
"Bik! Bik! Sini cepat!" panggil Katherine duduk bersantai di sofa dan menonton tv, tapi matanya mengarah ke benda pipih di tangannya saja. Lalu, tujuan tv dinyalakan buat apa?
"Ya, Nyonya, ada apa?" tanya pembantu datang menghadap.
"Jam berapa sekarang?" Pembantu mengernyit heran, karena di tangan majikannya itu ada handphone dan di atasnya ada jam dinding, tapi masih bertanya soal waktu kepadanya?
"Jam tiga sore, Nyonya," jawab pembantu melihat jam dinding.
"Tiga sore? Tiga sore, Bik?" Katherine melotot tajam ke arahnya.
"Ya, Nyonya. Memang ada apa dengan jam tiga sore?" tanya pembantu sedikit mundur.
"Akhhhhh, sudah saya bilang tadi, kasih tau saya kalau sudah jam tiga! Sekarang saya telat pergi gara-gara kau!" marah Katherine lupa ada jadwal pertemuan bisnis antara teman-temannya yang sesama istri pengusaha.
"Ta-tapi, Nyonya belum pernah memberitahukan ini kepada saya," ucap pembantu bingung tiba-tiba disalahkan. Memang aslinya, Katherine sengaja tak hadir karena muak mendengar cerita tentang suami-suami mereka, sehingga pembantunya yang menjadi alasan ketidakhadirannya.
"Oh, jadi kau anggap saya sudah berbohong?" Katherine berdiri, mengangkat tangan siap memukul, namun seketika berhenti saat pembantu lain datang menghadap.
"Nyonya, maaf … di luar ada tamu," katanya sedikit takut melihat temannya hampir ditampar.
"Siapa?" tanya Katherine menurunkan tangannya.
"No-nona Erina, Nyonya," jawabnya gemetar.
Wajah masam Katherine seketika berubah dengan senyum yang melebar. "Erina datang? Akhh, calon menantuku itu tau aja kalau hari ini aku ingin melihatnya!" Katherine berjalan cepat meninggalkan dua pembantu itu yang mengelus dada merasa lega dan terselamatkan.
Rupanya, Erina datang untuk mewujudkan keinginan Katherine yang mau jalan-jalan dengannya. Dengan senang hati, Katherine segera pergi mengambil tasnya. Berbelanja dengan calon mantu adalah impian menantu Nyonya Arita.
__ADS_1
"Kathe, mau kemana?" tanya Nyonya Arita tak sengaja berpapasan.
"Ibu, di bawah ada Erina, hari ini aku mau keluar sebentar bersamanya, Ibu mau ikut?" Katherine menjawab dengan tersenyum. Dalam hati, berharap ajakannya ditolak.
"Tidak, hari ini saya mau melakukan terapi, kalian pergi saja," tolak Nyonya Arita. "Haha, Ibu memang lebih baik di sini, tapi Ibu tak usah sedih, aku akan bawa pulang beberapa manisan untuk Ibu," kata Katherine sangat bahagia tidak dilarang keluar.
Di bawah, Victor datang dengan seorang perawat, masuk dan tak sengaja bertatapan dengan Erina. Tetapi, Victor kembali berjalan acuh, tak seperti perawat yang tersenyum senang bisa bertemu artis terkenal seperti Erina.
"Aduh, Erina, maaf ya kalau Tante lama, ini lagi tunggu Arzen angkat telepon Tante," ucap Katherine berjalan keluar di samping Erina. "Tidak apa-apa, Tante." Senyum Erina, lalu mengernyit heran melihat raut wajah Katherine yang suram.
"Kenapa, Tante?" tanya Erina yang duduk di sofa.
"Huff, Arzen, katanya sibuk, tidak bisa menemani kita," keluh Katherine sedih.
"Tidak apa-apa, Tante, mungkin Arzen sedang meeting untuk membahas kerjasama dengan agency saya," hibur Erina.
"Eh, maksudnya, kau akan ikut serta ke program acara barunya?" tanya Katherine kaget.
"Victor, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nyonya Arita telah selesai. Rasanya luar biasa, tubuhnya yang terasa berat, sangat ringan tanpa beban.
"Begini, Nyonya, saya penasaran saja kenapa Nona Erina datang kemari," ucap Victor.
Nyonya Arita dibantu duduk oleh suster, kemudian menjawab bahwa Katherine sangat menyukai Erina sampai ingin menjodohkan cucunya dengan wanita itu.
"Terus, apakah Tuan Arzen setuju?" tanya Victor penasaran.
"Tidak, cucu saya itu punya pilihan sendiri,"
__ADS_1
"Anda tau siapa itu, Nyonya?" tanya Victor lagi.
"Hm, tidak. Dia belum menyebutkan namanya, tapi dia pernah cerita gadisnya cantik seperti rembulan."
—---—---—
"Mommy, kapan kita diajak keluar?" lesu Axel, Chloe, Zee, Nath dan Arzqa yang lelah menunggu Arzen. "Hm, memang sudah jam berapa, sayang?" tanya Aizhe juga mulai jenuh.
"Mommy, Kakak, tunggu sebental dulu! Om Ayzen pasti sudah di jalan," hibur Ara masih kuat menunggu. Mondar-mandir di depan pintu dan akhirnya rasa sabar mereka membuahkan hasil.
"Mommy, itu mobil Om Alezen!" pekik Ara melompat ria. Mereka segera membawa Aizhe di dekat pintu dan melihat Arzen mengeluarkan tangan. Mengkode mereka untuk masuk ke dalam mobil. Ara pun berlari duluan, sedangkan lima kakaknya berjalan di samping Aizhe.
Setelah masuk dan duduk, mereka yang tadinya heboh, mendadak diam melihat penampilan Arzen yang hanya memakai jaket biasa, tak seperti kemarin memakai jas mahal.
"Hm, kenapa kalian semua diam?" tanya Aizhe.
"Ehem, mungkin mereka terkesima dengan ketampanan saya," ucap Arzen pedenya hingga Aizhe sedikit tersentak karena gaya bicara Arzen yang sombong itu terasa familiar.
"Iya, Om tampan!" sahut Ara yang duduk di pangkuan Aizhe. Sedangkan lima anak yang lain, memutar bola mata jengah.
"Ayo, Om! Bawa mobilnya, hihihi," ucap Ara tak sabar keliling kota.
"Sebelum berangkat, pasang sabuk pengaman kalian dulu dong," kata Arzen demi keselamatan.
Lima bocah laki-laki di belakang, dengan cepat memakainya, sedangkan Ara kesulitan memakai sabuk pengaman untuk Aizhe dan dirinya.
"Om, Ala ndak tau pakai ini," lirih Ara, ingin memberikannya kepada Aizhe, tapi Aizhe yang buta tidak bisa memasang itu.
__ADS_1
Arzen pun mencondongkan dirinya ke Ara. Seketika, lima anak di belakangnya terdiam karena jarak wajah Arzen dengan Ibu mereka sangat dekat, tak ada lima senti. Bahkan Aizhe sendiri, merasakan hembusan nafas Arzen tercium bau mint anggur.
"Tellima kasih, Om!" ucap Ara senang. Arzen mengangguk dan mulai menyetir sambil mengunyah permen. "Mommy, kenapa diam dalli tadi?" tanya Ara mendongak dan merasakan jantung Ibunya berdegup cepat. "Nggak apa-apa, sayang. Mommy cuma merasa senang bisa pergi bersama kalian." Aizhe menjawab dan tersenyum sedikit. 'Apa ini cuma perasaan ku saja?' batinnya menyadari sesuatu dari nafas Arzen.