KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 63 Anak Tuan Ericsson


__ADS_3

Maaf ya Reader cantikšŸ˜…ini episode sebelum flashback Ericsson, karena kemarin author capek jadi salah kirim🤣happy reading dan jangan lupa likenyašŸ„°ā¤Terima kasih...


......


Di pagi hari yang cerah, setelah menikmati kebahagiaan liburan mereka, hari ini waktunya Arzen pulang. Sebelum berkemas, Arzen tiba-tiba mendapat panggilan dari Dokter. Ia diberitahu jika ada pendonor mata untuk Aizhe. "Syukurlah, Terima kasih, Dok! Katakasan saja pada mereka, saya sanggup membayar harga dengan tinggi," ucap Arzen sangat senang dan penuh syukur.


"Maaf, Pak. Beliau bilang ia rela memberikannya kepada istri anda." Arzen diam terpaku, lumayan kaget ada orang dengan baik hati memberinya cuma-cuma.


"Kalau begitu, apa saya boleh bertemu dengannya?" tanya Arzen ingin berterima kasih langsung.


"Sekali lagi maaf, Pak. Beliau tidak menginginkan itu."


"Kalau begitu, tolong sampaikan Terima kasih saya."


"Baik, anda tenang saja, beliau sangat senang menerimanya."


"Terima kasih, Dok. Semoga dia panjang umur."


Panggilan pun diakhiri setelah Aizhe datang.


"Arzen, lagi apa barusan? Siapa yang kau hubungi?"


"Cuma urusan sedikit kok, yuk kita pergi sekarang sebelum pesawat berangkat." Arzen menggandeng tangan istrinya dengan perasaan berbunga-bunga.


Sementara Arzen berada di dalam perjalanan, di rumah Nyonya Arita tampak si kembar mondar mandir karena mereka mengkhawatirkan Katherine yang tidak mau makan, apalagi tak mau keluar dari kamar.


Karena cemas, Ara mengambil hapenya dan menelpon Victor. "Doktell!" panggil Ara yang berada di samping kelima kakaknya.


"Hm, ada apa Nona manis menghubungi saya?" tanya Victor dengan ramah.


"Om Doktell, ke sini dong."


"Hm, kenapa? Nona Manis sakit atau Ibunya yang sakit?" tanya Victor yang ada di ruang kerjanya.


"Bukan Ala yang sakit, tapi Nenek Katlin." Ara menjawab dengan polosnya.


"Om, jangan banyak tanya. Cepat kesini saja!" desak kelima saudara kembar Ara sudah tak sabar ingin Neneknya diperiksa.


'Astaga, mereka mulai mirip dengan Arzen. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!' cicit Victor.


"Baiklah, saya segera ke sana." Victor berdiri, bersiap pergi.

__ADS_1


20 menit kemudian, Victor datang.


"Ihhh, Om Doktell kenapa lambat sekali?" ketus Ara cemberut.


"Maaf-maaf, di jalan tadi ada kemacetan anak manis." Gemas Victor mencubit pipi Ara yang menggemaskan.


"Ayo, Om. Sini, ikut kami." Axel dan kelima adiknya membawa Victor ke kamar Katherine. Seketika mereka diam dan berhenti ketika melihat Katherine mengemas baju-bajunya ke dalam koper.


"Nenek! Mau pergi kemana?" Enam anak kembar Aizhe masuk dan menghampiri Katherine.


"Bukan urusan kalian." Mereka terkejut karena nada suara Neneknya mulai berubah dingin lagi.


"Nenek, jangan pergi!" Zee dan Nathan menahan Katherine mengambil semua bajunya di dalam lemari .


"Sudah, lepaskan ! Saya bukan Nenek kalian." Katherine membentak dan sudah capek tinggal di rumah Arita.


"Hiks… Nenek, jangan pelghi, Ala minta maaf kalau sudah nakal," tangis Ara tak mau Katherine meninggalkannya karena sudah sayang padanya.


"Nyonya Kathe, anda sebaiknya tenang dulu, dan selesaikan baik-baik masalah anda pada Tuan Arzen," ucap Victor angkat suara. Ia heran mengapa Katherine berkata demikian.


"Tidak, saya sudah putuskan ini yang terbaik bagi saya." Katherine yang selesai mengemas pakaiannya, segera keluar dari kamar.


Katherine berhenti menyeret kopernya dan perlahan menoleh. Amarah dan sedih menyatu dalam hatinya, ia ingin membentak mereka lagi tapi ia merasa putus asa karena sadar dirinya tak memiliki hak untuk seenaknya di rumah ini.


"Tolong, dengar baik-baik, saya bukan Nenek kalian dan saya bukan bagian dari keluarga ini lagi." Katherine melepaskan tangan kecil Ara di tangannya. Dengan kecewa, ia melangkah menuju ke arah pintu.


Deg!"


Katherine terhenyak berhadapan dengan Arzen dan Aizhe yang baru pulang.


"Mama, ngapain bawa koper?" tanya Arzen. Katherine diam dan melirik Aizhe. Air matanya mau jatuh, tapi ia tahan sekuat mungkin.


"Mama kenapa? Mau kemana?" tanya Arzen lagi. Sedangkan Aizhe diam dan sangat penasaran apa yang terjadi. Dari perasaannya, ia merasa Katherine sedang menangis.


"Arzen, satu hal yang harus kamu tau, Mama bukan Ibu kandungmu, dan sekarang Mama sudah bukan bagian dari keluarga ini. Mama memang tak tahu malu, harusnya Mama keluar dari sini sejak dulu. Maafkan Mama tidak jujur padamu," lirih Katherine.


"Ma! Memang kenapa kalau bukan Ibu kandung Arzen? Mama itu tetap keluarga kita! Meskipun Papa sudah tiada, Mama tetap menantu di rumah ini," kata Arzen membujuk Ibunya.


"Tidak, Mama hanya orang asing sekarang. Berada di sini hanya menghabiskan harta kalian. Lagian Mama juga tidak berguna di sini dan cuma membebani hidup kalian." Katherine menghempaskan tangan Arzen.


"Semoga hidup kalian bahagia terus." Setelah mengucapkan kata terakhirnya, Katherine berjalan ke pintu gerbang rumah.

__ADS_1


"Daddy! Jangan biallkan Nenek pelghi!" mohon Ara memaksa Arzen mengejar Katherine sebelum menaiki mobil taksi. Arzen menatap Victor yang terkejut di sana setelah mengetahui rahasia besar keluarga pasien langganan nya.


Arzen pun berlari mengejar Katherine. "Mama, tunggu!" Menahan lengan Katherine, namun wanita yang telah membesarkannya itu tetap acuh dan mengabaikan Arzken.


"Mama! Berhenti!" teriak Arzen lantang.


Katherine berbalik badan dan tersanjung menerima pelukan Arzen. "Mama, tolong tetap di sini. Kami butuh Mama."


Katherine balas memeluk Arzen, pelukan yang jarang ia dapatkan akhir-akhir ini dari putra angkatnya. Walau Arzen tidak lahir dari rahimnya, ia sudah menganggap Arzen anak kandungnya. "Maaf, Mama tetap harus pergi." Katherine melepaskan pelukannya lalu pergi menundukkan kepala.


"Mama, ayolah, tetaplah bersama kami." Arzen terus menghalanginya dan membujuk Katherine tinggal.


"Arzen, daripada kamu tahan Mama, mendingan kamu cari Ibu Aizhe. Wanita itu yang layak jadi menantu Nenekmu dan Ibu mertuamu."


Arzen pun berhenti, diam terkejut mendengarnya.


"A-apa, maksudnya, Ma?" tanya Arzen terbata-bata.


Katherine melihat Aizhe dan dengan berat hati menjawab, "Istrimu itu adalah cucu asli Nyonya Arita. Dia anak Ericsson dengan wanita lain, jadi sekarang Mama sudah tak pantas tinggal di sini." Katherine kembali berjalan. Hatinya perih dan tersayat sakit. Ia juga tak tega meninggalkan kenangannya dengan Ericsson tapi rasa kecewanya sangat besar sekarang. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat seseorang berdiri di depannya. Ia bukan Arzen tetapi pengacara Nyonya Arita .


Katherine menghembus nafas berat, ia pikir kedatangannya ingin mencabut namanya dari kartu keluarga tetapi melainkan ingin memberikan kartu keluarga baru yang berisikan nama Aizhe dan anak-anaknya yang sudah resmi masuk ke dalam daftar anggota keluarga Nyonya Arita.


"Loh, kenapa nama saya ada di sini?" Katherine kaget dan menunjuk namanya ada di urutan kedua setelah Nyonya Arita.


"Hm, kenapa anda terkejut, Nyonya? Bukannya ini sudah benar?" ucap Pengacara bingung melihat reaksi menantu Arita.


"Sa-saya bukan lagi bagian keluarga ini, Pak. Sebaiknya anda ubah lagi," ucap Katherine lirih.


"Loh, ini sudah benar, Nyonya. Anda ini masih berstatus menantu Nyonya Arita, lagipula anda juga berhasil memberikan pewaris untuk Nyonya besar," kata pengacara itu makin membuatnya bingung.


"Hah, pewaris? Apa lagi yang kau maksudkan itu?" tanya Katherine di samping Arzen.


"Yang saya maksudkan ini tentu saja adalah Nona di sana, dia adalah anak Tuan Ericsson dengan anda, Nyonya," ucap pengacara menunjuk Aizhe.


"Apa??" Arzen dan Katherine kompak tercengang.


"A-anak saya? Kok bisa? Bukannya anak kami sudah meninggal? Kenapa tiba-tiba anda menuduhnya?" Katherine semakin tidak paham. Pengacara tertawa kecil melihat reaksi Katherine yang kaget. Ia pun menjelaskan sebenarnya yang terjadi di masa lalu.


….


Like ya Momā¤biar Flashback kedua Ericsson update secepatnya🄰selamat beraktivitas, Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2