
"Bik! Dimana kau!?" Katherine yang tak melihat putranya pulang, memanggil pembantu.
"Ada apa kau teriak-teriak sepagi ini, Katherine?" tanya Nyonya Arita yang duduk di kursi.
"Mengapa anda marah-marah, Nyonya Kathe?" tanya Victor yang datang pagi-pagi seperti biasa.
"Ma, aku cari Arzen. Di kamarnya, dia tidak ada. Mama tau dia dimana?" Katherine dengan sopan menjawab dan mendekat perlahan.
"Tidak, pagi ini dia tidak ke kamar saya juga," ucap Nyonya Arita.
"Bagaimana dengan kau? Kau melihat dia, Victor?" Ia bertanya ke Dokter.
"Maaf, Nyonya, waktu saya ke sini, mobil Tuan Arsen memang tidak ada. Mungkin saja, dia menginap di luar kemarin," tutur Victor.
"Nyonya, maaf … ada apa memanggil saya?" Pembantu datang dengan ngos-ngosan. "Kau lihat Arzen?" tanya Katherine.
"Astaga, maaf, saya lupa memberitahukan kepada kalian. Tuan Arzen kemarin mengatakan akan menginap di luar, Nyonya," jelas pembantu berdiri gemetar melihat sorot mata Katherine merah padam.
"Katherine, sudahlah, berhenti melotot, sekarang tenanglah, dia tidak kemana-mana." Nyonya Arita, menegur Katherine yang mau memarahi pembantu.
"Ck, memang tidak bisa diandalkan lagi." Katherine pergi.
"Tak usah takut seperti itu, masa kerja mu di rumah ini masih lama," ucap Nyonya Arita pada pembantu.
"Baik, terima kasih, Nyonya." Setelah membungkuk sedikit kepada majikan besarnya, pembantu pun melanjutkan tugas cuciannya.
"Victor, apa hari kau ada tugas di rumah sakit?" Nyonya Arita yang telah kembali ke kamarnya, bertanya pada Victor.
__ADS_1
"Untuk hari ini sedang tidak ada, tapi saya berniat ingin mengunjungi seseorang, Nyonya," kata Victor menepikan kursi roda pasiennya ke tembok.
"Seseorang? Siapa?" Nyonya Arita penasaran.
"Hehe, itu, seorang wanita," ucap Victor agak malu.
Nyonya Arita mangut-mangut dan tersenyum paham. "Baiklah, pergi dan temui dia. Berikan kencan luar biasa untuknya hari ini."
"Siap, terima kasih, Nyonya." Victor mengangguk. Kemudian pamit pergi. Tujuannya, adalah ke tempat Aizhe untuk melihat kondisi Ara dan Ibunya. Pergi ke sana, ia tak cuma datang dengan tangan kosong. Victor telah menyiapkan bingkisan berupa cemilan demi lima kakak Ara tak lagi mempersoalkan tentang operasi mata.
Tetapi, apartemen Aizhe terkunci. Victor berdiri dan kebingungan sendirian di depan pintu. "Kemana mereka?" gumamnya celingak-celinguk mencari seseorang.
"Oh, Pak Dokter? Ada gerangan apa anda datang kemari?" Tetangga baik Aizhe datang dan menyahut dari belakang.
"Oh, Bu, maaf. Kemana perginya penghuni apartemen ini?" tanya Victor.
"Pindah? Kenapa tiba-tiba, Bu?" Victor cukup terkejut mengetahuinya.
"Pak Dokter belum tau ya, kalau suami Nak Aizhe sudah kembali dan pergi membawa mereka pindah ke rumah barunya," jelas istri tetangga Aizhe.
"Su-suami? Maksudnya, ayah dari anak-anak itu?" Mulut Victor terasa kaku.
"Hm, benar. Katanya, dia bekerja di perusahaan Neo dan karena barusan orang-orang disini mengganggu Aizhe, Zen membawa mereka pindah," tuturnya menyebut nama seorang pria.
"Zen? Dari perusahaan Neo? Siapa ya?" Victor menyentuh dagu, bergumam dan memikirkannya.
"Kalau begitu, Ibu tau alamatnya?" tanya Victor ingin mencoba mengecek siapa laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya kurang tau, Pak Dokter."
"Hm, baiklah, terima kasih sudah membantu saya, Bu," ucap Victor tersenyum ramah. Tetangga itu pun pergi ke apartemennya. "Huff, padahal sudah aku siapkan ini, tapi mereka sudah pindah." Victor merasa sedih tak sempat melihat yang terakhir kalinya Aizhe dan anak-anaknya.
"Gini nih, kalau ada wanita yang tipeku banget, pasti selalu begini. Ada yang nolak langsung, di php-in, ditipu, janda, sekarang telah bersuami. huff… padahal aku ini tampan dan berkarir, kurang apa coba?" keluh Victor, kemudian terpaksa membawa cemilan itu pergi bersamanya.
"Woah, cantik sekali! Lihat, pohon itu tinggi dan belebunga!" Ara terpukau melihat pemandangan di luar sana. Dari dalam mobil Arzen yang melaju perlahan dan alam yang diciptakan oleh Tuhan, terlihat indah dan sejuk. "Cantik ya, Ara?" tanya Aizhe pada Ara yang duduk di pangkuannya dan hanya bisa merasakan hembusan angin yang lembut dari jendela mobil.
"Hihihi, yah, Mommy!" jawab Ara bahagia. Sedangkan di samping Aizhe, terlihat Nath, Axel, Arzqa dan Zee melihat ke jendela lain. Kecuali, Chloe yang duduk di depan bersama Arzen tampak gemetar, karena Arzen yang sering meliriknya.
"Mommy, kalau bisa melihat ini, pasti sangat bahagia!" kata Ara merangkul Ibunya dari depan. "Mendengar cerita Ara, Mommy sudah ikut bahagia, sayang." Kecup Aizhe pada kening Ara.
"Om, kita mau kemana?" Tiba-tiba Axel bertanya.
"Apakah kita semua mau dibawa ke Neo?" tanya Zee dan Nath.
"Bukan," jawab Arzen singkat.
"Kalau bukan? Terus, kemana Om membawa kami?" tanya Arzqa heran.
"Om, mau jual kami?" Chloe kini menatap sinis ke Arzen.
"Salah," jawab Arzen sesingkat itu lagi.
"Terus, kemana, Om?!" Semua anaknya, bertanya. Kecuali, Aizhe yang diam was-was.
"Ke rumah baru yang akan kalian tempati mulai sekarang ini," ucap Arzen menjawab santai.
__ADS_1