KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
Bab 62 Flashback Ericsson : Titipan Dari Tuhan


__ADS_3

1.Flashback Ericsson.


Pernikahan adalah ikatan cinta yang diharapkan oleh wanita muda cantik itu, bernama Katherine Jenkins. Ia sangat bahagia dipinang oleh putra tunggal seorang Tuan muda dari keluarga yang dikelilingi harta berlimpah. Katherine merasa hidupnya yang melarat dan menderita akan mulai berubah drastis. Namun, setelah cinta mereka bersatu dibawah janji pernikahan, rupa-rupanya kehadiran Katherine tidak begitu disukai oleh Arita.


Bahkan, setelah empat tahun menikah, Arita semakin tidak suka padanya karena belum memberikan anak untuk Ericsson. Namun, dengan keteguhan hati dan kesabaran dari pasangan suami istri itu, mereka akhirnya diberi titipan dari Tuhan.


"Erine, sayang…."


Katherine yang sedang mengusap perutnya yang berisi benih Eric, ia menoleh ke sumber suara suaminya. "Eric! Ngapain pakai itu semua?" Katherine menahan tawa melihat suaminya memakai kostum bebek. Eric naik ke tempat tidur dan duduk di samping istrinya.


"Ya untuk permintaan istri dan anak kita lah, sayang," ucap Eric mencubit gemas pipi Katherine dan mengelus lembut calon bayinya.


"Ihhh, anak kita minta bebek sungguhan, bukan bebek jadi-jadian tau!" balas Katherine gemas pada suaminya yang suka bertingkah aneh. Diluar kadang bersikap dingin dan arogan, tetapi jika untuknya, Ericsson selalu berbuat konyol  demi melihat istrinya bahagia. Tingkat kebucinananya sudah tak bisa diremehkan lagi. Kemana-mana, terus ngebucin istrinya.


"Habisnya kamu juga sih, ini sudah jam dua dini, terus kamu minta bebek, harusnya minta yang lain saja lah." Eric cemberut karena istrinya kalau ngidam tidak mengenal waktu. Untung tidak minta cerai di tengah malam.


"Ihhh, kamu … ini semua permintaan anak kita tau, bukan keinginanku," celetuk Katherine.


"Ya sudah deh, aku keluar cari bebek." Eric melepaskan kostumnya dan bersiap mengambil kunci mobil, namun tiba-tiba Katherine memeluknya dari belakang.


"Hm, apa lagi nih?" tanya Eric mengangkat alis.

__ADS_1


"Pengen makan daging bebek sekarang," ucap Katherine.


"Baiklah, kamu di sini dan biarkan aku pergi," kata Eric mendudukkan istrinya di tepi ranjang, namun lagi-lagi Katherine menahan tangannya.


"Hm, apa lagi?" tanyanya melihat Katherine manja.


"Ndak usah pergi," ucapnya melarang.


"Loh, terus mau kamu apa, sayangku? Tidak jadi makan bebek?" Eric duduk di samping Katherine.


"Itu, kalau anak kita cewek, kamu tidak marah kan?" tanya Katherine cemas. Eric tertawa geli dan mencium piipi istrinya kemudian mendorongnya jatuh ke kasur. Ia menindih Katherine yang terlihat menggemaskan. "Mau cewek atau cowok, asalkan  anak kita lahir dengan selamat, aku sudah sangat bahagia, sayang."


Eric mengelus pipi Katherine dan tidur di sampingnya, memeluk istrinya dengan hangat.


"Jangan pikirkan itu, kita yang menikah, bukan Ibu. Lagipula, cewek juga bisa mengelola perusahaan kita nanti. Sekarang tidurlah," bisik Eric menyelimuti istrinya yang gelisah.


"Makasih, Eric. Aku cinta padamu." Katherine berbalik badan dan balas memeluk suaminya.


"Hm, aku juga mencintaimu, sayang." Eric mengecup kening Katherine dan mengelus perutnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Anak Papa, setelah lahir nanti harus jadi anak yang kuat dan tangguh ya! Buktikan pada Nenek, kalau kau bisa memberikan keberhasilan besar untuknya." Setelah bicara pada calon bayinya, Eric terlelap di samping Katherine yang sudah melupakan ngidamnya. Pasangan suami istri yang saling mencintai dengan setulus hati.

__ADS_1


"Eric! Eric!" panggil Katherine dengan perutnya yang membesar.


"Kenapa, sayang?" Eric yang bersiap ke kantor, ia menghampiri istrinya yang kesakitan. Ia pun kaget melihat air ketubannya pecah. Dengan cepat, Eric membawa Katherine ke rumah sakit. Tak lupa Arita juga datang melihat proses persalinan menantunya. Ia tampak tidak begitu bahagia karena sudah tau dari hasil pemeriksaan bulan lalu, bayi di dalam perut Katherine adalah bayi perempuan.


"Akhhh, sakit Eric!" erang Katherine tak kuat melahirkan anaknya. "Bertahanlah sayang, ini sedikit lagi. Kau pasti kuat!" Eric yang mendampinginya juga ketakutan melihat istrinya sedang meregang nyawa demi kelahiran anak yang mereka tunggu-tunggu. Ia tak peduli berapa banyak rambutnya tercabut gara-gara cengkeraman Katherine, yang jelas ia akan terus setia dan berdoa keduanya selamat dan baik-baik saja.


"Ayo, Ibu. Sedikit lagi, bayinya udah mau keluar." Dokter memberinya dukungan. Katherine yang dibanjiri keringat mengikuti instruksi Dokter.


"Huh...huh… akhhhhhhh…. aakhhhhhh…." erang Katherine sekali lagi dan pada akhirnya perjuangannya pun membuahkan hasil yang cantik.


"Oekhhhhhh…oeeekhhhh…" Air mata Katherine pecah mendengar tangisan bayinya yang sehat. Ia pun juga melihat Eric menangis terharu , darah dagingnya terlahir cantik dan manis seperti sang Bunda.


Dokter pun mengambilnya dan meletakkannya ke dalam box kaca untuk diperiksa lebih lanjut.


"Eric, mana bayi kita?" tanya Katherine belum pernah menggendong bayinya dan apalagi menyu-suinya. Eric membelai rambut istrinya dan menunjukkan foto bayinya.


"Lihat sayang, dia cantik sepertimu," ucapnya mengecup kening Katherine yang tersenyum bahagia melihat hasil lima tahun penantian mereka. "Sekarang istirahat lah, nanti kita ketemu lagi dengannya setelah Dokter memeriksa kalian," ucap Eric.


"Hm, terima kasih, Eric." Eric mengangguk, dan juga berterima kasih. Setelah Katherine diperiksa dan kini tidur, Eric keluar pergi melihat bayinya dulu, namun tak sangka bayi itu berada di tangan Ibunya.


"Mama, mau bawa kemana bayi kami?" Eric menahan Arita yang mau membawa bayi kecil mereka yang masih kemerah-merahan itu.

__ADS_1


__ADS_2