
"Makasih, udah obati tangan saya, Bik."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya ke bawah dulu, masak untuk makan siang nanti,"
"Maaf kalau saya tidak bisa bantu, Bik," ucap Aizhe merasa tak enak karena terus mendapat bantuan darinya.
"Tak apa-apa, Nona di sini saja sampai Nyonya Arita atau anak-anak Nona pulang,"
"Baik, Bik." Angguk Aizhe tersenyum. Selang beberapa menit, terdengar suara klakson mobil di luar rumah. Sesaat kemudian, enam anak kembarnya berlarian masuk.
"Selamat datang, Tuan dan Nona kecil," sambut dua wanita berpakaian maid itu dengan ramah.
"Bibik, Nenek sama Mommy mana?" tanya Ara dan lima kakaknya.
"Nenek Arita masih ada di luar, Nona Ara," jawabnya.
"Hm, kalau begitu Mommy di mana sekarang?" tanya Axel dan Chloe.
"Mommy kami baik-baik saja di sini, kan?" tambah Nathan dan Zee cemas.
"Bibi, ayo jawab." Arzqa mendesaknya.
"Aduh, pantas saja berisik, ternyata enam cucu Nenek sudah pulang." Katherine datang dengan bahagia. Dua pembantu mengernyit heran karena sifat majikannya itu tiba-tiba berubah lagi.
"Ya, Nenek, kami sudah pulang," ucap Axel tanpa ekspresi dan merasa tingkah Nenek kandungnya itu agak aneh.
"Kalau gitu, cium dong tangan Nenek." Katherine memberikan tangan kanannya yang terdapat lima cincin emas di jarinya. "Ayo, cium. Jangan cuman diam saja." Senyum Katherine sangat manis. Zee menyenggol bahu Axel, mereka ragu dan bingung. Namun, tiba-tiba mereka menoleh ke tangga dengan senyum yang lebar.
"Mommy!" Semua lari ke arah Aizhe. Aizhe menyembunyikan tangan kirinya yang diperban itu ke belakang.
Katherine mengerucutkan bibirnya, kesal melihat mereka mencium tangan kanan Aizhe. "Bagaimana belajarnya di sekolah? Lancar, sayang?" tanya Aizhe.
"Hm, lancar, Mom. Ara di sekolah juga udah punya teman," jawab Zee dan Nath yang mengawasi adik mereka.
__ADS_1
"Benarkah itu, Ara?" tanya Aizhe.
"Hm, iya, Mommy!" Senyum Ara senang.
"Jelas dong, kalian kan anak-anak Arzen. Ya pastilah mereka mendekati kalian karena uang. Tidak mungkin, mereka mau kalau hanya berteman dengan bocah miskin. Tapi Nenek ikut senang mendengarnya," ucap Katherine tersenyum dan menoleh ke pintu.
"Ibu, dari mana? Kok baru pulang?" tanya Katherine rupanya bersikap baik agar Nyonya Arita tak curiga. Mulai bermuka dua.
"Hm, dari rumah sakit cek darah," jawab Nyonya Arita dan melihat enam cucu dari cucunya sudah pulang. Serta melihat Aizhe yang tampak baik-baik saja.
"Katherine, kau tak melakukan apapun kan selama Ibu di luar?" Nyonya Arita menatapnya selidik.
"Ya tidak dong, Bu. Justru aku turun ke sini menyambut mereka pulang dari sekolah," ucap Katherine dan tersenyum ceria seperti tak merasa bersalah.
"Kau baik-baik saja, Aizhe?" tanya Nyonya Arita kepada Aizhe yang diam. "Iya, Nek. Saya baik-baik saja di sini." Angguk Aizhe dan tersenyum juga.
"Baiklah, tolong Bik, antar saya ke kamar. Gara-gara keluar seharian ini, saya merasa sangat lelah."
"Katherine! Apa lagi yang kau bisikkan ke dia?" tanya Nyonya Arita. "Duh, Ibu. Aku nyuruh dia buat bikin teh untukku. Tidak bisik-bisik apa-apa kok, tenang aja." Katherine bersikap manis.
"Nenek, Zee sama Nath boleh ikut?" Dua bocah itu mendadak ingin membantu Nyonya Arita. "Baiklah, terima kasih." Mereka pun ke atas duluan.
"Mommy, ayo ke atas juga!" rengek Ara.
"Hm, ayo." Aizhe pun membawa anak-anaknya meninggalkan Katherine di sana yang kesal.
"Cuih, menyebalkan!" Katherine meludah dan pergi dari tempatnya berdiri.
Usai makan siang tanpa keributan, tiba-tiba seseorang datang dari perusahaan.
"Davis, kenapa datang kemari? Dimana Arzen?" tanya Nyonya Arita.
"Apa Arzen ada di studio Erina?" tanya Katherine juga dan melirik Aizhe di sana yang tersentak.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Kedatangan saya kesini ingin membawa Nona Aizhe untuk membawakan Presdir Arzen bekal siang dan Tuan muda sendiri berada di perusahaan." Saking cemas pada istri dan anaknya, Arzen ingin Aizhe ke kantornya.
"Ck, dia lagi." Katherine pergi dan menyesal sudah bertanya.
"Nona, ini bekal yang diminta Tuan," ucap pembantu datang.
"Woah, Ala mau ikut!" Ara mengangkat tangannya.
"Zee dan Nath juga!" sahut dua bocah itu di sebelah Aizhe.
"Hm, baiklah, tapi bagaimana dengan Tuan muda Axel, Loye dan Arzqa? Kalian bertiga ingin ikut atau di rumah saja?" tanya Davis kepada tiga anak tersebut.
"Kami di sini saja, jaga Nenek." Sahut mereka, yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu pada Katherine.
"Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya Arita. Mari Nona Aizhe, kalian ikut saya ke kantor."
"Yeayy, liat Daddy di kantoll!" riang Ara senang. Setelah berpesan kepada tiga anaknya untuk hati-hati, Aizhe dan mereka pun pergi ke perusahaan Neo.
"Hei, Axel, kenapa kita tak boleh ikut?" bisik Arzqa dan Chloe yang berada di kamar. "Lihat ini!" Axel menunjukkan foto di hapenya yang spontan membuat Chloe marah, karena dalam foto itu tertera Ibunya dipaksa mencuci baju dan hampir jatuh dari lantai tiga.
"Dapat dari mana?!!!!"
"Tenang dulu, Loye. Ini leherku sakit!" Melihat Axel yang dicekik oleh Chloe, Arzqa segera melerainya. Itulah fungsi Arzqa agar bisa menenangkan Chloe yang ngamuk.
"Uhuk, aku dapat ini dari pembantu, mereka tidak berani bicara sama nenek karena diancam akan dipasung."
"Ihh, menakutkan." Arzqa gemetar mendengarnya. Meski belum tau apa arti dipasung, ia sudah dibuat merinding.
"Kalau begitu, berikan saja padaku, biar aku yang laporkan ke Nenek!" Chloe merebut hape Axel. Bocah yang sudah hampir memasuki umur enam tahun itu tak takut pada Katherine lagi jika keselamatan Ibunya mulai terancam.
"Eh sebentar!" Axel menahannya.
"Kenapa? Kenapa hentikan aku?!" kesal Chloe. Axel menarik dua adiknya itu dan berbisik-bisik. Merencanakan sesuatu pembalasan kecil untuk Katherine.
__ADS_1