
Lalu bagaimana kita bisa bertemu Utari,
Hanya takdir yang bisa mempertemukan kita dengan mahluk seperti Utari.
Kecuali seseorang yang sangat mengenalnya.
.
.
Sejak perpisahannya dengan Aska, Ratih belum bisa ikhlas. Gadis ini masih saja sering menangis di malam hari ketika sholat sunah tahajut.
Cuma dua hari berselang, dia harus bertemu dengan lelaki lain untuk proses taaruf. Hatinya masih belum bisa kehilangan Aska.
Dia fikir dengan menolak pacaran dengan Aska, maka lelaki idamannya itu akan setuju langsung taaruf. Tapi tak sesuai harapan, Aska malah sama sekali tak menghubungi atau ingin bertemu dengan Ratih lagi.
Mungkin Aska sudah bertemu wanita lain yang lebih cantik, tentu saja mungkin iya. Hal yang membuat hati Ratih yang penuh dengan kesabaran akhirnya terbakar, dan tak bisa dia kendalikan.
Dia ingin minta tolong tapi pada siapa, karena penampilan yang dia pilih kini sudah membatasi ruang geraknya sendiri. Dia yang memasang pagar pembatas untuk agar di jauhi mala petaka, tapi dia juga membatasi dirinya sendiri untuk melangkah lebih bahagia.
Ratih hanya bisa sedikit memata-matai Aska ketika pagi, dia memanfaatkan keberadaan Mang Soleh yang setia selalu berjualan setiap hari meski cuaca sedang mendung.
Suara dentuman itu berkumandang di penjuru gendang telinganya, sudah seperti pangilan sholat bagi Ratih. Dia langsung beranjak dari aktifitas menyapu lantai rumahnya untuk keluar dan melihat untuk memastikan tukang bubur itu Mang Soleh atau bukan.
Ratih sudah merencanakan semua ini dari semalam, dia akan membeli bubur seperti biasa dan Aska akan duduk di meja depan kosannya untuk sarapan bubur. Lelaki itu pasti akan langsung menyapanya seperti biasa ketika mendengar suaranya yang lembut.
Ratih bersiap untuk melakukan skenario yang sudah dia rancang, dia meyakinkan diri agar tak terlalu gugup. Dia harus berakting senatural mungkin, dia tak boleh mencolok dan di kira mengejar Aska.
Ratih berjalan lebih tergesa dari bisanya dia tak ingin kehilangan kesempatannya pagi ini untuk kembali mendapatkan perhatian Aska.
Senyum tipis tersunging di wajah manisnya saat melihat Aska duduk manis di kursi biasanya dengan wajahnya yang selalu tampan. Aska menunggu semangkok bubur Mang Soleh dengan raut muka penuh harapan, Aska akhirnya bisa sedikit lega karena setidaknya tak harus sarapan dengan Utari.
Ratih masih sempat mengecek suaranya dengan berdehem, setelah yakin tengorokannya tak serak dia baru membuka mulutnya.
"Tiga Mang di bungkus, seperti biasa ya Mang!" kata Ratih, dia tak berani melihat ke arah Aska.
Bubur sudah selesai di bungkus dan tak ada spaan dari Aska, Ratih tampak kecewa dan melihat ke arah Aska yang tengah sibuk makan buburnya dan asyik dengan layar datar di depan mukanya.
__ADS_1
Senyum Aska mengembang sempurna di depan layar ponselnya, seakan kebahagiaan memandang layar itu melebihi memandang Ratih.
Karena hal itu membuat Ratih sadar.
Bagaimana pun Aska seorang pemuda yang mempunyai segalanya pasti akan sangat di rendahkan karena sudah di tolak oleh keluarganya yang berfikiran sempit, memgangap bahwa apa pun yang ada di Al Qur'an itu benar dan harus di lakukan.
Tentu saja Aska merasa sakit hati dan tak ingin dekat-dekat lagi dengan Ratih.
Ratih berbalik karena ingin menyembunyikan wajah sedihnya.
"Dek Ratih kembaliannya belom!" kata Mang Soleh yang cuma kebagian tiga dialok sepanjang 35 episode ini.
Ratih berbalik lagi dan menerima kembaliannya dari Mang Soleh secara kasar.
"Ngak biasanya, dek Ratih kasar gitu!" kata Mang Soleh yang langsung duduk di depan Aska yang masih sibuk dengan buburnya.
"Lagi dapet kali Mang!" kata Aska.
"Dapet apa?" Mang Soleh malah balik nanya.
"Ehhhh kamu ngak nyapa dia, kayaknya dia ngarep baget kamu sapa!" kata Mang Soleh, Aska terdiam sejenak dan lanjut makan lagi.
"Masa sih Mang, udah pidnah profesi nih dari Kang bubur jadi Para ngak normal!" ledek Aska lagi.
"Bener Ka, bisa di lihat dari wajah cemberutnya saat nerima kembalian tadi!" Kata Mang Soleh.
"Ya siapa coba yang ngak ingin gue sapa...Aska pria tertampan di kosan kutcut ini!" kata Aska dengan pedenya.
Mang Soleh segera melengos, males nagapin Aska yang udah di mode super narsis. Lagi pula ada pembeli yang datang dan minta di layani.
Aska terdiam dan memikirkan apa yang di katakan Mang Soleh dan apa yang dia tangkap dari wajah besengut Ratih barusan.
Ratih sudah mendapat jodoh yang baik seperti Jernih Devano, dia tak ingin menjadi penghalang antara mereka. Meski Aska masih tak yakin dengan apa yang dia rasakan pada Utari tapi dia sudah bertekat untuk melupakan Ratih.
.
.
__ADS_1
.
.
Hari ini rumah Utari tampak ramai di kunjungi oleh banyak mahluk aneh, Ada yang datang dengan mobil mewah dan penampilan moderen atau naik kuda dengan baju kerajaan zaman dulu. Serta ada yang masih di kondisi wujud siluman mereka.
Acara yang di hadiri oleh bangsa lelembut high class setiap tahun.
Para siluman yang sudah hidup lebih dari 100 tahun yang bisa datang ke pertemuan ini, siluman yang sudah mempunyai kekuatan supranatural.
Serta beberapa arwah manusia yang meningal karena kutukan tentu saja manusia dengan kesaktian luar biasa yang bisa bertahan dalam wujud arwah selama ratusan tahun di bumi.
Untuk apa para mahluk ini datang ke kediaman Utari, mereka harus mengambil energi dari pohon kehidupan agar tetap bisa hidup untuk setahun kedepan.
Dan sebagai imbalan, biasanya mereka akan di minta Utari untuk mencari beberapa nyawa manusia yang tamak agar pohon kehidupan selalu beraura biru.
Jika aura biru di pohon itu memudar, dunia akan kacau musim tidak teratur dan banyak wabah menyerang dunia. dan jika auranya sampai merah, maka akan terjadi perang besar di dunia perang dunia 1 dan ke 2. Di saat Utari sibuk menjadi petani dan tak cukup mencari tumbal.
Utari yang sudah mempersiapkan rumahnya di tata sedemikian rupa supaya terlihat seperti sebuah pesta para bangsawan. Dekorasi yang indah dengan nuansa putih, meja-meja di tata rapi mengelilingi lantai pertama rumahnya yang luas.
Banyak jenis makanan yang di tata di meja prasmanan, dari yang normal sampai yang tak normal.
"Karena pohon kehidupan sudah mulai berbunga, aku menyambut kalian dengan meriah!" kata Utari yang langsung di beri tepuk tangan bahagia dari para mahluk-mahluk yang datang ke rumahnya hari ini.
Suasana saat ini sangat berbeda sekali dari tahun-tahun sebelumnya, mereka bisanya akan di sambut dengan aura hitam dan penindasan yang kejam. Jika tak memenuhi target, mereka tak akan mendapat energi dari pohon kehidupan dan bisa saja mereka mati tahun itu.
"Apa itu artinya anda akan segera pengsiun Nona?" tanya Elang Angka Wijaya si Siluman buaya putih yang kini duduk di dekat Utari dengan jas tuxedo moderen berwarna biru navy.
"Apa kau mau mengantikanku Elang?" tanya Utari dengan senyum berkibar di udara.
Suara yang semula riuh segera sunyi tak kala Utari mengatakan hal itu, semua memandang ke arah Utari dengan penuh ketakutan.
"Yaaaaaa kenapa diam, aku sedang bahagia...ayo kita senang-senang!" kata Utari dengan senyum tak lepas dari bibir manisnya.
Meski cangung, para mahluk astral yang ada di pesta itu mencoba untuk bahagia. Mereka tau Utari akan meminta kematiannya jika pohon kehidupan itu bisa berbunga dan gugur. Mempunyai pemimpin baru, menyesuaikan diri dengan kepribadian pemimpin baru bukanlah hal yang mudah.
Bagaimana jika penjaga berikutnya lebih kejam dari pada Utari.
__ADS_1