
"Mas, kau sudah tidur?" Jam 2 dini hari, Aizhe terbangun dan merasakan Arzen yang berada di sampingnya nampak belum tidur dan terdengar suara Arzen yang mengantuk. "Hm, kenapa kau bangun? Mimpi buruk?" tanya Arzen.
"Bukan, aku tidak mimpi buruk, hanya terbangun saja. Tapi sekarang aku memikirkan sesuatu," ucap Aizhe merasa gelisah.
"Apa yang kau pikirkan?" Arzen tidur miring dan menghadap ke Aizhe. "Itu, kau dan Nenek Arita baik-baik saja, kan? Tadi, kau tampak diam saja setelah bicara dengannya," ucap Aizhe ingin tau.
"Hm, baik kok."
"Terus, apa kau dapat izin pindah rumah?" tanya Aizhe.
"Oh masalah itu, tidak, sayang," jawab Arzen lesu. "Tapi kau jangan cemas soal Mama, aku nanti bujuk Mama supaya kalian akur kembali." Arzen meraih tangan Aizhe dan mengecupnya.
"Sekarang tidurlah."
"Hm, iya." Aizhe memejamkan mata kembali. Ia menerima pelukan dari Arzen dan tidur bersama dengan tenang di dalam satu selimut.
Hari telah berganti dan hari ini anak-anak kembar di rumah besar itu tak berangkat sekolah karena hari libur. Rumah yang kadang sepi di pagi hari, terdengar berisik sekarang. Terlihat di lantai bawah sana, ada Nath dan Zee belajar akting setelah sarapan pagi. Sedangkan Chloe, Arzqa dan Axel membawa tiga piring untuk Ara dan Ibu mereka. Untuk Arzen tak ada karena ayah si kembar tersebut sudah berangkat kerja pagi-pagi. Ia tak perlu khawatir seperti kemarin karena ada enam anaknya yang bisa menjaga Aizhe dan Katherine dengan baik.
"Mom, sarapan dulu." Arzqa duduk di samping Aizhe yang menemani Ara mewarnai gambar dari tugas sekolah.
"Yey, makan nasi golleng." Ara mengambil satu piring di tangan Arzqa. "Kalian sudah sarapan?" tanya Aizhe seraya menerima suapan dari putra twins-nya itu.
"Sudah, Mom. Tinggal Ara sama Mommy yang belum," jawab Arzqa dan melihat Ara yang senang menyantap sarapan yang dibuat pembantu.
"Oh ya, kakak kalian pada kemana?" tanya Aizhe tak mendengar empat anaknya yang lain. "Asel sama Loye ada di kamar Nenek Katlin, bawa sarapan, Mom." Arzqa menjawab posisi dua kakaknya itu.
"Ala mau pelgi liat," ucap Ara berdiri.
__ADS_1
"Ara, habiskan dulu itu dan jangan ganggu Nenek," cegah Arzqa.
"Hmm, tapi,"
"Ara, dengarkan kakak mu, sayang," kata Aizhe yang sudah menghabiskan sepiring nasi gorengnya.
"Baik, Mommy." Ara duduk dan mendekati Arzqa. "Apa?" tanya bocah bermata hitam itu dan mengernyit heran melihat Ara cekikikan. "Ala mau disuwapin juga, hihi." Arzqa menggelengkan kepala melihat adik kecilnya sangat manja. Dengan sabar, Arzqa menyuapi Ara. Mendengar mereka berdua akur, Aizhe tersenyum lega. Ia bersyukur anak-anaknya saling mengerti satu sama lain.
Sementara di kamar Katherine, tampak dua bocah kembar Aizhe saling menyenggol di depan tempat tidur Nenek mereka. Karena masih merasa bersalah soal kemarin yang telah mengerjainya, mereka berdua ingin membantu Katherine.
"Ayo, sana bangunkan Nenek," senggol Chloe dan melihat Nenek mereka masih tidur, namun sebenarnya sudah bangun, hanya saja tak mau beranjak dari tempat tidurnya.
"Kamu saja, aku sedikit takut." Axel balas senggol.
"Aku tidak mau, nanti marah seperti kemarin," tolak Chloe.
"Kamu aja, kamu 'kan yang tua," senggol Chloe lagi.
"Tapi kamu juga yang tua!" balas Axel.
Sebenarnya, diantara mereka berdua, harusnya Chloe yang lahir duluan namun Dokter lebih dulu mengangkat Axel dari rahim Aizhe karena tali pusar Chloe terjepit, sehingga Axel menjadi anak sulung dari enam bersaudara.
"Tidak mau, kamu aja, kamu yang lahir duluan," tolak Chloe, hingga dua-duanya saling senggol terus.
"Uhuk…uhuk…" batuk Katherine membuat keduanya diam dan berdiri tegang. Katherine beranjak duduk, lalu dengan lemah meraih gelas di atas meja. Meminum sedikit dan tidur kembali. Tampak Katherine hari ini demam, hingga tak bisa marah pada dua cucunya dan membiarkannya saja berdebat di sana. Akan tetapi, Axel maju dan menawarkan sarapannya.
"Nek, sarapan dulu,"
__ADS_1
Tapi Katherine berbalik badan membelakanginya, tak mau.
"Nenek, kalau tidak sarapan, nanti tidak cepat sembuh." Axel membujuk. Sedangkan Chloe diam dan memperhatikan Katherine yang acuh.
"Nek, makan dulu sedikit," bujuk Axel lagi.
"Nenek, nanti —" putus Axel saat bahunya ditepuk.
"Ayo, kita keluar saja." Chloe membawa Axel keluar. "Kenapa tarik aku?" tanya Axel di depan kamar. "Sini, lihat!" Chloe menariknya dan mengintip ke dalam kamar. Dua bocah itu diam melihat Katherine duduk dan memakan sarapannya.
"Ini caranya kalau Nenek tidak mau makan sarapan, kita biarkan saja dulu, nanti juga dimakan," ucap Chloe tau karena pernah lihat orang seperti Katherine di rumah tetangga, tempatnya bekerja. Axel pun mangut-mangut karena paham neneknya itu suka gengsi. "Sekarang ayo pergi, biarkan Nenek istirahat." Axel ditarik menuju ke Zee dan Nath.
Dua jam kemudian, Victor datang memeriksa kondisi Katherine.
"Om Dokter!" panggil Zee dan Nath.
"Hai, selamat pagi," sapa Victor tersenyum.
"Pagi juga, Om!" balas mereka dan berlari menghampirinya.
"Om datang mau periksa Nenek?" tanya Axel dan Chloe.
"Hm, benar. Kalian berempat tau dimana Nyonya Katherine berada?"
"Di kamar, Dok! Sini kami antar."
"Baiklah." Victor mengikutinya. 'Mereka dan Tuan Arzen memang beda jauh. Kalau dia yang menyambut ku, pasti diberi sapaan pedas dulu.' Batin Victor dan sempat melihat Nyonya Arita memperhatikan anak-anak Aizhe, namun wanita tua tersebut berlalu pergi dengan acuh. Dari tatapannya saja, sudah tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" pikir Victor tak begitu paham dengan keluarga satu pasiennya ini yang kadang bikin orang lain penasaran setengah mati.