berhenti, menahan hasratnya yang bergejolak. Ia tak mau menodai Aizhe lagi sebelum mereka menggelar pernikahan. Kini Arzen menghubungi Davis, menyuruh Davis yang mengatur saja urusannya dengan Agency Erina, karena hari ini ia ingin berada di samping Aizhe.
"Baik, Pak." Davis mengerti atasannya itu sedang berbahagia. Benar saja, saking bahagianya, Arzen selalu menempel di dekat Aizhe. Kemana Aizhe berjalan, disitu Arzen berada. Sampai Aizhe mau pipis pun, Arzen ingin ikut masuk wc.
"Jangan, aku mau pipis, jangan masuk," larang Aizhe mendorong dada bidang Arzen.
"Kenapa harus melarang ku? Kita kan pernah begituan, yang artinya seluruh tubuh mu sudah aku lihat," ucap Arzen tak tau malu sambil merangkul pinggul Aizhe.
Aizhe menunduk mendengarnya.
"Tetap saja, jangan," mohon Aizhe. Melihat wajah Aizhe yang memohon, Arzen pun menurut. "Baiklah, kau masuk saja." Arzen sebenarnya cemas, siapa tahu Aizhe jatuh di dalam sana.
"Hm, terima kasih." Aizhe sedikit lega, karena perkataannya mau didengar, tak seperti dulu, Arzen tak mau sedikitpun mendengarnya.
Tapi tetap saja, Arzen membuka pintu dan mengintip Aizhe yang duduk di sana, memandangi paha mulus dan putih yang menggoda. "Hei, jangan ngintip!" tegur Aizhe merasakan kehadiran Arzen.
Arzen segera berhenti dan menyahut, "Aku tak mengintip kok," katanya sedikit terkejut karena Aizhe yang sangat peka dan tau kelakuannya. Padahal dulu, Aizhe sulit merasakan dirinya. Aizhe pun sedikit tertawa, mendengar nada bicara Arzen yang gelagapan dan bingung. Tentu, selama ini, ia sering belajar mengasah pendengaran dan penciumannya agar lebih tajam lagi.
Setelah pipis, Aizhe keluar. "Mau kemana?" tanya Arzen di sampingnya. "Mau masak, anak-anak pasti tak lama lagi pulang dari sekolah," jawab Aizhe.
"Hm, bagaimana kau bisa tau waktunya?" tanya Arzen karena Aizhe tanpa melihat jam bisa mengetahui waktunya masak.
"Aku pakai perasaan." Aizhe menunjuk hatinya. Arzen tertegun kemudian tersenyum. "Kalau begitu, aku bantu masak," ucapnya menarik Aizhe masuk ke dapur.
"Tak usah, aku bisa sendiri. Lagipula, kau itu Tuan Presdir," tolak Aizhe. Arzen cemberut dan langsung mendekap tubuh wanitanya dari belakang. "Seorang Presdir tak hanya pandai berbisnis saja, tapi juga ahli masak di dapur, sayangku." Godanya dan mencium pipi Aizhe yang memerah.
"Sekarang kau duduk di sini, biar aku yang masak, kau tinggal melihat ku," ucap Arzen mendudukkan Aizhe ke kursi.
"Hm, tapi aku tak bisa melihat," keluh Aizhe. Arzen tersadar, sering lupa. 'Nih mulut suka asal bicara tanpa direm dulu!' batin Arzen menepuk mulutnya.
"Aku ikut bantu," mohon Aizhe tak bisa diam saja. Arzen menghembus nafas, terpaksa nurut. "Hm, kemari dan kita masak bersama." Aizhe mengangguk dan senang dituruti lagi.
Tak cuman dituruti, Arzen masak sambil memeluk Aizhe. Presdir yang benar-benar menyayangi wanitanya dan tak masalah pada kekurangan Aizhe yang buta.
"Coba ini, apa rasanya ada yang kurang?" tanya Arzen dan menyuruh Aizhe mencicipi bumbu ayam panggang nya. Aizhe membuka mulut dan menerima suapan Arzen. Ia pikir itu sendok, ternyata Arzen sengaja memberikan jarinya sehingga Aizhe langsung melahapnya.
"Hm, kenapa wajahmu merah? Kau sakit?" Arzen bertanya, melihat Aizhe berpaling.
__ADS_1
"Kenapa pakai jari? Kan ada sendok," protesnya malu.
"Hm, kenapa? Jariku bersih kok, tidak ada kumannya, nih aku jilat sendiri." Aizhe semakin malu karena berpikir mereka berdua telah melakukan ciuman tak langsung.
"Dasar mesum!" sentak Aizhe pergi ke wastafel, mencuci piring kotor. Arzen mengernyitkan dahi, dan bingung kepada Aizhe yang tiba-tiba aneh. "Ehh, padahal aku cuma jilat jari, kenapa dia marah?"
"Hei, apa yang kau pikirkan barusan?" colek Arzen ke lengan Aizhe.
"Jangan ganggu," tepis Aizhe risih.
"Kenapa marah?" Arzen tambah bingung.
"Kau duduk di sana!" Tunjuk Aizhe asal.
"Duduk? Di atas kulkas?" balas Arzen tunjuk.
"Bukan, tapi di kursi!" ucap Aizhe mendengkus.
"Tapi itu bukan kursi," kata Arzen bingung.
"Tapi itu kompor," ucap Arzen.
"Ya udah, pokoknya duduk di kursi!" pekik Aizhe.
"Oke, jangan marah, aku sudah duduk nih." Arzen segera duduk baik-baik di kursi. Aizhe pun memberi satu jempol, kemudian ia lanjut cuci piring dengan mengandalkan perasaannya dan senang bisa memerintahkan Arzen.
"Mau aku bantu, nggak?" sahut Arzen tiba-tiba ada di dekatnya.
"Akh, kenapa di sini? Aku bilang duduk di sana." Kaget Aizhe sedikit menjerit. Saking fokus, sampai tidak sadar Arzen pindah.
"Ini aku duduk kok," ucap Arzen menepuk kursinya dan rupanya duduk di dekat Aizhe.
"Tolong, kau jauh-jauh sana, Tuan," usir Aizhe tak nyaman. Arzen berdiri, mengambil piring kotor, dan membilasnya.
"Kau menyuruhku menjauh, tapi aku tak mau jauh dari mu lagi," katanya membuat Aizhe terpaku.
"Ta-tapi, aku kan di rumah, tidak di luar," lirih Aizhe sedikit gugup.
__ADS_1
"Walau di rumah dan jarak kita hanya 1 inci, tetap saja aku tak mau jauh darimu," kata Arzen serius.
"Bahkan jika kau ada di depan ku, aku tetap khawatir," lanjutnya berdiri di belakang Aizhe, mengambil kedua tangannya dan membilas piring bersama. Tak mau jari wanitanya lecet. "Te-terima kasih, Tuan." Aizhe menunduk, merasakan perasaannya aneh. Antara mau senang karena ada yang mencemaskannya dan sedih karena tak bisa melihat bagaimana wajah Arzen. Pria itu benar-benar berbeda dari sebelumnya.
"Hm, Tuan? Kenapa panggilannya itu terus?" tanya Arzen sedikit risih.
"Hm, terus mau dipanggil apa?" tanya Aizhe gugup.
"Panggil sayang dong," bisik Arzen.
"Atau panggil Ayzen-ku," lanjutnya menggoda.
"Sudah tau?" tanya Arzen menunggu.
"Kok cuma mengangguk? Panggilannya mana?" cicit Arzen gemesnya. Aizhe menarik nafas, "Baiklah …." ucapnya sangat kecil sampai tak bisa didengar sama sekali.
"Ha? Sudah? Kok tidak ada?" tanya Arzen.
"Ayo ulang," pinta Arzen.
"Yah, Ayz….ku." Lirih Aizhe.
"Hah? Ay… apa??" Arzen pura-pura tak mendengar apapun. Aizhe meramas ujung celemeknya dan memekik, "Iya, sayang, Ayzen-ku!" Seketika Arzen tersenyum lebar dan ngbluss. Tak sadar, kelakuan keduanya dilihat oleh Axel, Chloe, Nath, Zee, Arzqa dan Ara yang baru pulang. Mereka segera bersembunyi di balik tembok dan menarik Ara sebelum melihat Ibunya dicium oleh Arzen si mesum.
"Hei, kalian dengar barusan? Mommy panggil Om itu, sayang! Dan Om itu sudah—" Zee menunjuk cemas, dan takut Ibunya pindah menyayangi orang lain.
"Bagus dong! Mommy berhasil mendapatkannya!" kata Axel dan Arzqa menenangkan Zee.
"Hm, Kakak lagi bicalla apa?" tanya Ara bingung dan polos.
"Ara, Om itu akan jadi Papa kita!" jawab mereka.
"Ya, dia memang Papa kita,"
"Apa? Papa kita? Serius, dek?"
"Seliyus, hihihi." Ara tertawa melihat ekspresi kaget mereka berlima. Untung jantung masih aman dan sehat.
__ADS_1