KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 42 Tak Sudi Punya Menantu Cacat!


__ADS_3

42


Di rumah Nyonya Arita, para tamu mulai berdatangan dan disambut ramah oleh Katherine. Hadirnya mereka, Nyonya Arita merasa bahagia karena orang-orang masih menghargai pesta miliknya. "Padahal saya sudah tua, tapi masih dibuatkan pesta," ucap Nyonya Arita berdiri di lantai 2 dan melihat para tamu. Tak hanya mereka, Erina dan beberapa artis yang pernah bekerjasama dengan Neo, hadir memeriahkan pestanya.


"Bersyukurlah Nyonya Arita, anda memiliki cucu berbakti seperti Arzen," sahut Victor datang dengan setelan jas hitam yang mahal dan tampan menawan.


"Wah…wah, meskipun saya sedikit malu mengakuinya, tapi anda malam ini terlihat tampan," ucap Nyonya Arita memuji. Victor pun sedikit canggung tiba-tiba dipuji.


"Seandainya saja Arzen adalah cucu perempuan saya, mungkin saya bisa menikah kan kau dengannya, hahaha," canda Nyonya Arita hingga Victor terkejut.


"Candaan anda lucu juga, Nyonya. Tapi saya pun juga mengakui anda malam ini terlihat lebih muda," balas Victor memuji supaya mendapat gaji tambahan.


"Haha, terima kasih atas pujiannya Pak Victor." Nyonya Arita tersenyum lalu ia melihat kembali ke bawah sana. "Oh, ya, apa kau sudah melihat Arzen?"


"Mohon maaf, Nyonya. Saya tidak melihatnya dari tadi." Victor menjawab seadanya. Ia juga bingung kenapa si Presdir sombong itu tak terlihat seharian ini. Katherine yang berdiri di samping Erina, ia pun juga menunggu Arzen. Karena waktunya yang sudah dekat, Victor menuntun Nyonya Arita menuruni anak tangga. Para tamu melihatnya dan menyambut mantan Presdir Neo itu dengan senyuman. Sebagian tamu wanita single mulai melirik Victor di sana sebagai sosok pria yang setia, karena jangankan wanita tua, mereka pikir Victor akan selalu setia pada pasangan hidupnya. Victor pun sama, melirik mereka untuk dijadikan pasangan hidup, namun pikirannya tiba-tiba memikirkan Aizhe.


'Kalau saja aku tau alamat barunya, mungkin aku bisa mengajak dia dan anak-anaknya ke sini. Itung-itung bisa menjadi figur pria yang berbaik hati kepada mereka, tapi kira-kira apa benar suaminya sudah kembali?' batin Victor.


"Kathe, mana Arzen?" tanya Arita kepada menantunya itu yang berdiri di sampingnya. "Aku juga nggak tahu, Bu," jawab Katherine lesu dan cemas. Sekarang tinggal hitungan menit, Nyonya Arita bisa memulai tiup lilinnya. Dan, tiba-tiba saja dari pintu sana, dua pembantu berbaris menyambut kedatangan seseorang yang tak lain adalah Arzen yang telah tiba bersama wwanita tercinta nya dan keenam anak kembarnya.


"Woah, siapa wanita ini? Dan siapa anak-anak ini? Kenapa mereka datang bersama Presdir Neo?" Mereka, para tamu termangu diam memperhatikan Aizhe dan enam twinsnya.


"Halo, semua, maaf atas keterlambatan kami," sapa Arzen dengan senyum ramahnya. Sangar ramah sampai semua orang terheran-heran. Kemana sifat sombongnya dan senyum jahatnya?


Terlepas dari sifat Arzen yang tiba-tiba berubah, perhatian mereka kembali teralih pada Aizhe yang cantik dan membuat mereka berpikir bahwa mungkinkah wanita itu adalah artis? Dan anak-anak itu merupakan Idola cilik? Tapi kenapa mereka bisa kembar sebanyak ini?


Daripada bertanya sana sini, mereka menunggu jawaban Arzen dari pertanyaan Katherine.


"Arzen, siapa mereka?"


Arzen merangkul pinggang Aizhe dan dengan percaya diri, ia mengatakannya dengan lantang. "Dia adalah tamu istimewa saya," jawabnya serius dan enteng.


"Loh, ini kan anak-anak itu?" Erina dan Victor menunjuk bersama ke twins cs. Erina ingat, mereka anak-anak yang dilihat di toko, sedangkan Victor sangat mengenal Aizhe dan anak-anaknya.


"Oh, Nona Erina dan Dokter Victor mengenal mereka? Siapa sebenarnya anak-anak ini dan wanita cantik ini?" Mereka terus bertanya-tanya lagi.

__ADS_1


"Ehem, baiklah, karena hari ini adalah hari spesial untuk Nenek saya, saya akan menjawabnya setelah acara ini selesai," ucap Arzen sok cool. Sedangkan Aizhe memegang erat tangan Arzen terus. Saking takut dan gemetar mendengar keramaian di sampingnya, membuat tangannya berkeringat dingin.


"Hei, Pak! Bawa kue besar itu masuk kemari!" panggil Arzen ingin segera cepat-cepat menyelesaikan acara itu.


Akhirnya, pesta Nyonya Arita berlangsung dengan lancar tanpa adanya kerusuhan. Kini waktunya, Nyonya Arita memberikan potongan pertama kepada orang terspesial dalam hidupnya. Katherine yang melihat sepotong kue itu, berharap Erina yang mendapatkannya, namun ternyata, Nyonya Arita melewati Erina dan memberikannya kepada Aizhe. Semua tamu kembali heboh karena wanita itu baru pertama kali datang tapi sudah diberi potongan kue itu.


"Pertama kalinya, saya baru melihat wanita seperti mu hadir di rumah saya, apa kau Ibu kandung dari mereka?" Nyonya Arita menunjuk twins cs.


"Ayo, sayang, katakan saja," ucap Arzen. Dari ucapannya itu membuat semua tamu, Katherine, Victor dan Erina terkaget-kaget.


"Sayang? Barusan Presdir panggil dia dengan itu?" Mereka seakan tak percaya. Sedangkan Nyonya Arita sudah tak terkejut lagi karena merasa wanita pilihan cucunya adalah dia.


"Ya, Nyonya, sa-saya Ibu kandung mereka," jawab Aizhe gemetar. Sontak, tak hanya kue yang diterima Aizhe, ia juga mendapat pelukan hangat dari Nyonya Arita. "Kau adalah salah satu Ibu yang paling hebat yang pernah saya temui."


Arzen mengambil piring di tangan Aizhe sebelum terjatuh. Ia pun melihat Aizhe menahan air matanya karena mendapat gelar itu dari seorang wanita yang sangat disegani di kota.


"Kau buta, tapi dengan sabar, mampu membesarkan mereka sendirian," senyum Nyonya Arita menepuk pundak Aizhe.


"A-apa saya boleh memeluk anda, Nyonya?" tanya Aizhe sedikit memohon. "Tentu, silahkan." Aizhe pun memeluknya dan menangis sedikit. Membayangkan wanita itu adalah neneknya, Evelin. Rasa rindunya pun tercurahkan malam ini. Melihat mereka berdua, para tamu merasa ikut terharu mengetahui Aizhe adalah wanita keterbatasan fisik dan Ibu tunggal dari enam anak kembar itu. Mereka tahu berkat cerita dari si Victor. Tapi anehnya, kenapa Aizhe datang bersama Arzen? Seharusnya kan ada suaminya!


"Kasihan sekali, di mana suaminya?" tanya Erina sedikit iba.


"Coba lihat, anak itu seperti Nyonya Arita," mereka pun mulai menyadarinya. Arzen yang dari tadi mendengar Victor memuji soal kecantikan Aizhe, ia pun dengan tegas mengatakan niatnya.


"Ehem, untuk malam ini, saya ingin menyampaikan sesuatu," ucapnya mempersiapkan diri.


"Apa, Arzen?" tanya Katherine dari tadi menahan kesal.


"Nenek, Mama, dan semuanya yang hadir di sini, saya Arzen akan segera menggelar pernikahan kami secepatnya," ujar Arzen terus terang.


"Apa? Nikah sama janda buta dan miskin ini? Kau sudah gila lagi, Arzen?" Tunjuk Katherine syok dan menatap jijik Aizhe.


"Mama, dia bukan janda! Di-dia itu istri Arzen dan mereka ini adalah anak-anak kami berdua."


Jedaar!!!

__ADS_1


Tak hanya Katherine yang syok, semua yang ada di sana juga syok berat. Terutama Nyonya Arita, Victor, Katherine, Erina dan pembantu.


"Sejak kapan kalian menikah?!!" geram Katherine marah.


Aizhe mundur ketakutan mendengarnya, begitu pula enam anaknya mendekati Arzen karena semua mata menghujam dengan tajam ke arah mereka. Menakutkan!


"Ki-kita berdua udah nikah kok enam tahun yang lalu di kereta, Mama." Ucap Arzen tak gentar mengatakannya. Katherine hampir jatuh pingsan, untung Erina menahan pundaknya dan membantunya mengatur nafas.


"Hm, kalau begitu, kenapa kalian mau nikah lagi?" tanya Nyonya Arita. "I-itu, soalnya kami dulunya nikah diam-diam, ja-jadi kami sekarang mau nikah di depan publik," jawab Arzen menggenggam tangan Aizhe. Sedangkan Aizhe hanya bisa diam, dan mendengarkan penjelasan Arzen yang mengubah sedikit kebenarannya, demi para tamu tak mencemooh anak-anak mereka.


"TIDAK!! SAMPAI KAPAN PUN, SAMPAI AJAL MAMA TIBA, MAMA TAK SETUJU DAN MERESTUI PERNIKAHAN KALIAN BERDUA!" kelakar Katherine menunjuk Aizhe dengan marah besar dan kecewa putranya telah memiliki anak dari wanita yang bukan pilihannya.


"Katherine!" balas Nyonya Arita, karena tak tega melihat enam anak Aizhe dibentak-bentak.


"Tidak, Ibu. Kali ini aku sungguh-sungguh tak sudi punya menantu seorang wanita CACAT!" ujar Katherine pergi meninggalkan mereka dan berlari ke kamarnya. Menangis di sana dengan sangat hancur.


Semua tamu sudah pergi setelah Arzen menyudahi pesta itu. Victor pun juga dan sedikit sedih karena wanita yang sempat dia kagumi ternyata istri si cucu pasiennya. Sedangkan Erina, pulang daripada dapat kerutan, memikirkan mereka. Kecuali si Davis tak hadir karena sedang sibuk dan Nyonya Arita sudah memakluminya. Kini di rumah itu, hanya ada Arzen, Aizhe, dan twins cs yang berhadapan dengan Nyonya Arita.


"Nenek, maaf, aku baru jujur," lirih Arzen menunduk.


Nyonya Arita menepuk bahunya, kemudian tersenyum, "Tak apa-apa, Nenek tak marah kok, malah senang kau rupanya sudah berkeluarga tanpa bantuan Nenek."


"Hm, Nenek tak marah?" tanya Arzen.


"Kalau marah, Nenek sudah usir kalian semua," pungkas Nyonya Arita tanpa senyuman dan sedikit menakutkan.


"Tapi, kalian tenang saja, Nenek sangat senang di rumah ini ada banyak anak-anak. Mulai sekarang, rumah ini adalah rumah kalian." Senyum Nyonya Arita membuat mereka balas tersenyum bahagia melihat Nenek mereka yang lucu. Lucu tapi kadang bikin senam jantung seperti Ara.


"Sekarang, bawa mereka istirahat, soal Katherine, biarkan saja dulu dia begitu, nanti juga Ibumu bisa paham," ucap Nyonya Arita.


"Kalau Mama belum paham, gimana?" tanya Arzen.


"Tenang, Mama yang akan bicara demi kalian," jawab Nyonya Arita. "Uhh, Nenek! Nenek yang terbaik!" Cium Arzen ke ubun-ubun wanita tua itu yang sangat sayang padanya.


"Sini, kita ke atas. Daddy akan bawa kalian istirahat." Arzen menarik Aizhe dan mengajak anak-anaknya. Sedangkan Nyonya Arita masih diam di tempatnya. Memandangi Aizhe dengan datar dan sulit diartikan.

__ADS_1


"Nyonya, mari saya antar ke kamar juga." Pembantu mengajak majikannya yang sudah lelah. Nyonya Arita pun pergi mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Katherine terisak-isak di kamarnya. "Huhuhu…. aku pasti akan semakin dicaci oleh mereka. Sudah janda, jadi menantu sampah di rumah ini, enam cucu haram dan sekarang mendapat menantu cacat! Kenapa sih, hidup ini sangat kejam!" Katherine menangis, meratapi nasibnya. "Tidak, si cacat itu harus pisah dari Arzen! Aku tak mau dipermalukan lagi!" kepal Katherine tapi menangis lagi karena sadar pasti mertuanya akan berpihak pada Arzen.


Sementara Aizhe, menahan tangisnya demi anak-anaknya tak khawatir. Namun perkataan Katherine amat menusuk. Ia memang terlahir cacat, dan itu bukan atas kemauannya.


__ADS_2