KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 60 Takut Kebobolan


__ADS_3

"Tellus, anaknya mana Nenek?" tanya mereka lagi.


"Sudah meninggal," jawab Katherin lirih dan tampak menahan tangisnya. Seperti tak tega mengatakannya dan nada suara yang terdengar menahan kehancuran hatinya.


"Maafkan kami, Nenek." Mereka minta maaf dan sadar sudah tak seharusnya bertanya lagi.


"Tak apa-apa, itu sudah lama. Sekarang, mari kita turun makan malam."


"Hm, iyah Nek." Mereka berjalan di samping Katherine. Sedangkan di sisi lain, tampak Arzen berdiri di dekat jendela penginapan dan menelpon seseorang.


"Apa sudah ada mata yang tersedia dan cocok untuk istri saya, Dok?" tanya Arzen pada panggilan itu.


"Belum, Pak. Kami belum menerima adanya pendonor, anda bersabarlah sedikit," ucap Dokter yang pernah merawat tangan Aizhe dulu.


"Baiklah, kalau sudah ada, tolong kabarin saya."


"Siap, Pak."


Tuttt….

__ADS_1


Panggilan berakhir dan Arzen pun berbalik badan. Sontak saja, diam membisu karena di depannya ada Aizhe yang ternyata mendengarkan obrolannya dengan wanita lain.


"Itu… tadi siapa?" Tanpa dilihat memakai mata, Aizhe tahu Arzen sedang merasa tegang dan gugup.


"Ah itu, Dokter di rumah sakit, sayang."


"Apa yang kalian bicarakan?" Aizhe merasa curiga ada sesuatu yang dilakukan Arzen di belakangnya dan tanpa sepengetahuan nya.


"Hanya kondisi tanganmu, kok." Arzen tak bisa jujur karena takut Aizhe akan menolak duluan niatnya yang ingin mengoperasikan mata istrinya tersebut.


"Hm, kenapa sedih begitu?" Kali ini Arzen yang bertanya.


"Selingkuh?“ terka Arzen kemudian tersenyum. Ia meraih tangan kanan istrinya dan mengecupnya lembut.


" Nggak perlu dipikirkan hal lain, aku hanya setia dan cinta padamu seorang. Sayangku. " Karena buta, Aizhe pikir Arzen menyukai wanita lain di luar sana.


Aizhe mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Ia memeluk Arzen dan berterima kasih. Tak lupa membalas ucapan Arzen dengan ungkapan hatinya. "Aku juga cinta padamu, Zen."


"Hm, cinta? Kau sudah tidak benci aku lagi?" tanya Arzen sangat terkejut dan merasa sangat bahagia istrinya itu mencintainya.

__ADS_1


"Aku tidak benci lagi, itu sudah lama dan aku sudah sayang padamu."


Bibir Arzen merekah indah dan langsung saja menyambar mulut istrinya yang manis. "I love you, Baby." Kembali mengutarakan isi hatinya. "Love you to, Zen." Balas Aizhe dengan malu-malu.


Arzen segera mengangkat istrinya dan membawanya ke tempat tidur. "Ehhhh…. kau mau apa?" tanya Aizhe kaget bajunya dilepas semua, begitupun Arzen bertelanjang dada di sampingnya. Arzen mendekap tubuhnya dan berbisik, "Memberikan hadiah padamu hari ini, sayang." Aizhe merona habis-habisan. Ternyata Arzen sedang menepati ucapannya waktu beli es krim.


Mula-mula, ia melakukan pemanasan untuk merang-sang Aizhe. Mengullum bibir dan lidah istrinya lalu pindah bermain di dada Aizhe. Kelakuannya tak beda jauh seperti dulu, lebih suka main di gunung kembarnya.


"Ahh, sebentar!" Aizhe mendorong dada kokoh Arzen.


"Hm, kenapa? Kau takut, sayang?" tanya Arzen sudah tak sabar.


"Pa-pakai pengaman dulu." Aizhe takut kebobolan seperti dulu. Siapa tau hanya sekali tembak, bisa menghasilkan anggota sepak bola. Arzen tertawa kecil melihat pipi Aizhe merah, ia menolak dan berbisik akan keluar di luar, namun ujung-ujungnya tetap tumpah di dalam. Hingga Aizhe benar-benar dibuat takluk malam ini. Ia tak berdaya dengan permainan gila Arzen padanya. "Aku cinta padamu, Aizhe… sayangku." Saking cintanya, Arzen lupa waktu gara-gara candu mendengarkan suara istrinya.


….


"Nenek, mau kemana?" Twins Arzen bertanya saat melihat Katherine bersiap pergi. "Mau ziarah kubur, kalian mau ikut sama Nenek?" Katherine berniat datang ke makam suaminya.


"Ayo, Nenek!" Mereka tanpa khawatir, ikut bersama Katherine. Mereka sudah percaya jika Katherine telah berubah baik dan sayang pada mereka. Kalau sampe Katherine berniat menjual mereka, Axel dan Chloe tinggal menelpon Nyonya Arita.

__ADS_1


__ADS_2