
Aizhe mengangkat wajahnya. "Hanya kita? Kemana penumpang yang lain?" tanyanya terkejut.
"Dari awal, kereta ini hanya membawa barang berisi nar-koba, bukan manusia," jawab cowok itu jujur. Aizhe maju, seketika mendekatkan dirinya kepada cowok tadi.
"Hm, kamu takut?" tanya cowok itu mengangkat alis. Aizhe mengangguk pelan, kemudian berkata, "Kalau kita sudah berdansa, apa kamu bisa membawaku keluar dari sini?"
"Tentu saja, setelah urusan aku di sini selesai, kamu bisa turun bersama," jawab cowok itu melihat Aizhe yang gemetar. Ia pun memegang bahu Aizhe, memandangi cukup lama wajah dan tubuh gadis buta itu. "Apa kamu mau?" tanyanya tak sabaran.
"Em, tapi aku nggak tau menari, dan nggak pernah tau bagaimana itu," ucap Aizhe lugu. Cowok itu meraih dua tangan Aizhe, memegangnya dengan lembut. "Tenang saja, kamu akan tau setelah kita berdansa. Ikuti saja instruksi dariku dan jangan lepaskan tangan ku, Nona cantik."
"Ba-baiklah." Aizhe menunduk, ia sedikit tersipu mendapat pujian.
Dengan iringan musik dansa yang terdengar syahdu, dua anak manusia itu menikmatinya dengan damai dan senyuman. Sambil menggenggam tangan Aizhe, cowok itu terus memandanginya tanpa henti. Tak peduli berapa kali Aizhe menginjak kakinya, gadis itu tetap menarik dan membuatnya mulai tertarik.
__ADS_1
Aizhe yang menikmati irama musik, ia pun kaget saat dua pinggangnya dirangkul tiba-tiba. "Maaf, jangan sentuh sem—" putus Aizhe ketika merasakan dagunya ditarik dan dikecup mendadak.
"Akhhhh…. a-apa yang kamu lakukan barusan?" Aizhe mendorongnya, mundur dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Cowok itu diam, lalu maju mendekat dengan langkah kaki perlahan. Aizhe berbalik badan, mencari tongkatnya untuk pergi ke gerbong lain, namun lengannya ditarik begitu cepat olehnya dan dipeluk dari belakang.
"Hei, lepaskan! Jangan berani padaku!" Aizhe memukul tangan itu dan memberontak. Namun, tubuh kecilnya didekap dengan sangat erat sampai Aizhe tak bisa bergerak lagi. "Kamu cantik, Nona. Seperti indahnya rembulan di luar sana." Seluruh tubuh Aizhe spontan bergetar hebat mendengar bisikan nakal itu. "Aroma tubuh mu juga harum, seharum bunga mawar."
"Bibir yang ranum seperti buah, serta kulit yang bersih dan lembut seperti kain sutra. Kau adalah tipeku, kecuali mata ini."
Merebahkan tubuh kecil Aizhe ke atas dan mencekal kedua tangannya. Mengikatnya ke besi pegangan dengan ikat pinggang. "Akhh, lepaskan aku! Ku mohon, jangan bunuh aku." Aizhe menjerit dan memohon ketakutan. Air matanya mulai berderai turun dan tak berdaya.
"Lihatlah, meskipun kamu menangis, kamu tetap terlihat manis, Nona." Pujinya maju, dan memegang lembut dua paha Aizhe yang mulus dan semok, mencondongkan wajahnya ke wajah Aizhe dengan sangat dekat.
__ADS_1
"Ku mohon, jangan apa-apakan, aku. Bukankah kamu sudah berjanji, nggak akan membunuhku? Ku mohon." Aizhe terus meminta dilepaskan. Namun yang diterima adalah dua tangan mendarat di atas dadanya. "Nona, aku memang berjanji nggak akan membunuhmu, tapi aku nggak berjanji untuk tidak mencoba mu." Cowok itu menyeringai melihat Aizhe melenguh pelan.
"Tapi tenang saja, aku akan membawamu ke tempat Nenek. Nggak ada salahnya membawa gadis buta sepertimu. Kau bisa hidup enak di sana dan menjadi teman tidurku."
Aizhe pun terisak-isak, merasa dan berpikir neneknya mungkin telah menjualnya untuk dijadikan pem-uas naf-su orang lain, tapi aslinya, salah. Evelin tak ada sangkut-pautnya dengan ini. Aizhe pun terdiam tatkala mulut mereka berdua bertemu. Tak hanya tubuhnya diraba, cowok itu juga mencium bibirnya.
"Halo, Tuan muda? Tuan muda Arzen? Anda dengar saya?" Seseorang mengajaknya mengobrol melalui headset. Tetapi Arzen melepaskan headsetnya dan kembali menjamah tubuh Aizhe. Seketika jawaban yang didengar dari headset itu adalah desa-han dan tangisan seorang gadis yang meratap, membuatnya sangat melongo.
"Ya ampun, apa lagi yang anda lakukan Tuan muda?" Orang itu segera masuk ke dalam mobil, melaju ke stasiun kedua, tempat pemberhentian pertama. Awalnya, kasus ini bisa ditangani oleh polisi, namun karena Arzen kekeh ingin mengurusnya sendiri, akhirnya Davis, sekretaris dari perusahaan Neo terpaksa membiarkan Arzen menyelesaikannya malam ini. Mentang-mentang cucu dari seorang Presdir yang disegani oleh semua orang, Arzen seenak jidatnya bertingkah di luar sana.
Gerbong enam, yang awalnya terdengar irama musik dansa, kini penuh irama desa-han erotis dari mulut Aizhe. Malam yang harusnya indah, menjadi saksi bisu percintaan keji dua anak manusia yang tak didasari oleh cinta dan pernikahan.
…
__ADS_1
Kejamnya kau Arzen sampai menodai nya begitu 😢