KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 37 #Dia Ayah Anakku?


__ADS_3

"Hei, apa kalian sadar? Dari tadi Om Palesdir itu suka perhatian sama Mommy, apa dia suka Mommy kita?" Nath memperhatikan Arzen menyuapi Aizhe lagi dan salah tingkah.


"Hm, aku juga merasa begitu," kata Chloe dan Arzqa.


"Kalau itu benar, artinya Mommy bisa direbut sama kita!" Zee mulai sedih.


"Jangan sedih dulu, justru kita harus ambil kesempatan ini demi Mommy dan Ara. Kalau Om ini sungguh suka sama Mommy, kita harus jadikan dia sebagai Papa kita!" sahut Axel tiba-tiba.


Chloe terkejut dengan idenya itu. "Jadi Papa kita?" ucap mereka berempat pada Axel.


"Hm, benar. Dia kaya, baik, dan juga tidak pelit! Lagian, kita bisa suruh Om itu bujuk Mommy lakukan operasi mata," kata Axel merasa Arzen cocok jadi ayah mereka.


"Tapi dia sombong," cicit Chloe, Nath, Zee dan Arzqa.


"Tidak perlu dipikirkan, sifat itu bisa berubah kapan saja, kecuali mukanya memang menyebalkan," jujur Axel kadang kesal.

__ADS_1


Akhirnya mereka setuju Arzen menjadi Daddy mereka. Chloe pun yang awalnya ingin mencari siapa ayah mereka, ia telah melupakan itu dan kini berharap Arzen dapat membahagiakan Aizhe dan Ara.


Usai bersenang-senang malam ini, Arzen pun membawa mereka pulang karena Ara, Zee dan Nath sudah sangat mengantuk. Mereka bertiga pun sudah tidur di dalam mobil, kecuali Axel, Chloe dan Arzqa masih melek karena menjaga Ibunya dari Arzen yang bisa saja melakukan sesuatu pada Aizhe. Tapi, Arzen sudah tau isi hati anak-anak itu. Sehingga ia cuman sekali-kali melirik Aizhe di sampingnya.


Sambil menyetir mobil, Arzen terus berpikir soal ucapan Davis. "Aku nikah atau tidak ya?" gumamnya, kemudian melirik ke belakang dan ternyata tiga anak yang tadi sudah terlelap semua di sana.


"Tuan, apa kita masih jauh?" tanya Aizhe, juga mulai mengantuk. Arzen menoleh dan menjawab, "Kalau kau mau tidur, tidur saja duluan. Nanti setelah sampai, aku yang akan membangunkan kalian."


"Baiklah, maaf kalau saya tidur duluan. Saya nggak biasanya begadang," ucap Aizhe meminta maaf dulu.


"Santai saja, nggak perlu khawatir."


Tiba dengan selamat di rumah, Arzen melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam satu tengah malam. Arzen pun keluar membawa satu demi satu anak-anak itu ke kamar mereka karena tak tega membangunkannya. Bahkan Aizhe juga diangkat oleh Arzen. Meletakkan Aizhe yang terlelap dan lelah di samping Ara.


"Kau tau Arzren, sekarang kau terlihat seperti bagian dari mereka," kata Arzen pada dirinya sendiri. Ketika mau berbalik badan untuk keluar dari kamar Aizhe, tiba-tiba Ara mengigau dan menangis jerit di sana. Tampak Ara bermimpi akibat trauma pada penculikannya.

__ADS_1


"Hiks, Mommy, takut," isaknya ketakutan. Arzen segera mendekatinya dan naik ke tempat tidur. Menarik Ara dan memeluknya. "Tenanglah, manis, kau aman," elus Arzen ke rambutnya. Ara membuka mata dan melihat Arzen di depannya. Arzen segera meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya dan berbisik, "Shht, jangan takut, Om adalah Daddy  kalian." Ara mengangguk, dan memeluk Arzen dengan erat. Mulai merasa tenang, gadis kecil itu kembali tidur. Karena dipeluk erat, Arzen tak bisa bergerak. Gerak sedikit saja, bisa membangunkan Aizhe, terpaksa Arzen tidur malam ini, di sana.


Tanpa Arzen sadar, Aizhe yang tidur membelangi mereka, tampak terbangun dan sempat mendengar perkataan tadi.


'Dia adalah ayah anakku? Artinya—'


'Dia cowok jahat itu?'


Saking syoknya, Aizhe tak bisa bersuara dan tidur. Rasa takut dan benci perlahan menyatu di hatinya malam ini. Aizhe menangis, tak sangka cowok yang merebut kesuciannya adalah pria yang mulai ia percayai. Mendengar ada isak tangis di samping nya, Arzen membuka mata. Mengira itu Ara, rupanya adalah Aizhe.


"Hm, apa dia bermimpi buruk juga?"


Tak tahan mendengar tangisannya yang menyakitkan, Arzen pindah tidur ke sisi Aizhe. Aizhe pun terkejut, merasakan Arzen memeluknya. Ia ingin mendorongnya jatuh, namun ia sangat terguncang sehingga hanya meramas kaos Arzen. Tangisnya semakin menjadi-jadi setelah Arzen menenangkannya.


"Tenanglah, kau aman di sini."

__ADS_1


Aman? Setelah dirinya dirusak dengan keji, dia dengan santainya berkata aman? Aman dari mana? Aman dari trauma atau dari kegilaannya? Aizhe menahan nafas dan menjerit dalam hati, sakit dan perih mengingat kelakuan Arzen padanya dulu.


Namun pada akhirnya, Aizhe tidur di dekapan Arzen yang terasa lebih hangat dan erat dari sebelumnya. Ini menyakitkan! Tapi jujur, ia berhasil menenangkannya. Lantas apa yang akan Aizhe pilih? Bertahan atau pergi dari rumah?


__ADS_2