
Mendengar kabar baik itu datang dari Victor, Ara teringat dengan obrolan nya dengan Victor dulu.
Flashback
Beberapa hari yang lalu setelah bermain sepak bola. Pukul 10 malam, Ara masih belum tidur, sementara Aizhe yang tertidur di sampingnya sudah terlelap dari tadi. Sembari menunggu Arzen pulang dari pencarian untuk menemukan keberadaan Arita, Ara lantas menatapi jarinya yang diperban oleh Victor. Malam ini, Ara tidak bisa tidur karena terus memikirkan bagaimana Ibunya melihat.
Ara mengalihkan netranya, memandangi Aizhe yang tidur dengan tenang. Ara mendekat, dan mengusap pipi Ibunya. Semenjak status Ibunya diketahui publik, hinaan buruk tentang Ibunya mulai berkurang. Namun tidak menutupi kemungkinan jika di luar sana masih ada yang membenci Ibunya yang tiba-tiba menjadi ahli waris kekayaan Arita.
Ara mengusap matanya, lalu mengambil benda kecil persegi di atas meja. Jari kecilnya menari di layar dengan lincah dan akhirnya berhenti kala melihat kontak Victor.
Ara turun dari tempat tidur, lalu duduk di kursi dekat jendela.
Drrrttt….
“Hm, siapa yang hubungi aku malam-malam?” Victor yang hendak pulang dari rumah sakit, mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa nama sang pemanggil. Namun ketika suara imut di sebrang sana menyahut, Victor tersenyum.
[Halo, Om…]
[Halo, kenapa hubungi saya, Nona kecil?]
Victor menjawab, sembari berjalan keluar menuju ke mobilnya.
[Ala ndak bisa tidul, Om]
[Loh, kok tidak bisa tidur?]
[Ala sedih]
[Sedih? Kenapa sedih? Keluarga Ara 'kan sudah utuh, harusnya sudah lebih senang, 'kan?]
Victor masuk ke dalam mobil, kemudian memasang earphone kecil di kedua telinganya. Siap menyetir mobil menuju ke rumah.
[Iya, Ala senang. Tapi Ala sedih lihat Mommy ndak bisa lihat]
[Terus?]
[Ala mau kasih mata buwat Mommy, tapi mata Ala jelek, Om]
[Jelek? Siapa yang bilang?]
[Banyak di sekolah] jawab Ara lesu sembari menatap matanya yang unik di cermin, tetapi orang-orang menganggapnya itu aneh.
[Sudah, jangan dipikirkan. Mata Ara itu sangat cantik tau! Om justru kagum bisa lihat mata seperti Ara. Kalau untuk Ibumu, nanti Om usahakan juga mencarikan pendonor]
Senyum Ara merekah mendengar Victor ingin membantunya, apalagi dibilang matanya cantik.
[Hm, kenapa tertawa?]
__ADS_1
Victor merasa heran mendengar Ara tertawa.
[Om, kalau Ala sudah besar, Ala mau nikah sama Om]
Uhuk…uhuk…
Lagi, Victor terbatuk-batuk mendengar Ara mau menikahinya. Umurnya memang sudah 25 tahun, tapi Ara terlalu kecil dijadikan istri.
[Hahaha… kamu ini keras kepala juga. Kenapa sih ngotot banget mau sama Om?]
[Kalena Om Doktel baik, suka tolong Ala sama Mommy, Om juga ndak pelnah benci Ala, telus Om punya mata billu sepelti Ala. Ala suka samaaa Om!]
Victor menggelengkan kepala dan menahan tawa.
Astaga, kalau Arzen mendengar ini, aku bisa dijebloskan ke penjara.
[Ara, ini sudah malam. Sebaiknya Ara tidur. Kalau suka begadang, Ara nanti tidak bisa tumbuh tinggi]
Ara terdiam dan senyum-senyum sendiri.
[Wahh… Om mau ya sama Ala?]
[Ndak, mau!]
Ara cemberut lalu teriak.
Tuuuttt….
Ya Tuhan, anak ini ada-ada saja. Dia yang telepon duluan, dia sendiri yang marah. Perempuan memang sulit dimengerti.
Victor tertawa, merasa Ara sangat lucu. Kecil-kecil sudah mau melamarnya. Ia jadi teringat candaan Nyonya Arita yang ingin menjadikannya bagian dari keluarganya jika seandainya Arita punya cucu perempuan. Kalau saja Ara lahir 15 tahun lalu, ia pasti dengan senang hati menerimanya. Tapi si kecil bawel itu terlalu lambat dilahirkan.
Flashback_End
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Karena mengingat ucapan Victor kemarin itu, Ara merasa Victor sungguh pria yang menepati ucapannya. Gadis kecil itu berlari ingin menelpon Victor, namun kontak pria itu tidak aktif.
“Hugh… apa Om Doktel malah ya?” keluh Ara sedih.
“Ara, kamu kenapa di sini?” Lima kakaknya datang menghampiri adik kecil meraka. Sedangkan Katherine, sedang marah pada Arita. Oleh sebab itu, Arzen menyuruh anak-anaknya kembali ke kamar melihat adik kecil mereka dan agar mereka tidak mendengar pertengkaran dua neneknya itu yang sedang berlangsung.
"Kakak, Ala mawu telepon Om Doktel, tapi Om Doktel ndak mawu angkat-angkat. Kakak coba telepon dong.” Ara memohon pada Axel, Chloe, Nathan, Zee dan Arzqa.
Kelimanya pun mengambil hape masing-masing dan bergantian menelpon Victor, namun nomor satu pria tampan ini sama sekali tidak terhubung juga.
“Ara, Om Dokter mungkin lagi sibuk. Kita tidak usah ganggu dulu.” Ara menunduk dan duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Axel, Chloe, Nathan, Zee dan Arzqa tersentak kaget melihat Ara menangis. Mereka segera duduk di sampingnya.
“Ara, kenapa nangis? Takut sama Nenek Arita ya?” tanya Chloe sembari mengusap air mata adiknya, alhasil, cincin mainan itu tiba-tiba terlepas. Zee buru-buru mengambil sebelum jatuh ke lantai. Ia segera menyimpan dan melirik Chloe di sana yang sedikit cemberut, tidak sepertinya yang senang sudah mendapatkan cincin miliknya.
“Ara, ndak usah nangis. Nenek Arita tidak akan jahat sama kita,” hibur Axel. Ia membelai rambut adiknya dan percaya Arita tidak jahat lagi.
“Iya! Kita jangan takut, Papa 'kan bersama kita.” Tambah Arzqa.
“Terus, ada Nenek Katlin yang jaga kita dan Mommy!” sambung Nathan.
Ara mengangguk dan tersenyum. “Makasih, Kakak!” ucapnya memeluk bergantian mereka dan mengecup pipi kakaknya satu-satu. Axel, Chloe, Nathan, Zee dan Arzqa tersenyum sumringah melihat adik mereka ceria kembali.
Tidak seperti di ruang lain yang suasana semakin memanas dikala Katherine mengeluarkan rasa sakit dan amarah di hatinya, meskipun Arita sudah berulangkali meminta maaf.
“Katherine, maafkan Ibu,” ucap Arita lagi.
“Maaf? Ma-maaf? Ibu pikir dengan minta maaf saja, Ericsson kembali hidup? Apakah dengan ini, putra yang Ibu tekan dan siksa dulu itu akan bangkit dari kuburnya?” isak Katherine.
“Bu, Ibu tahu tidak, selama empat tahun pernikahan kami berjalan, Ericsson sangat-sangat menantikan anak kami. Dan pada kehamilan aku yang sembilan bulan, Eric rela begadang tiap malam demi menjaga aku dan anak kami. Dia sudah tidak sabar ingin menjadi seorang ayah dan melihat anak kami tumbuh bersama, tapi Ibu sendiri yang menghancurkan impian dan hidupnya! Ibu terlalu jahat pada anak sendiri! Ibu kejam!”
“Sebenarnya Ibu itu punya hati atau tidak sih?!”
Katherine membentak terus menerus. Melampiaskan semuanya. Aizhe di samping Arzen, ia maju mendekati Katherine. Meraih tangan Ibunya yang terkepal kuat-kuat.
“Mama, sudah.” Aizhe cemas, kondisi Ibunya drop karena sudah 2 jam mereka berdua bertengkar.
Katherine menggelengkan kepala dan menangis di pundak putrinya. Aizhe mengusap punggung Katherine dan paham bagaimana perasaan Ibunya yang hancur punya mertua kejam seperti Arita. Bahkan, Aizhe sendiri saat ini belum sanggup bicara pada Arita.
Melihat cucu dan menantunya berpaling darinya, Arita berbalik badan dan pergi ke kamarnya. Arzen ingin menahannya, tapi ia juga bingung harus melakukan apa.
“Sayang, kamu bawa Ibu ke kamar dulu, nanti aku nyusul,” ucap Arzen karena Katherine terlihat sudah tidak punya tenaga untuk berjalan sendirian.
“Hm, baik.” Aizhe menggenggam tangan Ibunya, dan dengan bantuan perasaan saja, ia membawa Ibunya ke kamar. Sementara Arzen, masuk ke dalam kamar Arita.
“Hm, kenapa kamu masuk ke sini?” tanya Arita yang bersandar di tempat tidurnya.
“Kamu juga ingin marah pada Nenek?”
Arzen mengepal kedua tangannya. Ia juga ingin marah, mengamuk, tapi ia juga tidak bisa melanggar ucapan Ericsson untuk jangan membuat kondisi Arita memburuk. Karena itulah, setiap Arita sakit, Arzen selalu siaga memanggil Doker.
“Nek, aku memang ingin marah, sangat marah sampai tidak ingin Nenek muncul di hadapan ku. Tapi, selama Nenek tidak ada di rumah ini, aku begitu cemas. Aku takut, Nenek akan pergi seperti Papa.” Arzen melemahkan kepalannya dan tidak sadar, ia menitikkan air mata.
Arita menunduk, sedikit senang karena Arzen tidak terlalu membencinya, namun itu tetap membuatnya sangat sedih.
"Maafkan Nenek, Zen,” ucap Arita lirih dan kemudian menangis. Arzen menggigit bibir bawahnya lalu berbalik membelakangi Arita.
“Nek, besok aku mau bawa Aizhe operasi. Aku harap, Nenek datang melihatnya.” Setelah itu, Arzen pergi dari kamar Arita yang semakin terisak di sana sembari menutup wajahnya. Ia merasa amat menyesal dan merasa tidak ada pintu maaf yang terbuka untuknya malam ini.
__ADS_1
……