
"Tante, makasih udah ngundang saya makan malam di sini, saya senang bisa melihat kondisi Nyonya Arita yang sudah membaik," ucap Erina. Artis bertalenta dengan suara lembut dan paras yang cantik. Meski begitu, Arzen tak pernah mengakuinya.
"Sama-sama, Erina. Tante juga senang banget kau bersedia datang meluangkan waktu datang kemari untuk menjenguk Neneknya Arzen." Balas Katherine tersenyum ramah, lalu ia melirik Arzen yang bersama Nyonya Arita.
"Arzen! Kemari!" panggilnya.
"Arzen, ke sana dan jangan buat Nenek malu," ucap Nyonya Arita demi image keluarganya, bukan karena adanya Erina.
"Baik, Nek." Arzen dengan langkah malas, menghampiri Ibunya.
"Kenapa, Ma?" tanyanya tanpa melirik Erina.
"Arzen, karena sudah malam, kau yang antar Erina pulang,"
"Aku? Kenapa nggak suruh supir Mama saja?" Arzen tampak ogah.
"Arzen, kalau saja supir ada, Mama juga akan suruh dia, tapi malam ini anaknya sakit jadi pulang lebih awal," kata Katherine menahan sabar. 'Walau ada supir pun, tetap saja Mama suruh kau antar dia,' batin Katherine kesal dalam hati.
"Tante, nggak usah repot-repot, saya bisa kok pulang pakai taksi," ucap Erina.
"Aduh, jangan, akhir-akhir ini kasus penculikan sedang marak di luar sana. Biar Arzen yang antar kau pulang," kata Katherine lemah lembut. Sedangkan Arzen memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Tapi Tante, Arzen kayaknya nggak mau—"
"Haha, nggak usah cemas, Arzen mau kok, iya kan, Zen?" senggol Katherine dengan lirikan mata memohon.
"Hais, baiklah." Arzen terpaksa mengiyakan.
"Aduh, Arzen ya, ternyata mau tapi malu, seperti kucing saja, haha," tawa Katherine dengan tatapan meledek. Arzen berlalu pergi, tak mau menggubris ejekan Ibunya yang sedang bahagia itu. Di dalam perjalanan pulang, tampak Arzen dan Erina tak berbicara sedikitpun. Hening dan canggung di antara mereka sampai mobil tiba di rumah Erina.
Erina membuka pintu mobil sendiri, turun dengan elegan kemudian berdiri di dekat mobil. Tersenyum dan, "Terima kasih sudah mengantar saya—"
Brum….
Belum selesai bicara, Arzen mengegas pergi, karena tak sudi mendengar ucapan terima kasih Erina. "Ck, dia sombong dan cuek sekali." Erina yang sedikit muak, masuk dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Jadi, Dok, kapan hasilnya keluar?" tanya Arzen duduk berhadapan dengan Dokter.
"Kira-kira sekitar satu atau dua Minggu, Tuan Arzen," ucap Dokter dan memperhatikan dua sampel di tangannya.
"Ngomong-ngomong, rambut ini dari siapa ya, Tuan?" tanya Dokter penasaran. Arzen berdiri, kemudian menatap sinis. "Dokter lakukan saja, nggak usah bertanya."
"Baik, Tuan." Dokter mengangguk paham dan melihat Arzen keluar. Presdir Neo itu bersiap hendak pulang, namun kebetulan bertemu dengan Victor.
__ADS_1
"Hei, Tuan Arzen, tumben datang ke sini, ingin bertemu saya?" tanya Victor dengan pedenya.
Arzen berhenti, menatap dan tersenyum angkuh. "Menemui mu? Hah, aku malah benci melihat mu." Kemudian pergi setelah menunjukkan sifat sombongnya dengan mulutnya yang tajam itu.
"Yaelah, kalau Nyonya Arita sekarat, kau pasti akan ngemis untuk bertemu dengan ku, lihat saja nanti! Dasar sombong!" Victor pergi dengan perasaan jjengkel.
Kini mobil itu tiba di rumah twins cs. Tampaknya, Arzen datang berkunjung malam ini. Apakah hanya sekedar itu?
"Hei, lihat semua, itu ada Om Palesdir!" Zee yang berada di balkon lantai dua, memanggil empat saudaranya. "Hm, untuk apa Om itu malam-malam kemari?" gumam mereka, secepatnya turun ke bawah.
Dengan rasa hormat, mereka berlima menyambut Arzen di depan pintu. "Selamat datang, Om!" sapanya sambil tersenyum sedikit.
Arzen berhenti, dan lumayan senang karena merasa kedatangannya dihargai oleh anak-anak kembar Aizhe. "Hm, kenapa Om datang ke sini?" tanya mereka bersama..
Arzen diam sejenak, berpikir, kenapa?
"Axel, siapa yang datang?" sahut Aizhe datang dan dituntun oleh Ara. "Wah, Mommy, itu yang datang Om Tampan," seru Ara menunjuk Arzen yang salah tingkah di sana.
"Oh, Tuan Presdir itu? Kenapa anda datang kemari, Tuan?" tanya Aizhe berdiri di tengah-tengah enam anak kembarnya. 'Duh, tadi tujuan ku ke sini apa ya?' pikir Arzen lupa alasannya. Padahal sudah sejauh ini dituntun ke rumah Aizhe, tapi sekarang Arzen bingung sendiri.
"Om, mau makan masakan rendang Axel lagi ya?" sahut Axel tiba-tiba. Hanya itu? Cuman rendang? Semua adiknya saling bertatapan karena heran saja jika alasan itu benar adalah tujuan kedatangan si Om Tampan.
__ADS_1
.
Hayo Arzen, ngapain tuh?🤭