KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 44 Anak Haram Kok Dibela


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tak terasa hari pernikahan tiba dan berjalan dengan lancar. Orang-orang di kota telah mengetahui dengan jelas bahwa Presdir Neo sudah menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.  Mereka ikut berbahagia, namun tidak untuk Katherine yang sebaliknya tidak senang. Terbukti di raut wajahnya yang masam dan kecewa.


Selanjutnya, usai para tamu pulang, Nyonya Arita mengajak keluarga barunya melakukan sesi foto bersama. Aizhe dan Ara yang cantik berdiri di samping Arzen yang tampan rupawan. Sementara lima bocah tampannya, mereka berdiri sejajar di samping ayah Ibu dan adik kecil mereka. Serta Nyonya Arita tersenyum lembut dan Katherine yang memasang wajah cemberut. Tangkapan foto yang terlihat indah dan dua pasangan suami istri yang serasi dan penuh cinta.


Akhirnya, mau tidak mau, Katherine terpaksa merelakan impiannya kali ini dan menerima Aizhe sebagai menantunya.


—---—


Matahari mulai muncul di ufuk timur, menyebar sinarnya yang hangat dan menyegarkan. Langit cerah tanpa awan, dan burung-burung bersiul riang di pohon-pohon di sekitar. Udara pagi terasa segar, membuat nafas menjadi lebih mudah dan terasa lebih bersih.


Merasakan ketenangan yang damai, Aizhe membuka kedua netranya. Mencium bau badan seseorang di sampingnya, ia tersadar kemudian menutup wajahnya yang merah dengan selimut. Padahal ia sudah beberapa kali tidur bersama sebelum nikah, tapi sekarang ia merasa malu dan canggung. Aizhe menurunkan sedikit selimutnya, mengeluarkan tangan dan meraba dada Arzen yang polos. Merasakan tubuhnya yang kekar dan otot dada yang lebih kuat dari enam tahun yang lalu.


"Apa dia belum bangun?" gumam Aizhe dan penasaran bagaimana wajah seorang Presdir ketika tidur. Apakah kusut gembel atau tampan seperti pangeran dalam cerita novel?


Aizhe kembali menutup wajahnya, malu membayangkan suaminya setampan dalam novel yang ia dengar dari buku tetangga baik. Karena penasarannya yang tinggi, Aizhe mengeluarkan dua tangannya, meraba wajah Arzen. Menganalisa bentuk alis, mata, hidung, hembusan nafas yang lembut dan terakhir bibirnya yang terasa seksi dan menggoda.


Tiba-tiba saja, bibir itu menggigit ujung jarinya dengan nakal.


"Akhh!" jerit Aizhe, cepat bergeser mundur.


"Puff, aku baru tau, tangan istriku suka meraba-raba sembarangan. Tapi sayang sekali, ia melewatkan si kecil di bawah sana,"  kekeh Arzen yang dari tadi menahan suara agar Aizhe lebih lama merabanya. "Apa kau melakukan itu karena kita yang melewatkan malam pertama di hari pernikahan kita?"


Memang, kemarin Aizhe dan Arzen langsung tidur karena sangat ngantuk dan capek. Mereka sama-sama tumbang dan melewatkan malam bahagia sang pengantin baru.


"Hm, ti-tidak," lirih Aizhe menutup wajahnya dengan selimut lagi dan sangat malu tertangkap basah.

__ADS_1


"Kalau tidak, lantas kenapa kau menggoda ku sepagi ini?" Arzen bergeser maju dan mendekatinya. Membuka sedikit selimut dan melihat muka cantik Aizhe yang merona habis-habisan.


"A-a-a-aku hanya ingin tau bagaimana—"


"Ketampanan suami mu?" tebak Arzen pedenya.


Aizhe menarik selimut dan menutup dirinya lagi. Mengangguk di sana dengan malu-malu. Arzen menahan tawa, merasa istrinya sangat menggemaskan. Sontak, Aizhe membuka selimut ketika merasakan Arzen berada di atasnya.


"Apa yang mau ka-kamu lakukan?" tanya Aizhe was-was. Arzen mengambil tangan Aizhe dan mengecupnya. Setelah itu meletakkan telapak tangan istrinya ke pipi, lalu berkata, "Aku beritahu, suamimu ini adalah pria paling tampan di sini. Saking tampannya, ada puluhan wanita antri untuk merebut hatiku, tapi dunia sekarang tau, hati ini telah dihuni oleh Aizhe Aza Evelin seorang."


Cium Arzen dengan lembut ke bibir istrinya. Aizhe diam, tertegun dan terharu. Hanya kata-kata tetapi, membuat perasaannya meluap-luap. Apakah ini cinta yang sedang menggebu-gebu?


Melihat Aizhe diam, Arzen tersenyum smirk, ingin rasanya melakukan hubungan suami istri sekarang. Mumpung masih pagi dan tak ada yang mengga


Aizhe menahan tawa karena terselamatkan dan lucu mendengar Arzen mengeluh di atasnya.


"Daddy, buka pintu na!" pekik si peri mungilnya lagi sudah cantik membahana di luar sana setelah didandani oleh pembantu.


"Ehem, ada apa kemari tuan putri?" Arzen bertanya dan berdiri di depannya setelah membuka pintu. Dengan memakai jubah mandi, ia melihat putri kecilnya dan lima jagoannya sudah berpakaian rapi.


"Daddy, ayo tulung sallapan," ajak Ara dan merangkul tangan Zee dan Nath. "Mommy kita dimana?" tanya Axel, Chloe dan Arzqa tak melihat Ibu mereka keluar.


"Mandi, Mommy kalian sedang mandi." Senyum Arzen kikuk.


"Daddy sudah?" tanya Ara.

__ADS_1


"Sudah tadi subuh," jawab Arzen. "Seorang Presdir, tak boleh malas-malas bangun tidur, jadi—"


"Jadi, kenapa Daddy tidak ganti baju?" tanya mereka sebelum Arzen mengeluarkan kata-kata mutiaranya yang panjang.


"Oh itu, ka-karena tunggu Mommy kalian bangun," kata Arzen, tentu saja tak bisa mengatakan kalau mau mencetak bibit baru.


"Sudah, sudah, kalian turun duluan. Nanti Mommy kalian nyusul," lanjut Arzen sebelum diserang berbagai pertanyaan.


"Baik, Daddy." Mereka pun turun bersama. "Huff, akhirnya lepas dari mereka."  Arzen segera memakai baju.


Kini Arzen turun, kemudian ia mendudukkan Aizhe di kursi dekat kursinya, karena kalau dekat Katherine, mungkin istrinya tidak dapat jatah sarapan. Namun ternyata, Katherine tiba-tiba berdiri dan memberikan berbagai hidangan ke piring Aizhe.


"Ma, ini terlalu banyak untuknya," tukas Arzen melihat makanan enak itu menumpuk di depan istrinya dan bingung Ibunya tiba-tiba baik.


"Katherine, ini masih pagi, jangan buat keributan," tegur Nyonya Arita di sebelah Ara yang makan bersama lima kakaknya.


"Aduh-aduh, Ibu dan Arzen jangan prasangka buruk dulu, sebagai mertua baik, tentu ingin melihat menantunya sehat. Kalau makan sedikit, terus orang-orang di luar melihatnya kurus kering kerempeng seperti cacing kremi, apa kata dunia? Istri Presdir terlihat menyedihkan, padahal punya harta berlimpah dan hidup bergelimang kemewahan. Ibu dan Arzen bisa malu seumur hidup," tutur Katherine sedikit menyindir dan sengaja memanas-manasi suasana.


"Nah kalian juga harus makan banyak-banyak, jangan jadi anak yang kurang gizi, kalau kalian kurus, saya bisa malu punya cucu jelek, dekil, culun dan idiot," lanjutnya kepada si kembar.


"Ma, tolong berhenti," kata Arzen tak tahan melihat istri dan anaknya dihina-hina seperti itu.


"Katherine, duduk!" ujar Nyonya Arita kesal mendengarnya. Memang niatnya baik, tapi ucapannya itu melukai perasaan Aizhe dan anak kembar enamnya.


"Ihh, Ibu. Baiklah." Katherine duduk dan makan. Sedikit sesal dan juga puas memancing keributan. 'Ck, anak haram kok dibela. Dasar bodoh kalian semua.' Umpatnya dalam hati. Aizhe menunduk, merasakan Katherine sangat membencinya sampai anak-anaknya yang tak ada salah pun menerima semua perkataan kejam itu.

__ADS_1


__ADS_2