KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 72 Donor Mata Untuk Mommy


__ADS_3

"Mama, kok lama banget pulangnya? Kalian tadi singgah di mana?" tanya Arzen. Ia duduk di samping Aizhe seraya menyuapi istrinya dengan buah anggur dan sudah lama menunggu anak-anak tukang ribut mereka pulang.


"Daddy!" Ara naik ke pangkuannya.


"Hm, kenapa?" tanya Arzen dan juga menyuapi Ara.


"Ara kok senang banget hari ini? Lagi ada apa di sekolah, sayang?" tanya Aizhe mendengar suara Ara terkekeh gara-gara Zee yang di sana masih ngambek.


"Arzen, Aizhe, tadi di jalan sedikit macet karena ada pohon tumbang di jalan. Sekarang Mama mau ke atas dulu. Kalian berlima juga buruan mandi, paham?" Katherine melihat lima cucu laki-lakinya yang basah kuyup karena tadi turun membantu warga dan supir memindahkan batang pohon.


"Paham, Nenek!" Mereka mengangguk bersama.


"Alhamdulillah, kalian baik-baik saja." Aizhe tersenyum penuh syukur dan mendengar lima anaknya berlarian ke kamar untuk segera mandi.


"Mommy, Daddy," panggil Ara masih di atas pangkuan Arzen.


"Kenapa, sayang?" tanya Arzen dan Aizhe tiba-tiba kompak, hingga Ara tertawa kikik melihat orang tuanya malu-malu.


"Tadi di sekolah, Kak Zee dapat hadiah," ucap Ara.


"Hadiah? Apa isinya?" tanya mereka lagi.


"Cincin, Dad!" jawab Ara menunjuk jarinya.


"Oh, cincin? Dari siapa?" tanya Aizhe penasaran.


"Ala ndak tau, Mi." Ara menggelengkan kepala.


"Kok ndak tau? Emang Ara nggak kenal sama anaknya?" tanya Aizhe dan merasakan Ara pindah di atas pangkuannya.


"Ndak, Mommy. Ala tadi entuh mau tanya sapa namanya, tapi anaknya udah peggi, anaknya cantik bangeeet, mommy!" jawab Ara sembari memeluk Ibunya. "Mommy, Ala ngantuk. Bobo sini dulu ya." Ternyata ia pindah karena ingin tidur di pelukan Aizhe. Memang anak yang paling manja!


Aizhe tersenyum dan mengusap kepala Ara. Namun tiba-tiba, Arzen yang melahap buah anggur besar, langsung tersedak setelah mendengar suara pekikan Zee yang menggelegar di kamarnya.


"Loyyeee, lepasin ituuuuu!!!"


Bahkan Ara yang lagi mimpi berenang di kolam coklat, langsung terperanjat kaget.


"Zen, kamu nggak apa-apa?" tanya Aizhe mendengar Arzen terbatuk-batuk.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi di atas sana?" Arzen yang sudah tenang, ia berdiri cepat dan pergi melihat ke kamar anak kembarnya. Begitupun Katherine yang cuma memakai jubah mandi dan handuk yang membungkus rambutnya, bergegas ke kamar cucunya.

__ADS_1


"Mama, ayo kita ke atas juga!" Ara menggandeng Ibunya menyusul Arzen.


"Hei, berhenti! Berhenti!! Ada apa ini?!" Arzen melerai Zee dan Chloe yang bertengkar seperti harimau dan singa yang sedang memperebutkan seekor tikus. Kedua anak itu saling mengacak di atas tempat tidur. Sedangkan Axel berdiri di depan Nathan dan Arzqa yang ketakutan.


"Daddy, Zee tiba-tiba ngamuk!!" Axel, Nathan dan Arzqa menjawab.


"Ya ampun, kenapa kalian berdua musuhan gini?" Katherine sampai tak habis pikir, Zee yang kadang pendiam tiba-tiba marah.


"Zee, kamu kenapa, sayang?" tanya Aizhe khawatir di samping Ara. Sedangkan Chloe, berhasil ditarik lepas oleh Arzen dari Zee. Anak keduanya itu, menangis jerit dan memeluk Aizhe dengan ketakutan. "Mommy, Zee mau potong tangan Loye, hiks."


"Apa??!" Semua orang kaget mendengarnya. Mereka pun menatap Zee di sana yang ngos-ngosan dan masih mengepal kedua tangannya. Namun sesaat, ia pun ikut menangis.


"Huwaaaaaa…."


"Zee cuma mau buka itu yang ada di tangan Loye. Ndak pernah mau potong tangan Loye." Ia mengusap kedua matanya yang banjir air mata.


Katherine lantas perlahan mendekat, membuang gunting kecil di tangan Zee dan memeluknya. "Kenapa Zee tadi pegang gunting?" tanya Katherine pelan-pelan.


Zee pun menunjuk jari Chloe.


"Itu, Nek. Zee mau ambil itu."


Arah mata Arzen mengikuti telunjuk Zee dan ternyata cincin pemberian dari gadis itu masih terpasang di tangan Chloe.


"Sekarang, Zee minta maaf, nanti biar Daddy yang buka itu di tangan Kakak mu." Ia menyuruh Zee, namun Zee enggan maju meminta maaf. Apalagi Chloe juga sama, tak mau maju karena takut pada adiknya.


"Zee, Loye, ayo sayang, jangan musuhan. Ini nggak baik loh, Nak." Aizhe memohon agar kedua anaknya segera akur.


Zee mengusap matanya, lalu mengulurkan tangannya duluan. "Maaf, Kak."


Chloe yang bersembunyi di belakang Aizhe, ia mengintip sedikit dan melihat tangan adiknya sudah kosong.


"Ayo, Loye. Jangan takut, Zee tadi cuma bercanda.." Arzen membujuk.


Chloe menggelengkan kepala, masih trauma karena hampir jarinya dipotong gunting. Ia pun melihat cukup lama cincin di jarinya yang tak bisa lepas.


"Kakak! Cepat sini! Kak Zee tadi ndak sengaja!" Ara menarik tangan kakaknya. Ia tak mau hubungan mereka hancur hanya karena cincin mainan.


Karena dibujuk terus-menerus dan melihat Zee di sana sudah tenang, Chloe maju perlahan lalu berdiri di depan Zee yang masih mengulurkan tangannya.


Chloe diam sejenak dan melihat semua orang menunggu . Chloe menarik nafas dalam-dalam lalu mengingat semua hal-hal baik tentang mereka dulu, agar kejadian tadi segera hilang dari pikirannya. Setelah merasa damai, Chloe perlahan menjabat tangan Zee dan saling bertatapan mata cukup lama. Kedua mata mereka terlihat sembab gara-gara menangis tadi. Tapi sekarang, perlahan, keduanya tersenyum dan berpelukan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kak," ucap Zee lirih.


Chloe mengangguk. "Iya, aku juga minta maaf."


Mendengar keduanya saling memaafkan, perasaan Aizhe pun akhirnya merasa lega. Semua orang juga merasa tenang melihatnya akur lagi.


"Papa, itu cepat buka cincinnya!" pinta Arzqa menunjuk tangan Chloe. Arzen lantas duduk di tepi ranjang dan memanggil Victor datang.


"Hm, kenapa panggil Om Dokter, Daddy?" tanya Zee dan Chloe. Bukti mereka sudah akur lagi. Namun, seketika Chloe menangis kembali setelah Arzen menjawab.


"Jari Loye itu mau Daddy amputasi."


"Huwaa… Mommy, Daddy jahat!" Chloe memeluk Aizhe yang tampak menahan kekesalan mendengar Arzen tertawa puas di sana.


"ARZEN!!" bentak Katherine menjewer telinganya.


"Aduh, aduh, maaf, Ma. Aku cuma canda kok."


"Hihihi, Daddy jahil!" tawa Ara di samping Axel, Nathan dan Arzqa yang menggelengkan kepala. Sedangkan Zee menahan tawa melihat Arzen sengaja agar ikut disalahkan.


Tiba-tiba, suara klakson terdengar di luar rumah.


"Wah! Itu pasti Om Doktell!" ujar Ara senang dan mereka lantas bergegas keluar melihatnya. Tak disangka, dugaan mereka salah karena yang kini berdiri di hadapannya adalah sang Nyonya besar, Arita. Katherine pun dengan cepat, menggenggam tangan Aizhe dan berdiri di samping semua enam cucunya dengan tatapan dingin dan perasaan yang cemas, karena raut wajah Arita yang dingin itu tampak sulit diartikan malam ini.


Katherine berharap, mertuanya itu tak berencana pulang untuk merebut anak dan cucunya. Sedangkan Arzen sedikit khawatir melihat rona wajah Arita yang pucat pasi dan bibir yang berwarna sedikit kelabu.


"Hm, Nenek, dari mana saja baru pulang?" tanya Arzen di samping Aizhe yang tampak sangat gugup berhadapan dengan Neneknya yang sudah tega membuangnya dulu. Empat rasa di dadanya serasa menjadi satu. Sedih, kecewa, marah, dan sakit, semua itu ingin Aizhe lampiaskan sekarang.


Namun, sebelum ucapan Arzen dijawab, tiba-tiba suasana yang diselimuti ketegangan berubah saat Arzen mendapat panggilan.


“Siapa itu, Daddy?” tanya enam anak kembarnya lalu mengerutkan dahi melihat ayah mereka diam terkejut.


“Ada apa denganmu, Arzen?” tanya Katherine.


“Mama… a-aku dapat kabar baik, tidak lama lagi, Aizhe sudah bisa melihat,” ucap Arzen sembari menahan tangis bahagianya.


“Me-melihat? Apa maksud, Daddy?" tanya mereka.


Arzen menatap Aizhe seraya mengulas senyum simpul. “Anak-anak, Daddy barusan mendapat kabar baik dari Dokter Victor, jika ada seseorang yang berbaik hati lagi ingin mendonorkan matanya kepada Ibu kalian dan besok, Ibumu sudah bisa melakukan operasi.” Arzen menarik tubuh Aizhe ke dalam dekapannya. Aizhe lantas diam, tidak bisa berkata-kata. Namun, di dalam hati, dia menangis karena impian anak-anaknya telah dikabulkan.


Axel, Chloe, Nathan, Arzqa, Zee dan Ara diam terenyuh mendengar kabar dadakan itu dari ayah mereka. Donor mata? Siapa orang itu?

__ADS_1


Sementara Katherine, melirik Nyonya Arita di sana yang belum mengatakan apapun.


Apa jangan-jangan orang itu…..


__ADS_2