
"Rumah baru? Untuk apa? Kita tidak butuh rumah, Om. Kami sudah punya rumah Nenek," tolak mereka.
Arzen diam, sedang mencari alasan yang masuk akal.
"Begini, karena kalian bersedia ikut serta dalam kemajuan Neo, pihak dari perusahaan memberikan tempat gratis untuk kalian," jelas Arzen masih ragu dan belum siap mengatakan yang sebenarnya. Ia takut dituntut ke pengadilan lalu di penjara sesuai hukum pada pasal tentang pele-cehan.
"Woah, Om ternyata baik sekali!" Zee langsung memuji.
"Hah, tak usah berlebihan. Saya tak seperti orang baik pada umumnya," kata Arzen agak canggung mendengarnya.
"Yah, muka Om memang menyebalkan." Aizhe tersentak, mendengar ucapan Axel. Sedangkan Arzen cuma diam saja, sudah kebal dari kata si sulung paling sinis.
"Hihihi, Om saball ya!" Ara terkekeh melihat Arzen tidak tersinggung. Semuanya pun kembali menikmati perjalanan mereka. Aizhe yang hanya diam dan memejamkan mata, ia merasakan ketenangan juga.
Melihatnya dari kaca mobil, Arzen diam-diam tersenyum, senyum yang beda dari senyuman sombongnya.
Tak lama menempuh perjalanan, mobil Arzen tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar. "Ini rumahnya?" Tunjuk Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa. Diam terpana sambil menenteng tas kecil mereka masing-masing.
"Ya, ini rumah kalian,"
"Woah, rumah kami? Kami? Kami, Om?" Enam anak itu menunjuk diri mereka sendiri. "Maaf, sepertinya ini agak—" ucap Aizhe merasa tak enak. Mencium aroma bunga dan hawa sejuk, sudah membantunya mengenali rumah itu besar dan luas.
"Tak perlu banyak menolak, ini untuk kalian." Arzen yang tak seperti dulu, dan sudah waras, ia sadar diri. Sebagai ayah biologis mereka, Arzen tetap memiliki tanggung jawab besar untuknya.
"Terima kasih, Om!!" ujar mereka dengan bahagia, memeluk Arzen sampai terdengar suara, "bedebug"
"Ara, Axel, sayang, sedang apa kalian disana?" Aizhe yang berdiri, mencari arah suara jatuh itu. "Hihihi, maafkan kami, Om!" tawa Ara melihat Arzen jatuh terlentang ke tanah dan ditindih oleh lima kakaknya.
"Puff, kalian terlalu bersemangat sampai menumbangkan Presdir Neo," sahut Davis yang datang mencari Arzen.
__ADS_1
"Hai, Om cipit!" sapa Ara berdiri.
"Hai, Nona kecil, sepertinya hari ini kalian telah mendapat sesuatu yang baru," ucap Davis menghampiri mereka.
"Om, kapan kami bekerja?" Lima anak Aizhe, langsung mengerubungi Davis. "Tuan, anda baik-baik saja?" Aizhe berhasil menemukan lengan Arzen dan membantunya berdiri. "Ya saya, baik-baik saja."
"Maafkan anak-anak saya, Tuan," ucap Aizhe.
"Nggak apa-apa, namanya juga anak-anak ki—"
"Hm, anak-anak ki—siapa, Tuan?" tanya Aizhe, mendengar ucapan Arzen yang berhenti.
"Anak-anakmu," ucap Arzen cepat dan pura-pura batuk.
"Terima kasih, anda memang orang yang baik." Aizhe tersenyum lega, membuat Arzen memegang dadanya yang berdebar-debar karena tangannya sempat dipegang Aizhe.
"Ehem, Pak," deham Davis. Aizhe dan Arzen menjaga jarak, kemudian, "Kenapa?" tanya Arzen.
"Ayo, pulang!" Arzen menarik Davis. Meninggalkan Aizhe dan enam anak kembarnya. "Hm, kenapa semua diam?" tanya Aizhe.
"Mommy, mereka sudah pergi," jawab mereka.
"Yuk, kita masuk, Mommy!" ajaknya lagi.
"Hm, baiklah. Kalian pasti capek, mari kita masuk dan istirahat di dalam." Aizhe berjalan dituntun oleh enam anaknya. Axel yang paling depan, membuka pintu dan semua isi rumah membuat mereka terkesima.
"Woah, mewah sekali!" Takjub mereka melongo.
"Lihat, ini pasti mahal, kalau dijual bisa dapat uang!" Arzqa yang suka bisnis, membulatkan matanya melihat guci besar yang berkilau.
__ADS_1
"Hei, Aska! Jangan asal jual, rumah ini belum pasti punya kita." Zee menegur.
"Tapi, katanya ini sudah jadi milik kita," ucap Nath.
"Meskipun Om itu berkata demikian, kalian tidak boleh menjual properti di sini, sayang," sahut Aizhe menegur semua anaknya.
"Baik, Mommy!" Patuh mereka paham. Kemudian pergi melihat isi kamar lain dan akhirnya, "Akhhhh, empuk banget!" pekik semuanya naik ke ranjang. Melompat, berdendang, salto dan terbang. "Mommy, ini luar biasa!" girang mereka bergembira.
Mendengar kegirangan mereka, Aizhe hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pun meraba dinding, dan duduk di sebuah sofa yang sangat empuk. Sungguh ini tak pernah dirasakan mereka sebelumnya. Jika orang-orang melihat mereka, mungkin sudah dihina kampungan.
"Mommy!" panggil Ara, tetapi—
Enam anak itu turun dan mendekati Ibunya yang ternyata tidur di sofa. Arzqa pergi mengambil selimut, menyelimuti Ibunya dengan hati-hati.
"Huss, kita jangan berisik," ucap Axel.
"Mommy pasti capek sampai tidur duluan," sambung Arzqa terharu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zee dan Nath.
"Ayo, jalan-jalan!" sahut Ara bersemangat.
"Benar, ayo lihat isi rumah ini." Chloe setuju.
Mereka pun keluar. Mengelilingi isi rumah. Masing-masing mengecek semua kamar dan isinya adalah, ruang dapur, ruang kerja yang penuh komputer, dua ruang seni, perpustakaan berisi buku-buku bisnis, dan ruang penuh boneka. Axel, Chloe, Nath, Zee, Arzqa dan Ara, mereka sadar, semua itu seperti telah disiapkan untuk mereka. Axel yang suka masak, Chloe suka komputer, Nath dan Zee suka Seni, Arzqa gila bisnis, dan Ara yang suka boneka. Arzen sungguh tak main-main memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Apa dia sudah bisa diberi gelar ayah yang bertanggung jawab dan baik?
Kini Aizhe di kamar, terbangun dan menyentuh pipinya, merasakan air mata membasahi wajahnya. Aizhe menunduk, sedang menahan suara tangisnya, gara-gara ingatan masa lalunya yang kelam itu muncul di dalam mimpi. "Apakah ini bisa disebut mimpi? Sedangkan aku, sendiri buta dan tak melihat apapun."
"Nenek…." Aizhe meramas ujung bajunya. Mencegah badai di hatinya meluap dan berharap ingatan dirinya yang disiksa dan sempat dibuang oleh Evelin tidak menguasai dirinya. Namun itu ingatan yang mengerikan dan sulit terlupakan.
__ADS_1
…
Bab berikutnya berisi Flashback pertemuan Aizhe-Arzen dan awal kehamilan Aizhe. Harap bijak dalam membaca. Jika tidak kuat membacanya, boleh di lompati dan lanjut ke bab 31. Terima kasih🤗dan maaf bila ada banyak kata salah😥🙏flashback terdiri 6 bab (25 dan 30). Tidak direkomendasikan untuk anak-anak. Like ya supaya Author bisa Crazy update!