KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 55 Itu Adalah Cinta


__ADS_3

Karena Arzen tau Ibunya menyukai Erina, terpaksa mengizinkan artis itu masuk. Zee dan Nathan, pergi membawanya ke kamar Nenek mereka. Sementara Arzen, kembali ke kamar melihat Aizhe.


Axel, Arzqa dan Chloe pun pergi melihat Nenek mereka, namun langkah ketiganya berbelok menuju ke kamar Nyonya Arita. Mereka ingin melihat di mana satu Neneknya yang paling galak itu. Rupanya berada di balkon sendirian dan tampak menghubungi seseorang. Pembicaraannya terdengar mencurigakan. Axel, Chloe dan Arzqa ingin menguping namun, Nyonya Arita menoleh dan hampir melihat mereka. Untung tiga anak kembar Aizhe langsung bersembunyi.


"Ya, Davis. Terima kasih telah memberitahuku." Suara Arita sedikit jelas terdengar menyebut nama sekretaris ayah mereka. Itu artinya, Nyonya Arita barusan berbicara kepada Davis. Tapi soal apa? Tiga anak itu, semakin penasaran. Sebelum mereka dilihat, Axel menarik Chloe dan Arzqa pergi. Untuk mengetahui, mereka hanya tinggal bertanya kepada Davis.


"Kau tak kembali ke kantor, Zen?" tanya Aizhe kepada Arzen di depannya.


"Tidak dulu, untuk siang ini aku mau di rumah," jawab Arzen sedang menunggu laporan dari pihak rumah sakit terkait persediaan mata pengganti untuk Aizhe.


"Emh, kau mau apa?" Arzen menoleh, ketika Aizhe perlahan mendekat dan meraba pundaknya. "Aku mau pijat di sini, boleh, kan?" Aizhe berharap penat dipundak suaminya hilang. "Tak perlu, aku tak begitu lelah kok, lebih baik kau menemaniku tidur siang." Arzen menolak dan memeluk pinggang Aizhe dari depan. Mumpung Ara sedang main bersama lima saudaranya, Arzen ingin dimanja dan memanjakan istrinya. Kalau saja, tangan Aizhe tidak bengkak, Arzen sudah menerkamnya sekarang juga. Tapi ia sadar, Aizhe sedang terluka dan tak tega meminta keinginannya itu.


Aizhe mengangguk, melanjutkan tidur siangnya di pelukan Arzen. Perasaannya sudah yakin, bahwa rasa aneh itu adalah cinta. Aizhe merasa tenang dan aman apabila berada di sampingnya. Dua jam berlalu, Aizhe terbangun. Ia beranjak duduk dan meraba ada Ara di tengah-tengah mereka. Ternyata putri manjanya masuk ke dalam kamar dan tidur memeluk Arzen.


Aizhe meraba atas mejanya dan merasa haus. Namun, air di dalam gelas sudah habis. Karena tak mau merepotkan orang lain, Aizhe pun ingin turun ke bawah mengambil air sendiri. Pertama, ia mengikat rambutnya yang tergerai indah dan panjang, lalu mengambil tongkat dan perlahan keluar. Berjalan di lorong rumah menuju anak tangga. Terdengar rumah sepi, karena lima anak lelakinya juga sedang tidur.


Aizhe melewati kamar mereka dan merasakan anak-anaknya berada di dalam sana. Aizhe pun lanjut berjalan sampai tak sengaja mendengar obrolan dari dalam kamar, milik Katherine.

__ADS_1


Aizhe berhenti sejenak dan mendengarkan diam-diam obrolan Erina dan Katherine. Terdengar Erina sedang membujuk Katherine untuk jangan telat makan dan poin-poin dalam merawat diri. Katherine menunduk, ia tahu semua itu dan kini ia merasa hanya ingin dimengerti. Tapi ia merasa tak ada seorang pun di rumah ini yang paham dirinya.


Aizhe menunduk, tau bahwa Katherine sebenarnya malu dan benci punya menantu catat sepertinya. Ketika Aizhe mau pergi, lagi-lagi Erina bicara dan membuatnya berhenti. Aizhe kembali mendengarkan Erina menenangkan Katherine dan menyuruh ibu mertuanya mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. "Nona Erina memang baik, tak hanya wanita karir, dia juga bisa menghibur Mama. Mama pun juga tampak senang bicara pada Erina." Keluh Aizhe merasa kecil hati. Namun, seketika Aizhe tertegun mendengarkan ucapan Katherine.


"Baiklah, apa boleh buat, aku tidak akan mempermasalahkan kehadirannya di sini."


Aizhe semakin menunduk, merasa sebagai menantu yang tak berguna. Sedangkan Erina yang hanya orang lain di keluarga ini, lebih cocok dianggap menantu.


"Maaf. Ini juga semua salah ku yang buta, maaf Mama." Aizhe pergi setelah menyalahkan dirinya sendiri dan sangat sadar bahwa dirinya bukan menantu yang diharapkan.


"Eric, saat-saat seperti ini, aku butuh kau." Katherine menangis lagi. Mengingat mendiang suaminya yang meninggal 10 tahun lalu. Tanpa suaminya, ia sulit memutuskan suatu pilihan dan tersiksa hidup bersama Nyonya Arita.


Malam tiba, semuanya berkumpul di dapur kecuali Nyonya Arita karena malam ini ia merasa tak enak badan dan tak bisa turun makan malam bersama. Namun kini, ada Katherine yang bergabung dengan keluarga kecil putranya.


"Nenek, sudah sembuh?" tanya Ara tiba-tiba karena Katherine duduk di sampingnya.


"Ara, jangan ganggu Nenek dulu," tegur Axel.

__ADS_1


"Tapi, Ala mau tau aja, Kakak," ucap Ara cemberut.


"Nenek sudah baik-baik saja. Tak perlu cemas."


*Deg


Semuanya diam, terutama Ara karena sedikit heran. Dulu Katherine suka memanggilnya 'anak haram' namun sekarang tak ada kata itu lagi yang terucap dan bahkan nada suara Katherine mulai lembut dan tidak seperti dulu yang galak.


"Hm, apa yang terjadi?" Arzen pun sampai bingung melihat sikap Ibunya. "Apakah Erina sudah melakukan sesuatu pada Mama?" gumamnya curiga pada Erina.


"Nih, makan wortel ini, mata mu yang cantik itu harus dirawat dengan baik. Makan wortel bisa menyehatkan mata kalian," ucap Katherine memberi sayur berisi potongan wortel. Alis Arzen semakin terangkat. Ia terheran-heran. Sedangkan Aizhe hanya diam menunduk. Ia sedikit senang Katherine mulai baik pada anaknya, tapi dia juga khawatir apakah itu terpaksa karena bujukan Erina?


"Hm, terima kasih, Nenek!" Ara mengambil dan senang melihat Nenek galaknya tidak marah-marah, apalagi dipuji cantik. "Ya, sama-sama." Senyum Katherine terlihat tulus, membuat Axel dan yang lain juga keheranan melihat sifat Neneknya aneh lagi.


....


Udah tobat dengar ceramah dari Erina tuh nenek kalian hihi...

__ADS_1


__ADS_2