
Visual Ratih / Anjani
.
.
.
.
Pandangan mata Varo berayun tak jelas menyusuri pemandangan di luar jendela dari dalam kelasnya. Kenapa tak jelas, karena di otaknya sedang menghayalkan Kencana Utari Dewi yang sudah membuatnya menggila. Terlihat sangat kentara dengan senyuman indah merekah di wajah manisnya, tak mungkin siswa SMA kelas 3 itu hanya mengagumi langit cerah pagi itu.
"Oyyyy udah sinting ni anak!" gumam Ravael, Ravael adalah teman sekelas dan juga teman sebadungan dengan Varo.
"Pasti karena cewek tempo hari!" sahut Milen, yang baru saja masuk ke dalam kelas setelah menemui guru dari kantor.
"Aissssssss.....bisa gila gue!" desah Varo kesal dia mengacak-acak rambutnya yang sudah di cat hitam lagi.
"Datengin aja rumahnya..... bego amat sih loe!" nasehat Milen.
"Nanti gue di bilang murahan!" ujar Varo dia seketika lunglai dan melempar kepalanya ke meja untuk bersandar.
"Ya elehhhh dari pada elo ngeluh sepanjang hari gini bikin gue pusing!" Milen duduk di depan Varo yang memang adalah mejanya.
"Cewek itu lebih suka cowok yang fack dan murahan!" kata Ravael yang duduk di mejanya yang sejajar dengan Varo.
"Gitu yaaaa, dia suka cowok yang rapi dan juga wangi dan berambut hitam.....dia berbicara soal ciuman saat itu maksutnya apa!"
Bruakkkkk
Semua orang di dalam kelas itu kaget dan mengerutu ke arah Ravael yang penandang aksi penggebrakan meja karena mendengar kata "ciuman" dari mulut Varo.
"Tentu saja dia ingin kau menerkamnya lebih dulu!" kata Ravael yang membuat Milen dan Varo bengong di campur ekspresi bingung.
"Bego itu gratis tapi jangan di borong donk.....gini yaaaa....saat cewek mengatakan sesuatu tentang kontak fisik....itu artinya dia ingin di kejar!" lanjut Ravael,
"Tapi Utari ngak lari el!" sepertinya penjelasan Ravael sama sekali tak merasuk ke otak bodoh Varo.
__ADS_1
"Dia sedang lari darimu bambang !, dia jauh-jauh datang ke sini untuk menemui mu dan setelah melihatmu.....dia tak datang lagi !, apa Utari itu tak suka padamu?" Ravael malah mengarang cerita di kepalanya.
"Lalu gimana kalau Utari tak suka sama gue....kalian harus bantu gue yaaaa!" mohon Varo.
"Cinta itu ngak bisa di paksakan, apa lagi pada wanita secantik dan sekeren Utari itu!" gumam Milen yang memang ikut melihat Utari saat pertama kali Utari menemui Varo.
"Gue yakin dia suka kok sama loe...kalau ngak suka dia tak akan membahas kata ciuman sama elo!" kata Ravael, membuat Varo sedikit lega.
"Bener juga!" gumam Milen.
"Sekarang giliran elo yang bertindak, dekati dia....pepet terus sampe dia klepek-klepek sama elo!" nasehat Ravael akhirnya di mengerti sama Varo dan Milen karena dua kepala beda isi itu menganguk-anguk.
"Masalahnya gue ngak tau rumahnya dan ngak punya no hpnya!" kata Varo dengan wajah menyedihkannya.
"Mati aja deh loe!" suruh Milen pada Varo karena begonya ngak ketungan.
"Kalian tega baget sih ama gue!" desah Varo yang semakin sedih melihat kedua temannya tak mengubrisnya lagi.
Varo tak bisa apa-apa karena guru sudah memasuki ruangan kelasnya, jadi dia harus diam dan belajar.
.
.
.
.
Pandangan mata biru Utari tertuju pada kuncup baru di ranting yang sama di mana kuncup lain muncul kemarin.
Sebenarnya apa yang membuat pohon ini mau berbunga...?
Ku rasa aku tak melakukan hal-hal yang istimewa...
Apa membuat Salendra kesal....
Apa itu alasannya....
Utari sudah berdiri di depan ruangan guru di sekolahan tempat Aska mengajar dan tempat Varo bersekolah.
Aku harus selalu berada di dekat Aska....
Tapi bagaimana caranya....
__ADS_1
Tidak mungkinkan, aku bersekolah di sini...
Bunyi bel tanda kelas berakhir berbunyi, dan suara keras itu membuat Utari kaget dan seketika itu juga dia memangil pedang esnya karena refleks dengan suasana yang di angap bahaya.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Aska yang baru saja keluar dari kelasnya yang kebetulan berada tak jauh dari kantor.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aska pada Utari yang masih di selimuti kekuatan esnya.
Utari yang baru saja sadar bahwa ada manusia yang mengajaknya bicara padahal dia ada di mode tak terlihat. Utari memandang ke arah asal suara maskulin itu dan dia tak merasa aneh karena Aska yang melihatnya.
Aska satu-satunya manusia yang tak terpengaruh akan sihir Utari, karena itu Utari merasa Aska adalah alasan pohon kehidupan bisa berbunga.
"Apa yang membuatmu kesal?" tanya Utari to the point.
"Kamu!" jawab Aska cepat.
Utari yang merasa sudah menemukan jawaban akan keinginannya pun menarik Aska yang masih di depan ruangan kantor dan memepetkan tubuh gagah Aska di tembok ruangan tersebut.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aska dengan nada takut.
Utari mengelilingi tubuh mereka berdua dengan kekuatannya agar Aska tidak kabur, dan Aska merasa sangat ke dinginan karena suhu yang di hasilkan perisai es Utari berada di bawah titik beku.
"Jika kau benci padaku, kau pasti sangat kesal jika aku menciummu kan?" pertanyaan Utari membuat Aska membeku karena kaget. Bagaimana bisa wanita ini mengatakan itu dengan santainya.
Tanpa aba-aba Utari sudah menempelkan bibir manisnya ke bibir Aska, kecupan lembut bibir Utari membuat Aska terbelalak kaget. Tapi Aska tak bisa menolak bibir manis Utari yang dengan lembutnya mengecup bibirnya, karena sebuah ingatan muncul di otak Aska.
Aska merasa pernah berciuman dengan Utari, bibir ini perasaan ini Aska merasa pernah di satu situasi yang sama. Karena terbawa alam bawah sadarnya yang mengingat ingatan Salendra, Aska membalas ciuman Utari dan tangannya mengunci pingang dan tengkuk Utari agar kenikmatan berciumannya semakin bertambah.
Seakan mengulang masa lalu, di mana kedua manusia itu saling mencintai dan juga saling merindukan. Kecupan-kecupan liar Aska membuat Utari terdiam tak berdaya, baginya ciuman buas yang penuh cinta dari Salendra 900 tahun yang lalu hanyalah di angap mimpi bagi Utari. Tapi kini hal itu tampak sangat nyata karena seperti mengulangi hal yang sama.
Utari mendorong dada Aska agar menjauh dari tubuh Utari, nafas keduanya terengah karena aktifitas peraduan bibir yang membuat keduanya mengenang masa 900 tahun yang lalu.
"Kenapa?" Aska bertanya pada Utari dengan nada yang mirip dengan Salendra.
Lelaki jahat....
Untuk apa kau muncul lagi...
Apa untuk mengetarkan hatiku lagi...
Tapi apa kau tau aku sudah tak mempunyai hati....
__ADS_1