KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 61 Permintaan Terakhir


__ADS_3

Setelah berziarah, Katherine membawa mereka pulang. Ia merasa lega dan tenang sudah mengenalkan enam cucunya pada kakek mereka. Sekarang, setelah membersihkan diri, Katherine hendak mengajak mereka keluar, namun secara kebetulan Nyonya Arita pulang.


"Hm, Ibu dari mana saja?" tanya Katherine biasa.


"Nenek kok tidak pernah tidur sini?" tanya lima cucu laki-lakinya.


"Nenek kemana saja?" tanya Ara juga ingin tau.


"Hanya urusan biasa, tapi sekarang Nenek mau pergi lagi. Kalian di sini baik-baik saja sama Nenek kalian," ucap Nyonya Arita dan melihat Katherine. Ia kemudian menuju ke kamarnya. Apa yang dilakukan Arita, mulai membuat Katherine penasaran ingin tau urusan apa itu. Namun, untuk hari ini ia perlu keluar membawa cucunya dulu karena ia mulai bosan di rumah terus.


Katherine membawa mereka menonton bioskop, makan, ke taman Disneyland dan masih banyak lagi yang membuat anak-anak kembar Aizhe bahagia. Bahkan Katherine mengajak mereka berbelanja sepuasnya. "Yeahh… makasih, Nenek!" ucap mereka turut senang mendapatkan traktiran gratis.


"Terima kasih kembali," kata Katherine juga senang ada yang menemaninya berbelanja. Apalagi semua orang memusatkan perhatiannya pada mereka hingga Katherine diajak berfoto bersama. Foto mereka pun diekspos ke media sehingga Aizhe dan Arzen tersenyum senang melihat hubungan mereka semakin kuat. Namun tidak di mata seseorang yang hanya menatapinya dengan tatapan biasa namun merasa kagum.


"Sekarang, apa kau menyesal?" tanya orang itu kepada Nyonya Arita yang saat ini duduk berhadapan dengannya.


"Untuk itu, saya memang menyesal. Seharusnya saya tidak langsung memutuskan untuk membuangnya." Nyonya Arita menatap dengan mata sayu. Perlahan-lahan ia menangis diam.


"Ini kesalahan saya yang terlalu egois, gara-gara ini saya kehilangan Eric." Sebagai Ibu yang menyayangi anaknya, Nyonya Arita merasa hancur.


"Sekarang apa yang anda pilih? Apa anda akan terus menyembunyikan kebenaran ini?" tanya orang itu mengenakan jas putih.


"Saya tidak tahu, semua ini terlalu berat bagi saya." Nyonya Arita semakin menunduk. Wataknya yang keras hari ini tiba-tiba rapuh dan lemah. "Dosa saya sudah sangat banyak, terutama pada mereka."

__ADS_1


"Mereka menderita karena kezaliman saya. Saya sangat berdosa. Sangat tidak layak dimaafkan." Nyonya Arita terisak-isak.


" Nyonya Arita, manusia memang tak luput dari kesalahan, namun kita masih bisa berupaya untuk berubah dan Tuhan maha pemaaf. Anda sudah berusaha yang terbaik sekarang, dan saya yakin kesalahan anda masih bisa dimaafkan, baik itu pada Eric bahkan kepadanya." Orang itu menenangkan Nyonya Arita.


"Jika memang ini satu-satunya yang bisa menebus kesalahan dan dosa-dosa saya, saya harap anda bisa mengabulkan permintaan terakhir saya tadi," ucap Nyonya Arita melihatnya.


"Baiklah, kalau itu yang ada inginkan, saya akan melakukannya sebaik mungkin." Orang itu mengangguk dan menyepakati sesuatu.


"Terima kasih." Nyonya Arita pergi meninggalkan rumah sakit. Sedangkan Katherine baru sampai di rumah. Ia pun heran karena Ibu mertuanya lagi-lagi tidak menginap di rumah. Karena capek, Axel pergi istirahat bersama lima adiknya, sementara Katherine berjalan ke arah kamar Nyonya Arita. Karena merasa penasaran, ia masuk ke dalam dan mengamati isi kamar Ibu mertuanya.


Arah matanya pun menangkap sesuatu di bawah lemari. Katherine membungkuk dan memungut selembar kertas aneh.


Kedua alis tebalnya yang hitam terangkat ke atas. "Hm, tes DNA? Siapa yang melakukan ini? Apa itu Ibu? Tapi untuk apa?" Katherine yang penasaran isinya, ia membaca keseluruhan hasil tes DNA itu.


"Apa mungkin artinya…. dia–“ Katherine yang masih syok tak bisa berpikir jernih lagi. Ia segera keluar membawa kertasnya saat mendengar suara mobil datang. Ia pikir itu Arzen, melainkan Davis yang datang ingin melihat kondisi anak atasannya.


" Om, datang ke sini mau apa?" tanya enam anak kembar Aizhe datang menyambutnya. Arah mata Davis beralih ke Katherine yang datang sambil memegang hasil DNA dari Arita. Menantu dari mantan atasannya itu pun menangis, membuat enam cucunya terkejut.


"Davis, apa kau tau apa maksud dari kertas ini?" Katherine merasa Davis mungkin tau sesuatu.


"Ya, Nyonya. Saya paham apa yang anda ingin dengarkan," ucap Davis tersenyum.


"Kalau begitu, tolong katakan pada saya, apa ini benar?" Dengan suara bergetar dan genangan air mata di pelupuk nya, Katherine bertanya. "Ini sungguh asli?"

__ADS_1


Enam anak kembar Aizhe saling menatap bingung.


"Mari Nyonya, ikut dengan saya." Davis ingin menjawabnya empat mata dengan Katherine saja. Katherine pun pergi ke balkon bersama Davis dan meninggalkan si kembar yang kini mengerti jika Nenek mereka sedang terguncang.


Davis pun menjelaskan apa yang ia pahami jika Aizhe merupakan anak dari Ericsson. Katherine diam, menahan nafas dan keterkejutan nya namun percuma air matanya pecah di depan Davis.


"Ini pasti bohong, semuanya tidak benar!" Ia merasa hancur seketika.


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi inilah kenyataannya," ucap Davis merasa kasihan.


"A-apa kau tau siapa wanita yang melahirkannya?" tanya Katherine serak dengan mata mulai bengkak.


"Maaf, saya belum mengetahuinya," jawab Davis. Katherine berdiri, lari masuk ke dalam kamarnya. Ia meracau kesakitan di dalam sana. Ia merasa suaminya yang setia dan paling mencintainya telah berkhianat.


"AKU BENCI KALIAN SEMUA, AKU BENCI KAMU, ERIC!"


Katherine mengerang dan mengacak isi kamarnya, sampai si kembar terkejut dan ketakutan.


"Kakak…. Ala takut…." Ara memeluk Zee, sedangkan yang lainnya mencegah Davis pulang. Mereka ingin tau mengapa Nenek mereka tiba-tiba marah begitu. Davis pun menjelaskan jika Ibu mereka adalah cucu utama Nyonya Arita, pewaris yang asli dari keseluruhan harta Nyonya Arita. Enam anak kembar itu terguncang hebat mengetahui Ibu mereka yang buta dan cacat itu ternyata memiliki uang yang sangat banyak.


.


😢

__ADS_1


__ADS_2