
Hari demi hari berganti dengan cepat, seperti biasanya, anak kembar Aizhe dan Arzen pergi ke sekolah. Karena ada perlombaan, Katherine pergi mendampingi enam cucu ciliknya di sekolah. Kehadirannya membuat Ibu-ibu merasa tak percaya wanita yang suka sombong dan berpakaian glamor itu mengenakan pakai sederhana hari ini.
Mereka terheran-heran melihat penampilan dan sifat Katherine yang berubah drastis. Yang dulunya cuek dan acuh, sekarang Katherine banyak bicara dan bercanda tawa dengan mereka. Mengobrol tentang tingkah lucu anak-anak mereka, terutama enam cucu kembarnya yang populer di sekolah. Tak hanya mendapatkan gen jenius dari Arzen, Axel dan lima adik kembarnya ternyata mendapat berbagai prestasi dan piala seperti Ericsson dulu.
"Arzen…." Di rumah, Aizhe yang sendirian di kamar, ia keluar mencari Arzen. Suaminya yang hari ini tidak berangkat ke kantor karena masih mengurus pencarian Arita dan menunggu Dokter memberitahukan kapan waktu operasi mata dilakukan.
Tiba-tiba, langkahnya berhenti saat mendengar suara Arzen sedang bicara serius dengan seseorang di dalam sebuah panggilan. Aizhe diam-diam mendekat dan ingin mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan suaminya. Sontak saja, ia diam seketika.
"Jadi…. rencana donor matanya dibatalkan? Kenapa bisa, Dokter?"
"Maaf, Pak Arzen. Kami sudah melakukan pemeriksaan ulang dan hasilnya lebih beresiko sekarang. Jika anda memakai mata ini, saya merasa tidak yakin istri anda bisa memakainya dengan sempurna."
Arzen memukul tembok, ia merasa kecewa mendengar lebih lanjut penjelasan Dokter jika kornea penggantinya gagal.
“Dok, apakah tidak ada lain yang cocok dengan istri saya?”
Dokter menjawab tidak ada, karena sulit menemukan kornea yang benar-benar cocok dengan Aizhe. Mungkin ada yang bisa dioperasikan, namun tidak bisa bertahan lama.
"Arghhhh…." Arzen menggeram kesal dan merasa putus asa karena impiannya untuk sang istri harus pupus lagi.
"Zeenn…." Tanpa melihat, Aizhe tahu suaminya sedang emosi. Arzen tersentak dan segera mengatur nafasnya. Membuang jauh-jauh kemarahannya agar sang istri tidak merasa ketakutan.
"Hm, kenapa, sayang?" Dengan lembut, ia meraih tangan istrinya. Aizhe menunduk dan sudah tahu keinginan Arzen sama seperti keinginan si kembar.
"Ka-kamu… tidak perlu susah-susah mencarikan aku mata pengganti. Aku tidak apa-apa kok dengan kondisi seperti ini," ucap Aizhe tidak ingin membebani suaminya.
Arzen tersenyum dan menarik Aizhe duduk di kursi.
"Istriku… sayang, bahagia mu adalah bahagiaku juga. Jadi, kalau kamu sudah bisa melihat, aku ikut senang, sayang. Sangat-sangat bahagia …." Arzen mencium telapak kedua tangan Aizhe bergantian.
"Kalau begitu, artinya kamu tidak suka dengan aku yang buta ini?" ucap Aizhe tiba-tiba.
Arzen tersenyum lalu membelai rambut Aizhe. "Sayangku… bukan itu yang aku maksud." Ia mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Aku mau kamu melihat, supaya kamu bisa tau bagaimana paras tampannya suami kamu ini."
__ADS_1
Aizhe bergidik geli mendengar rayuan Arzen. Namun ia diam setelah pria di sampingnya menghembus nafas dan terdengar sangat lelah.
"Tapi, sayang sekali, mata yang sudah tersedia untuk mu sudah tak bisa dipakai." Arzen menunduk sedih, sangat sedih sampai ingin menangis karena sangat sulit mendapat mata yang cocok untuk istrinya.
Mendengar suaminya murung, tiba-tiba Aizhe tidak sengaja bersin. "Huachiiii…." Gara-gara cuaca hari ini yang mendung dan udara yang cukup dingin, membuatnya sedikit masuk angin.
Arzen terkejut dan kembali melihat Aizhe kedinginan. Ia pun melepaskan jaketnya dan memberikannya ke tubuh Aizhe.
"Ehhh, nggak usah… aku baik-baik saja kok." Aizhe sedikit canggung karena Arzen memeluknya tiba-tiba. Tapi Arzen hanya diam dan tidak menanggapi perkataan istrinya.
"Arzeeen… kamu nggak usah begini, pakai kembali jaketnya."
Akan tetapi, ia diabaikan dan merasakan Arzen berdiri.
"Hm, mau kemana?" Aizhe bertanya. Namun tak ada jawaban dan suara.
'Aduh gimana nih… apa aku sudah buat dia marah?'
Tiba-tiba ia mencium bau asap. Aizhe berdiri dan secepatnya memanggil Arzen. "ZEN! Kamu dimana?!!" Ia menyentuh dinding dan berjalan keluar mencari ayah anak kembarnya.
"Hmm, ini aku," ucap Arzen, tersenyum kecut melihat Aizhe tadi menepis tangannya.
"Oh, maaf, aku pikir tadi orang lain…." kata Aizhe segera minta maaf dan senyum-senyum sedikit.
"Ta-tadi kamu dari mana?"
"Tadi itu aku ke kamar sebelah, sini ikut aku dulu." Arzen menggandeng istrinya.
"Mau kemana?" tanya Aizhe lagi.
"Nanti kamu juga akan tau, sayang."
Aizhe menunduk dan deg-degan. Ia memikirkan Arzen mungkin ingin menerkam nya? Tetapi, ternyata ia dibawa ke dalam kamar yang terdapat api unggun di sana.
"Zen, aku cium ada bau asap di sini, apa yang terjadi? Kamu lagi bakar ikan?" tanya Aizhe di samping Arzen yang berhenti dan diam.
__ADS_1
"Hm, jangan buat aku khawatir dong." Aizhe mengelus lengannya, dan sedikit merasa hangat.
"Gimana perasaanmu? Apa sudah membaik sekarang?" tanya Arzen sembari duduk dan memandangi api unggun di depannya.
"Hm, jadi, kamu pergi barusan itu karena buat ini untukku?" tanya Aizhe mulai menyadari perbuatan Arzen.
Arzen tersenyum dan memegang wajah Aizhe lalu mencubit pipi istrinya. "Iya sayangku, ini kubuat untuk menghangatkan mu. Supaya kamu nggak dingin dan sakit." Arzen lalu mendekap tubuh istrinya.
"Gimana? Kamu udah nggak kedinginan?"
Aizhe mengangguk dan tersipu. "Terima kasih," katanya malu-malu karena mendapat perhatian Arzen. "Sama-sama, istriku." Arzen mengecup kepala Aizhe lalu memejamkan mata sejenak. Menikmati kehangatan bersama.
"Arzeen…." Aizhe yang sudah tak mendengar suara Arzen, ia pun menangadah ke atas. Ia pun terdiam sejenak merasakan hembusan nafas Arzen yang lembut menerpa wajahnya. Tanpa dilihat dengan mata, Aizhe tau suaminya itu sedang terlelap.
Aizhe berbalik badan dan memeluk Arzen. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidangnya dan mendengar detak jantung suaminya. Diam-diam, Aizhe tersenyum lalu menyentuh sebelah pipi Arzen.
Perlahan maju dan meninggalkan kecupan manis di sana. Ternyata, Aizhe punya kebiasaan diam-diam mencium Arzen.
"Arzen…. A-aku… aku sayang sama kamu. Tanpa melihat wajahmu, a-aku sudah jatuh cinta sama sifat kamu ini."
Aizhe segera menutup wajahnya yang memerah lalu kembali memeluk Arzen. Ia senang karena cowok yang dikira penjahat dan berandalan di masa lalu, ternyata sekarang sudah menjadi suami yang sangat bertanggung jawab dan sangat mencintainya.
Memang pertemuan awalnya buruk, tapi siapa yang menduga setelah pertemuan kedua, mereka akan saling bucin seperti ini, si Ibu cantik masih malu² Ya
Ta-tapi gimana si kembar? impian terbesar mereka belum tercapai, mau donor mata, tapi mata siapa yang bagus diambil? Apakah salah satu anak kembar mereka perlu dikorbankan? Apakah itu Zee atau Arzqa? Atau Ara?
…
Siapa nih?🥺
Jujur ya, author lagi bingung pilih donor matanya dari mana, kok berat ya mikirin endingnya🥲satu sisi, Arita udah tua, matanya udh nggak sehat seperti dulu dan takutnya Aizhe terus mimpi buruk kalau kekejaman Arita diperlihatkan lewat matanya itu, kan nggak bisa hidup tenang😅kok author yang repot yy🤧duuh dilema nih. Ada saran nggak buat Author? 🥺
Oh ya, author sampe lupa smaa mata Ericsson kemana ya😅
5 bab menuju ending🥰
__ADS_1