KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 54 Kedatangan Erina


__ADS_3

"Nyonya Katherine, bagaimana perasaan anda?" Sambil memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh pasiennya, Victor bertanya agar Katherine yang belum bicara seharian ini bisa mendengarkan nada suaranya. Tetapi, Katherine hanya diam.


"Baiklah, kalau begitu, anda kembali istirahat saja." Victor menyimpan alat medisnya dan menyelimuti Katherine kembali. Setelah itu keluar bersama cucu kembarnya. "Om Dokter, Nenek kami kapan sembuhnya?" tanya Zee.


"Hm, kenapa? Kalian ingin secepatnya dimarahi?" tanya Victor balik. "Em, tidak. Kami tidak mau dimarahi, cuman kami cemas saja." Mereka berempat menunduk dan memainkan jari-jarinya.


"Pufft, tenang saja. Nenek kalian hanya demam biasa. Besok juga akan kembali pulih." Victor menepuk kepala mereka dengan lembut. "Sekarang, kalau ayah kalian pulang, bilang saja Dokter barusan datang dan selesai periksa Nenek kalian," ucap Victor bersiap pulang ke rumah sakit.


"Om Dokter, bentar dulu!" Mereka menahannya.


"Hm, ada apa menahan Om lagi? Mau disuntik satu-satu dulu?" tanya Victor mengeluarkan suntikannya. "Em, tidak! Kami mau Om Dokter pergi periksa Mommy kita," tolak mereka cepat dan menunjuk ke kamar Aizhe.


"Oh, periksa tangan Ibu kalian yang terluka itu?" tebak Victor dan menyimpan jarum suntiknya. Axel, Chloe, Zee dan Nath mengangguk sama-sama. "Baiklah, bawa Om ke sana. Sekalian ganti perbannya." Victor terima karena ingin melihat Aizhe juga.


Axel pun membuka pintu kamar perlahan. Mereka semua sedikit terkejut melihat Aizhe dan Ara tidur. "Hm, kenapa masuk sini?" Arzqa menghampiri mereka. "Nih ada Om Dokter, kita mau Om Dokter periksa Mommy." Zee menunjuk pria tinggi di sampingnya.


"Tapi, Mama lagi tidur." Arzqa menunjuk Aizhe di sana.


"Bagus dong, kalau Mommy tidur, Om Dokter bisa ganti perban di tangan Mommy dan tidak buat Mommy merasa sakit," kata Chloe. Kemudian diberi anggukan oleh Nath, Zee dan Axel.


"Ya sudah, ayo masuk, Om. Tapi periksanya harus hati-hati ya," ucap Arzqa. "Tenang saja, Om Dokter tak akan buat Ibu kalian terbangun." Victor tersenyum yakin. Setelah itu, mulai melihat teliti tangan Aizhe yang masih bengkak.


"Loye, tolong beri Om kursinya," pinta Victor. Chloe pergi memberikan kursi, lalu Victor duduk di dekat Aizhe.


"Tidak apa-apa nih, Om pegang tangan Ibu kalian?" tanya Victor dulu.


"Tidak apa-apa, 'kan Om pernah pegang waktu Mommy pingsan dulu," kata mereka tak masalah.


"Hm, itu dulu sebelum ayah kalian ada, sekarang Dokter ragu karena Arzen adalah ayah kalian. Kalau Om pegang, nanti ayah kalian marah besar," ucap Victor sedang memikirkan raungan amarah Presdir Neo tersebut.


"Om, jangan takut. Kita yang nanti bicara sama Daddy." Mereka berlima membujuk Victor yang gelisah.


"Baiklah, kalau begitu, ambil satu ember kecil air di kamar mandi, terus berikan satu handuk bersih. Sebelum ganti perban, tangan Ibu kalian perlu dibersihkan terlebih dulu dari bakteri."

__ADS_1


"Baik, Om!" Mereka pergi ke kamar mandi. Ambil ember, air hangat dan handuk bersih. Sambil menunggu mereka datang membawa barang tersebut, Victor memegang tangan Aizhe. Ia sedikit heran bagaimana bisa tangan Aizhe bengkak separah itu. "Ini mah, bukan karena kejepit pintu. Tapi sengaja diinjak seseorang."


"Apa Nona Aizhe mengalami kekerasan di rumah ini?" gumam Victor dan pindah menatap wajah Aizhe yang cantik dan tenang. Tapi tidak di dekat pintu di sana yang tampak Arzen telah kembali dari kantor dan dengan raut wajah penuh amarah, ia pun meneriaki Victor.


"Hei, Victor! Apa yang kau lakukan di sini?" Maju menghampiri Dokter Ibunya. "Eh, bentar dulu, jangan salah paham dulu," tahan Victor berdiri.


"Salah paham? Hei, Victor! Dengan kedua mata ku ini, aku melihat kau menyentuh Aizhe! Apa artinya ini kalau bukan mencari kesempatan? Apa niat mu masuk ke sini dan melihat wajah istriku, ha?!" marah Arzen melonggarkan dasinya dan pada akhirnya menonjok Victor.


Gara-gara suaranya yang lantang, Ara terbangun dan melihat hidung Victor berdarah serta kerah lehernya di cengkram oleh Arzen. "Akhh, Papa! Jangan! Om Doktell udah telluka!" Ara mendorong ayahnya agar jauh dari Victor.


"Arzen, ada apa ribut-ribut?" Aizhe juga terbangun, padahal baru beberapa menit masuk ke dalam alam mimpinya.


"Aduh, Daddy! Jangan marah, Om Dokter ke sini mau ganti perban Mommy." Chloe dan Arzqa datang melerai dua pria dewasa itu. Semua anak berdiri di antara Arzen dan Victor.


"Cih, ini yang aku cemaskan," ringis Victor sakit.


"Hm, ganti perban? Siapa yang suruh dia?" tanya Arzen.


"Kita," jawab mereka berlima lalu Ara pun ikut juga. "Ala yang sulluh, Daddy!" Langsung paham kode mata dari mereka.


"Ih, Daddy, minta maaf dulu!" sentak mereka.


"Ya, maaf." Arzen berkata demikian, lalu membuang muka dengan acuh dari Victor.


"Yaelah, kalau saja luka ini tidak kecil, sudah aku tuntut kau ke pengadilan," pungkas Victor.


"Dokter, maafkan ayah anak-anak saya," ucap Aizhe. "Hm, tak masalah. Tenang saja, ini hanya luka kecil." Victor duduk kembali dan mengambil tissu, mengelap darah mimisannya.


"Ih, Daddy, suka marah. Dikit-dikit main pukul." Celetuk lima anak lelakinya di sebelah Arzen yang duduk di tepi ranjang dan mengobati tangan Aizhe memakai perban milik Victor.


"Ya, ya, maaf. Daddy pikir dia masuk ke sini mau melukai Mama kalian." Arzen meminta maaf lagi. "Sekarang kalian jangan ngambek ya, nih pegang dan bantu Daddy gunting perbannya, paham?"


"Mengerti, Daddy." Mereka berlima membantu Arzen. Sementara Ara, mendekati Victor. "Om, sini Ala bantu." Ara naik ke kursi lain dan mengusap darah di hidung Victor.

__ADS_1


"Hm, sudah tidak takut sama Dokter?" tanya Victor. Ara menggelengkan kepala, "Tidak, Om Doktell baik." Jawabnya dan memuji. "Haha, kau pintar juga menenangkan orang dengan memberinya pujian." Victor tertawa lucu dengan keimutan Ara. Terdengar di kamar itu, Aizhe meringis kesakitan.


"Daddy, pelan-pelan bungkusnya," cicit mereka berlima.


"Yah, ini sudah sangat lembut kok."


"Ihhh, Daddy! Yang benar dong!" Mereka lagi-lagi mengomelinya karena melihat Aizhe meringis kembali.


"Yah yah, kalian berlima cerewet banget sih!" kata Arzen lalu dengan sangat lambat, ia membungkusnya.


Mendengar lima anak dan suaminya berdebat, Aizhe pun menahan tawanya. Kecuali, di luar kamar tampak Katherine berdiri diam dan ingin masuk. Niatnya ingin minta maaf kepada Aizhe, tapi ia urungkan. Ia pergi dengan menundukkan kepala.


Ia masuk ke dalam kamar, meringkuk dan memeluk kedua lututnya kembali. Tiba-tiba, ada pesan masuk ke dalam hapenya dan ternyata itu dari Erina yang mau datang berkunjung. Berita Katherine sakit, cepat sekali sampai ke telinga Erina.


"Nih, sebagai ganti rugi." Arzen memberi sebuah amplop berisi uang.


"Hm, maksudnya ini apaan?" tanya Victor.


"Ya siapa tau tulang hidung kau patah, jadi pakai saja uang itu untuk melakukan operasi," jawab Arzen.


"Dih, tidak usah, aku punya banyak uang untuk melakukannya." Victor menolak, padahal isinya banyak.


"Yaelah, tidak usah tolak, ambil saja!" Arzen yang tidak enak sudah menonjok Victor, ia tetap kekeh memberi uangnya.


"Baiklah, aku terpaksa menerimanya. Kalau ada apa-apa, jangan hubungi aku! Bay!" Victor pergi dan menyentuh hidungnya yang diperban juga.


"Dadaah, Om! Lain kali, ke sini lagi ya!!" pekik kelima anak kembar Aizhe, kecuali Ara ada di kamar Ibunya. Victor cuma tersenyum kecut lalu pergi membawa mobilnya. Belum juga masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada mobil lain berhenti di depan rumah dan itu adalah Erina.


"Hm, kenapa dia datang ke sini, Daddy?" tanya mereka ke Arzen.


"Entah, Daddy juga tidak tahu." Arzen bingung mengapa aktris itu datang dan membawa sebuah bingkisan yang berisi buah-buahan. "Dia ke sini karena Aizhe atau Mama?" gumam Arzen dan akhirnya menyadari kedatangan artis itu adalah Katherine.


"Selamat siang, Tuan Arzen. Kedatangan saya ke sini ingin melihat Nyonya Katherine. Saya dengar, beliau sakit. Jadi, saya ingin menjenguknya." Erina tersenyum manis, tapi ekspresi Arzen hanya datar dan dengan mata malas. Agak jengkel dengan wanita itu karena sok cantik dan sengaja bersikap lemah lembut. Apa dia datang untuk menggoda Daddy? Si kembar tampan melirik curiga kepada Erina yang tersenyum imut ke arah Arzen. Jika Erina sampai berniat begitu, mereka tak akan biarkan Arzen direbut olehnya karena Arzen hanya milik Mommy mereka seorang.

__ADS_1


….


😽Si kembar posesif juga ya, udah bucin sama Daddy-nya hihihi


__ADS_2