
Esok paginya, sesuai jadwal operasi yang telah ditentukan, semuanya pergi ke rumah sakit, kecuali Arita tidak mau karena merasa malu hadir diantara mereka. Malu pada dirinya sendiri dan merasa tidak pantas hadir karena ia sadar kehadirannya hanya merusak suasana hati mereka.
Malam ini, Aizhe pun diminta masuk ke dalam operasi. Tapi, Aizhe merasa takut dan cemas.
“Sayang, jangan takut, aku akan di sini menunggu mu dan mendoakan kelancaran operasi mu. Anak-anak dan Mama juga selalu bersama ku di sini. Kamu harus siap dan kuat. Okeh?” Arzen membujuk Aizhe terlebih dulu.
“Setelah operasi berhasil, katakan saja apa yang mau kamu minta, nanti aku akan menuruti semuanya.”
“Baiklah, aku masuk dulu, tapi kamu jangan pergi ya dari sini,” ucap Aizhe yang sudah memakai jubah operasi.
“Udah, jangan gemetar gitu, semua akan baik-baik saja dan aku selalu di sini. ’Kan aku pernah bilang dulu, aku tidak sanggup jauh darimu.”
Ara dan kelima kakaknya memutar bola mata melihat Arzen sempat-sempatnya merayu Ibu mereka di depan banyak Dokter. Sedangkan Katherine menahan tawa, melihat Arzen sebucin itu pada putrinya. Kalau saja Ericsson masih hidup, sudah mendapat bogem mentah darinya.
Aizhe pun dituntun masuk.
__ADS_1
“Huff…. Bismillah."
Kini, di ruang tunggu, Arzen duduk bersama enam anaknya dan Katherine, sembari melihat jam di tangannya. Tidak hanya menunggu operasi selesai, ia juga menunggu Arita datang. Namun melihat waktu sudah sangat larut, sepertinya Arita benar-benar tidak akan datang.
Axel dan empat adik laki-lakinya, tidur di atas tempat tidur. Sedangkan Ara masih duduk di atas pangkuan neneknya.
“Ara, kenapa tidak tidur saja, hmm?” tanya Arzen.
“Daddy, Ala mawu liat Om Doktel. Dali tadi, Om Doktel ndak pelnah keliatan. Ala mau Mommy liat Om Doktel juga.” Ara ternyata merindukan si Dokter tampannya.
“Ya udah, Ala di sini dulu sama Nenek. Daddy akan coba pergi ke ruangannya.” Arzen berdiri kemudian mencari Victor. Namun, setibanya di ruangan itu, sosok yang sangat membuatnya jengkel tampak tidak ada.
“Itu suster, saya mencari Victor, kemana dia? Tumben hari ini dia tidak ada di sini." Arzen menyentuh dagu dan mengamati isi ruangan Victor. Arah matanya pun berhenti di sebuah foto di atas meja. Foto seorang anak laki-laki yang mirip dengan Victor. “Ck, ternyata dia sudah tampan dari kecil.” Arzen tersenyum kecut, namun seketika, senyumnya hilang setelah suster menjawab.
“Maaf, Pak. Kemarin Dokter Victor mengalami kecelakaan dan sudah meninggal semalam.”
__ADS_1
PRAKH!
Bingkai di tangan Arzen langsung jatuh pecah ke lantai. Ia amat sangat syok mendengar kabar buruk itu. Seakan tidak percaya, pria yang selalu datang menolong keluarganya dikabarkan sudah meninggal. Arzen pun semakin terguncang kala suster itu menambahkan kalimat lagi, jika pria itu juga yang telah mendonorkan matanya pada Aizhe.
Arzen berlari secepatnya mencari dimana Victor berada. Namun petugas yang menjaga kamar jenasah, mengatakan jenasah Victor sudah dipulangkan.
Daddy….
Deg
Arzen berbalik badan dan melihat Ara di depannya menangis. Teramat syok mendengar kabar Dokter kesayangannya tiba-tiba sudah meninggal. Arzen berlutut secepatnya dan segera memeluk tubuh kecil Ara yang bergetar hebat sembari mengusap air mata putrinya yang terus mengalir jatuh mengenai pundaknya.
"Huwaaa…. Daddy, hikhikhik.” Ara meraung-raung di pelukan ayahnya. Victor, pria dewasa yang pertama kalinya, yang dulu memuji matanya unik. Dan sekarang, ia sudah tidak bisa mendengar suara dan senyumnya lagi.
….
__ADS_1
Maaf ya Ara🥺🙏Author korbankan soalnya mau dibuat ke cerita baru. Ini ada hubungannya sama foto yang dipegang bapakmu tadi.
1 bab lagi tamat, jangan lupa like dan bunganya, Terima kasih🌹🌹🌹