
(21+)Harap bijak dalam membaca⚠️
Flashback 10 tahun lalu.
Ia terlahir dengan cacat, buta dan kelahirannya tak diinginkan. Aizhe yang berumur 12 tahun, dirawat dan dibesarkan sejak bayi oleh neneknya, Evelin. Tinggal berdua di apartemen itu sejak lama. Awalnya, hubungan Aizhe dan Evelin baik-baik saja, namun karena cacian buruk dari para tetangga soal Aizhe, membuat Evelin merasa sakit hati.
Sudah hidup melarat, sekarang mulut tetangga memperkeruh keadaannya, hingga Evelin tak tahan lagi. Ia tak membalas mereka, melainkan melampiaskannya ke Aizhe kecil.
"Nenek, Aizhe pulang." Gadis buta itu masuk, membawa selembar kertas di telapak tangannya. Ia meraba dinding dan mencari Evelin.
"Dari mana saja kau, Aizhe?" Evelin yang membersihkan isi meja, bertanya tanpa ekspresi. Karena percuma, gadis buta itu tetap tak bisa melihatnya. Tapi beruntung, Aizhe tak perlu takut dengan wajah Evelin yang keriput dan menyeramkan.
"Dari gali tanah, Nek. Aizhe disuruh sama tetangga gali uangnya yang tertanam di bawah pohon. Setelah itu, Aizhe diberi uang ini. Sekarang, kita bisa beli beras, Nek. Tak perlu makan ubi rebus lagi malam ini." Aizhe mendekat ke suara Evelin, mengulurkan tangannya.
Evelin mengambil tongkat kayu.
Melihat kuku Aizhe kotor dan bau tanah, membuatnya geram.
"Nek, kenapa diam?" Aizhe mulai merasa was-was.
"Aizhe!!" Evelin membentak keras, membuatnya jatuh ketakutan.
__ADS_1
"Ampun, Nek. Aizhe, minta maaf." Belum juga mendengar alasan mengapa Evelin marah, Aizhe sudah memohon dan menangis di sana.
"Dasar bodoh! Bodoh! Lihat ini baik-baik, uang yang kau bawa adalah uang mainan! Mereka hanya mempermainkan kau, Aizhe!" Ternyata, Evelin geram karena Aizhe diperalat oleh orang lain.
"Ta-tapi, mereka bilang ini uang yang bisa beli beras, Nek," isak Aizhe. Memang salah, tapi Aizhe berharap bisa meringankan beban Evelin dengan mencari uang sendiri, tetapi yang ia dapatkan hanyalah hinaan dan tipuan.
"Hiks, maafkan Aizhe, Nenek jangan marah." Aizhe memohon, bersujud dan membenturkan kepalanya ke karpet. Meminta maaf sungguh-sungguh. Evelin menurunkan tangannya, tetapi melihat paras cantik Aizhe yang dibanjiri air mata, membuatnya langsung memukul kakinya.
"Akh, ampun, Nek!"
"AAmpu." Aizhe menjerit kesakitan menerima rasa perih dari tongkat kayu yang memukul kedua betisnya.
"Nenek, Aizhe mohon," lirih Aizhe. Evelin maju, memeluk tubuh kecilnya yang bergetar. "Maafkan, Nenek, Aizhe." Memohon dimaafkan setelah memukul kaki cucunya. Semudah itu?
Aizhe mengangguk, tak bisa marah karena jika ia balas, Evelin bisa saja membuangnya di luar sana.
Kini setelah Aizhe mandi dan mengolesi kakinya dengan obat, gadis buta itu keluar dari kamarnya. Berjalan perlahan sambil mengelus perutnya yang lapar. "Nek," panggil Aizhe pelan. Tetapi tak ada yang menjawab.
"Hm, mungkin Nenek sudah tidur." Aizhe meraba dinding, mencari dapur. Setelah masuk, ia mencari panci dan berharap ada Ubi yang bisa dimakan.
"Hm, kosong? Ubinya habis?" Aizhe bingung, karena siangnya, masih ada sisa ubi rebus. Aizhe pindah, mencari terus, tetapi tak ada apapun. Sayang sekali, jika saja dia bisa melihat, ia sudah bisa menemukan ubi itu ada di dalam rantang yang digantung di atas sana.
__ADS_1
"Uhh, aku minum saja." Aizhe pun menahan laparnya, dan pergi mencari termos. Tetapi isinya, juga kosong. "Hm, apa mungkin Nenek lupa masak air?" gumam Aizhe, pergi mengecek termos lain. Namun, sama saja kosong. "Uhh, Aizhe lapar, Nek." Aizhe mengeluh, jongkok dan menekan perutnya dengan kuat. Lagi, air yang ada, sudah disimpan oleh Evelin juga. Wanita tua itu berdiri di dekat pintu dan tak bersuara. Ia mengamati Aizhe dan sengaja menyimpan semua itu.
Aizhe tersentak, saat tangannya memegang sebuah daun. Aizhe mengambil dan menciumnya itu bau singkong. Aizhe diam, memikirkan sesuatu. Evelin sedikit terkejut, melihat gadis kecil itu melahap daun mentahnya. Aizhe yang sangat kelaparan, memakan daun itu dengan rakus. Evelin maju, ingin memarahinya, tetapi seketika mundur dan berbalik badan dengan tersenyum kecut, bukan dengan ekspresi kasihan.
Esok pagi dan dua hari berikutnya, Aizhe terus seperti itu karena Evelin sengaja meninggalkannya di apartemen. Aizhe makan sayuran mentah dan meminum air kerang karena tabung gasnya habis hingga tak bisa memasak air panas.
Meski begitu, Aizhe mandi, gosok gigi dengan teratur dan tetap merawat penampilannya. Menyisir rambutnya sendiri, menyapu dan mengepel sendiri. Hanya saja, untuk makan, dia cuma bergantung pada sayuran dan air wastafel yang bau. Jika semua habis, ia akan berpuasa sampai Evelin pulang. Hidup merasakan kerasnya takdir, telah Aizhe lalui dengan kekuatannya sendiri.
Evelin pun pulang di hari ke tujuh belas, membawa beberapa uang hasil kerjanya di luar sana. "Selamat datang, Nek." Aizhe berdiri, menyambut Evelin dengan senyum manisnya. Evelin seketika diam, melihat gadis itu masih hidup.
"Aizhe, bagaimana kabar mu di sini?" tanya Evelin mendekat.
"Baik, Nek." Aizhe menjawab cepat. Evelin tersenyum kecut, geli mendengarnya.
"Hm, bau apa ini, Nek? Kenapa baunya seperti darah?" tanya Aizhe duduk di dekatnya.
Evelin menarik tasnya kemudian berdiri. "Aizhe, Nenek bekerja sebagai Dokter bedah, jadi bau darah sudah biasa tercium dari sini. Sekarang ambil ini dan makanlah," ucap Evelin memberikan semangkuk soto.
"Wah, daging apa ini, Nek?" tanya Aizhe tersenyum senang. Ia yang sudah berpuasa selama lima hari akhirnya bisa makan enak. "Daging kuda." Evelin pun meninggalkan Aizhe yang mulai mencicipi soto itu. Ia masuk ke dalam kamar, dengan tersenyum kecut.
…
__ADS_1