KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 40 #Di-dia Papa Kalian


__ADS_3

Siang ini Davis kembali melakukan meeting dengan Agency Erina. Membicarakan Erina yang menjadi host pembawa acara hiburan terbaru mereka. Dalam meeting tersebut, Erina hadir di perusahaan dan ia mencari keberadaan Arzen, namun Presdir perusahaan Neo tak datang bekerja.


"Hm, kata Tante Katherine, Arzen sibuk ngurus acara ini, tapi kenapa dua hari ini dia tak pernah hadir dalam rapat kita?" gumam Erina, mulai memikirkan pria yang dilihatnya kemarin bersama seorang wanita dan enam anak.


"Huh, gara-gara ini aku jadi mikirin tiap hari tuh orang!" Erina menggerutu karena tak bisa fokus mendengarkan instruksi dari sekretaris Davis yang sedang menentukan jadwal kapan mulainya acara tersebut. Tapi beruntung, Davis kembali memberitahukannya di akhir rapat.


"Baiklah, sesuai kesepakatan, jadwalnya dimulai dua hari setelah ulang tahun Nyonya Arita. Dengan rasa hormat dan juga perintah dari Tuan Presdir kami, beliau mengundang kalian untuk menghadiri pestanya," ucap Davis sekalian mengajak mereka datang ke perayaan ulang tahun Nenek si kembar yang diadakan nanti malam. Seharusnya ini disampaikan kemarin lalu. Karena Nyonya Arita sudah lumayan membaik, akhirnya mantan Presdir Neo itu telah resmi mengumumkannya hari ini.


"Baik, Pak Davis. Kami dengan senang hati, akan menghadiri acara beliau." Kata mereka dengan tersenyum, kemudian meninggalkan ruangan bersama Erina.


"Hei," panggil Erina yang menunggu di depan pintu.


"Hm, ada apa, Nona?" tanya Davis.


"Ngomong-ngomong, atasan kalian kemana saja?" tanya Erina ingin tau.


"Maaf, Nona. Saya tak bisa menjawabnya," ucap Davis.


"Loh, kenapa? Ini kan pertanyaan yang mudah, harusnya kau bisa memberitahu ku. Katakan saja," ujar Erina sedikit memaksa.


"Mohon maaf sekali lagi, Nona. Saya tak bisa menjawabnya." Davis pergi dan tetap menjaga rahasia Arzen, sampai Bosnya sendiri yang mengumumkan keluarga kecilnya ke publik.


"Ck, atasan dan bawahan sama saja, dasar sombong!" umpat Erina dan berjalan pergi makan siang.


—--—


"Hei, Victor, apakah nanti kondisi saya akan baik-baik saja?" Nyonya Arita tampak gugup karena merasa takut akan merusak pestanya sendiri.


"Tak usah cemas, Nyonya. Saya sudah memeriksa kondisi anda, semuanya stabil. Kecuali, kalau anda tidak istirahat sekarang, mungkin anda bisa cepat kecapean," jawab Victor usai memeriksa tekanan darahnya.


"Sekarang, istirahatlah, Nyonya." Pembantu membaringkan majikan besarnya. Nyonya Arita pun merebahkan tubuhnya kemudian bertanya kepada pembantunya. "Apa Arzen sudah pulang?" 


"Belum, Nyonya. Dari pagi sampai sekarang, Tuan muda belum pulang," jawabnya sambil menyelimuti majikannya.


"Duh, saya mulai cemas, kemana dia pergi," 

__ADS_1


"Mungkin cucu anda sedang sibuk mencari wanita untuk nanti malam, anda tak usah mencemaskannya, Nyonya Arita," sahut Victor. 


"Ya, mungkin saja begitu." Nyonya Arita menghela nafas panjang. Berharap cucunya membawa pasangan yang tepat.


—----


Mungkin, tak hanya pasangan, Arzen akan membawa enam anak sekaligus ke rumah Neneknya dan satu buah kue besar.


"Daddy!" panggil Ara selesai makan dan lagi-lagi mengagetkan lima kakaknya.


"Ala, jangan dulu, kita tunggu Mommy kasih tau kita," tahan  mereka. Tapi Ara meledek, dan berlari ke tempat duduk Arzen.


"Daddy! Mommy!" Mengagetkan dua orang dewasa itu yang mulai merasa canggung.


"Hm, kenapa Daddy dan Mommy diam?" tanya Ara.


"Ara bahagia banget ya panggil Om, Daddy," kekeh Arzen sedikit gugup. "Ya dong, Ala senang punya Papa," balas Ara tersenyum.


"Mommy, ayo bilang sama Loye, Asel, Nath, Aska dan Zee! Bilang Om ini,  Papa kita!" pinta Ara kepada Aizhe yang membisu.


"Mommy!" desak mereka tak sabar.


"Hm, benar. Di-dia, Papa kalian." Aizhe menutup mata, siap menerima kemarahan dan kekecewaan mereka. Melihat Aizhe begitu, Arzen meraih tangan Aizhe dan berdiri di depan mereka dengan serius. "Yah, saya Papa kalian! Kalian ada karena saya dan terlahir berkat Ibu kalian," Katanya pede dan terus terang.


"Kalau begitu, kenapa dulu pergi dari Mommy?!" balas mereka menatap tajam. Arzen mangap sejenak dan sedikit mundur.


"Ya, itu dulu Daddy khilaf, tapi sekarang Daddy sudah insyaf," tutur Arzen dengan tersenyum sungguh sudah introspeksi diri.


"Hm, maafkan Papa ya," mohonnya mengatup kedua tangannya di depan wajah. Axel, Chloe, Nath, Zee dan Arzqa bertatap mata, kemudian berbalik badan. Saling merangkul kemudian memutuskan bersama-sama seperti melakukan musyawarah untuk menyelesaikan masalah.


"Hm, bagaimana? Kalian mau?" tanya Arzqa.


"Aku bingung," ucap Nath.


"Tapi, kalau kita tolak, nanti Ara nangis," kata Zee yang memikirkan perasaan adiknya.

__ADS_1


"Hm, iya! Mommy juga mungkin sedih, lihat saja sendiri, Mommy barusan sepertinya suka sama dia," bisik Chloe.


"Jadi bagaimana? Kita maafkan saja? Atau besok saja?" tanya Axel juga bingung.


"Memang kalian benci Papa?" sahut Ara tiba-tiba sudah jongkok di tengah-tengah mereka. Membuat semuanya melompat kaget.


"Ih, Ara! Jangan kagetin kita!" ketus mereka mengelus dada.


"Kallena, Kakak, lama! Ntuh, Daddy sampai sedih di sana." Ara menunjuk Arzen yang sengaja membuat wajah memelas dan bibir yang terlipat. Akhirnya, demi Ara dan Aizhe, mereka memutuskan bersama-sama.


"Okey, kami maafkan Pa-pa." 


Wajah Arzen berseri-seri dengan bibir yang merekah. Bahagia mendengar permohonan maafnya diterima. Bahkan Aizhe bisa merasakan Arzen di sebelahnya sedang terharu, tapi seketika berdiri dengan cool, agar sisi lembeknya tak dilihat anak-anak mereka.


"Hm, karena kalian sudah maafkan Daddy, besok kalian boleh ke pesta ultah Nenek besar," ucap Arzen, ia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Ara berlari dan memeluknya senang..


"Ha? Nenek? Kita punya Nenek besar?" tanya mereka. Sedangkan Aizhe mulai merasa gugup, serasa belum siap.


"Yeah, Ala punya Nenek juga," ria Ara senang, bukan karena Katherine tapi Nyonya Arita.


"Ya, kalian punya dua Nenek, satunya galak, dan satunya sangat galak," kata Arzen menakut-nakuti lima anaknya.


"Tidak ada yang baik?" tanya mereka tak takut sekalipun.


"Hm, ada yang baik, cuman sudah meninggal," jawab Arzen menunduk sedih.


"Hm, siapa?" tanya Aizhe penasaran.


"Kakek mereka," jawab Arzen dengan suara berat.


Lima bocah cilik itupun maju dan berdiri di dekat Aizhe dan Arzen. "Kita mau ikut,," ucap mereka ingin melihat dua neneknya. Arzen sedikit tersenyum, dan merasakan mereka mengerti perasaannya. "Baiklah, tapi sebelum itu, kita buat kue dulu. Spesial dari kalian untuk Nenek, supaya Nenek senang bertemu kalian," kata Arzen menunjuk oven.


"Siap! Asel siap bantu, Daddy!" hormat Axel sangat setuju.


Chloe, Nath, Zee dan Arzqa memutar bola mata jengah, karena sifat Axel pasti langsung berubah kalau sudah mendengar soal makanan. Sedangkan Aizhe merasa lega mendengar mereka sudah akur. Kini cukup mempersiapkan diri untuk bertemu Nenek dari keenam anak kembarnya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan mereka diterima baik di sana." Aizhe memohon dalam hati dan berharap sepenuhnya.


__ADS_2