
"Om, Mommy sama Daddy dimana?" Ara yang tak melihat orang tuanya, menarik ujung jas Davis. "Mommy, Mommy!" Sedangkan Zee dan Nath terus memanggil Ibu mereka.
"Tuan, Nona kecil, berhenti saja, Ibu dan ayah kalian berada di luar." Mendapat pesan singkat dari Arzen, Davis langsung paham kalau mereka berada di rumah sakit dan demi tiga anak itu tidak resah, Davis tak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Di luar? Kenapa pergi di luar, Om?" tanya Zee dan Nathan cemas. "Ibu dan Ayah kalian sedang berkencan." Terpaksa mencari alasan lain.
"Belencan? Apa itu, Om?" tanya Ara kurang paham.
"Artinya, Ibu dan Ayah kalian lagi jalan-jalan berdua. Jadi kalian tetap di sini dan biarkan kedua orang tua kalian membangun hubungan lebih dekat, paham?"
"Ohhhh… paham." Angguk mereka paham-paham saja.
"Ya sudah, sambil nunggu mereka kembali, bagaimana kalau pergi ke studio?" ajak Davis mumpung tidak sibuk.
"Mau! Ala mau, Om!" lompat Ara setuju.
"Kita udah bisa kerja, Om?" tanya Zee sudah lama ingin bekerja bersama saudara nya. "Ah soal itu, kita tunggu konfirmasi dari ayah kalian. Kalau jadwalnya sudah ditentukan, kalian sudah bisa ikut berpartisipasi ke dalam acara Y-Show yang bekerjasama dengan Nona Erina."
"Hm, Ellina ntuh siapa, Om?" tanya Ara.
"Dia orangnya, artis terkenal yang sedang naik daun selama enam tahun ini. Memiliki banyak penggemar dan film yang mendunia." Jelas Davis menunjuk foto dari hasil pencarian On-tube.
"Om, suka ntuh Olang ya?" tebak Ara tiba-tiba.
"Eh, tidak, Nona kecil. Saya dan dia tidak cocok, lagipula status dan umur kami cukup beda jauh." Davis sedikit salah tingkah menjelaskannya.
"Memang, Om umurnya berapa?" tanya Zee dan Nath.
"Hehe, udah 35 tahun," jawab Davis nyengir.
"Kalau ntuh Olang bellapa?" tanya Ara kepo.
__ADS_1
"25 tahun, lebih tua 2 tahun dari Ibu kalian." Davis menjawab sesuai fakta. Padahal di luar sana, belum ada yang mengetahui pasti berapa usianya dan hanya Davis yang tahu.
"Wah, Om penggemall nah juga ya?" Tunjuk Ara sekali lagi membuat Davis salah tingkah.
"Sa-saya hanya tau dan tidak begitu menyukai dia, Nona," elak Davis malu dan baru kali ini ada tiga anak yang berhasil membuat wajahnya merah.
"Fufufufu… Om bohong!" ujar Ara tertawa geli.
"Tolong, berhenti, Nona. Sa-saya tak tau apa-apa." Davis memohon untuk jangan diungkit. "Ara, udah, Om Davis mulai tidak nyaman tau!" tegur Nath dan Zee.
"Hehe, maaf." Ara membungkuk dengan sopan, kemudian menarik jas Davis. "Om, ayo cepat ke sana!" rengeknya lagi.
"Baik-baik, mari ikut saya." Davis segera menurut.
Kini di rumah, tiga anak sedang menyiapkan sesuatu sambil mengamati Katherine. Chloe mengeluarkan drone mini dengan ukuran 5 cm hasil otodidak. Dengan kejeniusannya, ia memata-matai pergerakan Katherine.
Terlihat Katherine masuk ke dalam kamar, dan tampak senang. "Cih, walau dia Ibunya Daddy, Mommy yang paling utama di hati kita." Chloe sangat benci penindas. Tak peduli muda atau tua, mereka perlu dibalas. Kalau saja ada Zee, Chloe mungkin akan dihentikan oleh adiknya itu.
"Hei, Asel, Arzqa! Apa kalian sudah selesai di sana?" tanya Chloe dalam panggilan darurat mereka melalui handphone mereka sendiri. "Sudah! Bagian ke tiga selesai dan aman!" jawab dua anak itu yang ada di dapur.
"Siap!" Axel dan Arzqa menuju ke tempat Chloe mengintai. Tampak Katherine mendekati meja riasnya dan ingin memperbaiki tatanan rambutnya, namun seketika menjerit saat merasakan sesuatu di kursinya.
"Akhh, apa itu?" Katherine menepuk bantalannya namun terasa empuk. Ia kembali duduk, namun lagi-lagi bokongnya terasa sakit seperti menusuk sesuatu.
"Hihihi," tawa tiga bocah melihat Katherine kesal di sana.
Wanita itupun merobek bantalannya dan ternyata isinya beberapa biji krikil. "Loh, apa-apaan ini? Sejak kapan isinya batu? Kemana kapasnya yang sebagian?" Melihat Katherine kebingungan, tiga bocah kembar itu menertawainya lagi.
"Ck, aku udah beli mahal-mahal, ternyata isinya batu? Apa maksudnya ini? Mereka sengaja ingin membuat bokong saya benjolan?" gerutu Katherine sesal, namun diam sejenak.
"Sebentar, kualitas kursi ini terjamin bagus 99.9%! Mana mungkin mereka memberiku barang jelek!" decitnya tambah kesal. "Apa mungkin ini kerjaan anak-anak itu?" gumam Katherine sebelum memberi 1 bintang ke perusahaan kursi itu.
__ADS_1
"Cih, awas saja, kalau benar, kalian akan tau sendiri akibatnya!" Katherine menendang kursinya hingga tiga anak itu menyadari Nenek mereka mulai marah. Katherine keluar dan menuju ke ruang tv. Mau menonton untuk menghilangkan stress, namun layar tv semuanya error berjamaah.
"Akhh, Bibi!" panggilnya semakin kesal dan jengkel.
"Ya, Nyonya, ada apa?" tanya pembantu.
"Cepat, panggil yang bisa benerin semua tv ini."
"Baik, Nyonya!" Pembantu pergi dan diam-diam tersenyum smirk karena bersekongkol dengan ketiga anak majikannya.
"Cih, mau kursi dan tv, semua barang di rumah ini rusak saja sekalian!" Tendangnya ke depan. Ia pun menuju ke dapur untuk membasahi tenggorokannya, namun lagi-lagi kesialan mendatanginya.
"Akhhh, menjijikkan!" jeritnya ngeri melihat ada 10 ekor cicak jatuh di dalam gelasnya. Katherine lari, benci sama hewan itu. Ia tak jadi minum dan segera mengatur nafasnya yang berantakan. Setelah tenang, ia berteriak lagi. Melengking.
"Bibi!"
"Ya, Nyonya, ada apa lagi?" tanyanya.
"Cepat buang gelas itu!" Tunjuk Katherine geli dan ingin muntah melihatnya.
"Ta-tapi, gelas ini mahal, kalau dibuang, kasian sama harganya," kata pembantu.
"Terserah! Aku tak peduli, mau mahal atau murah, cepat buang!"
"Baik-baik." Pembantu membawa cepat gelas itu.
"Bibi, jangan dibuang," tahan tiga bocah itu datang mencegahnya. "Kenapa, tuan muda?" tanya Bibi heran.
"Daripada dibuang, mending di jual lagi saja! Dapat untung," sahut Arzqa yang suka bisnis. Pembantu diam, mangut-mangut dan memang benar perkataan Arzqa. Kalau dijual, dapat 50 ribu.
Seketika mereka dikejutkan dengan tepuk tangan seseorang.
__ADS_1
"Bagus, kerja bagus. Ternyata ini memang ulah kalian." Senyum Katherine datang dengan raut wajah yg sangat kesal.
"Waduh, kita ketahuan nih." Tiga anak itu berdiri dan nyengir-nyengir di samping pembantu. Sehingga emosi yang sudah menumpuk di ubun-ubun Katherine, ingin rasanya meluap sekarang. Sama seperti Nyonya Arita di belakangnya yang juga memasang wajah masam setelah mendapat foto Aizhe yang ditindas.