Kencana Utari

Kencana Utari
Rantai Kecrèk kecubung


__ADS_3

Kegiatan camping selama dua hari di Sajir ini benar-benar sangat kacau, beberapa siswa Neverland kesurupan dan ada yang sempat hilang di hutan juga.


Wisata sejarah yang berujung wisata horor. Berkat penjaga dan Papa Tibi semua siswa bisa kembali ke jakarta hari ini. Meski rasa takut dan mencekam masih menghantui para siswa Dan ada satu mahluk yang ikut serta rombongan kami ke Jakarta.


SuSi si Sulung Sial, si Anak Teror.


Hanya hal ini yang bisa Aska lakukan untuk menghentikan teror si Sulung Sial, mengiming-iminginya dengan pergi ke taman bermain yang besar dan asik di Jakarta.


Karena Itu pula SuSi selalu menempel padanya dan goceh-ngoceh tak jelas, sulit untuk di tangapi oleh Aska. Tapi juga sulit untuk di abaikan begitu saja.


Hantu anak kecil yang gentayangan karena semenjak dia hidup dulu dia tak pernah di perhatikan orang lain bahkan ibunya sendiri.


Aska berencana mengantar SuSi ke rumah Utari agar bisa bermain dengan hantu lain, setelah itu Aska akan mencari waktu untuk membawa SuSi ke taman bermain dan mengembalikannya ke gunung ini lagi.


.


.


.


.


Benar-benar tak sesuai harapan, Aska harusnya sadar Utari itu mahluk paling kejam di dunia ini.


SuSi sudah di ikat oleh rantai aneh dengan aura merah yang membuat tubuh kecil gadis hantu itu kesakitan.


"Apa kau ingin aku membunuh dia.?" bentak Utari.


"Kau tau apa yang paling aku benci?" Utari menghentikan kata-katanya karena menahan emosinya. "Anak kecil yang berisik, kotor dan membuat onar!" teriak gadis setan itu membuat semua hantu dan manusia di rumah menunduk takut dan bergidik ngeri.


"Aku tak mau tau, anak kotor yang berisik ini harus lenyap dari hadapanku sekarang juga!" kata Utari pada Aska yang sudah siap untuk berargumen.


"Kau mengerti?" tanya Utari, dan kata-kata lanjutan gadis setan itu sudah mematahkan semangat Aska untuk mempertahankan SuSi di rumah ini.

__ADS_1


Si Sulung Sial itu terlihat seperti manusia kecil yang imut saat berada di dekat pohon kehidupan. Visualnya jauh berbeda dengan si Sulung Sial di hutan Sajir yang bermuka pucat yang menghitam dan selalu menyeringai menyeramkan.


Utari langsung pergi dari rumahnya karena dia harus berkerja, sementara Aska tak punya pilihan lain selain mengantar SuSi kembali ke Sajir.


Aska pun mendekati SuSi yang tergeletak dengan ikatan rantai kecrèk kecubung yang akan memberikan sensasi rasa terbakar pada mahluk yang di ikat senjata goib itu.


"SuSi, maafkan aku....!" kata Aska, dia duduk bersimpuh dengan wajah sedih dan hampir menangis.


"Tuan Aska jangan sentuh rantai itu, anda bisa mati nanti!" kata Mbok Jumi.


Aska tak menjawab, rasa tak teganya pada SuSi telah mengalahkan rasa takutnya. Saat Aska mau menyentuh rantai itu, rantai itu tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.


SuSi yang masih pingsan segera di pindahkan ke kamar di lantai bawah.


Apakah anak sekecil ini harus menerima begitu banyak kebencian, bahkan setelah menjadi hantu dia masih saja menerima kebencian dari semua orang.


Bukankah wajar jika anak kecil bersikap begitu usil, meski merugikan orang lain tapi apa yang di lakukan oleh SuSi adalah hal wajar karena dia belum bisa berfikir dengan logika.


Aska masih duduk di tepi ranjang untuk menemani SuSi yang mungkin sedang sekarat. Mbok Jumi dan Haruto sibuk menyiapkan banyak hal untuk merawat tubuh kecil SuSi yang rapuh.


"Tuan tenang saja, tak ada hantu yang mati untuk kedua kalinya !, jika Nona Utari melepas rantai itu dari tubuh gadis kecil ini, itu artinya Nona belum berniat mengirim SuSi ke alam baka!" jelas Mbok Jumi.


"Anak ini mengingatkan ku pada putriku!" kata Mbok Jumi lagi dengan wajah yang langsung berubah jadi sedih.


Dengan telaten Mbok Jumi merawat SuSi, menganti pakaian kotornya yang mungkin sudah dia gunakan selama se abat dengan gaun merah yang indah dengan manik-manik yang menyala di setiap sudutnya.


"Tuan Aska, bolehkah SuSi di sini untuk beberapa hari?" tanya Mbok Jumi.


"Utari akan marah jika melihat SuSi berkeliaran di rumahnya!" kata Aska, telapak tangan lebarnya membelai wajah gadis imut yang masih tertidur itu.


Bagaimana SuSi bisa mati di usianya yang masih kecil ini, siapa yang tega menyakiti mahluk semanis ini....benar-benar b.i.a.d.a.p.


"Tuan, saya akan memastikan Nona tak akan melihat SuSi!" kata Haruto yang berusaha meyakinkan Aska.

__ADS_1


"Tapi jika SuSi di siksa lagi bagaimana, aku tak tega Haruto!" kata Aska,


"Saya akan melindungi dan menyayangi SuSi seperti putriku sendiri Tuan, saya mohon!" pinta Mbok Jumi.


Aska terdiam melihat wajah Mbok Jumi yang begitu memelas. Benar, ini kesempatan bagi SuSi untuk menerima kasih sayang dari seorang ibu. Mbok Jumi pasti juga merindukan anak-anaknya yang sudah pergi ke alam baka duluan. Mereka pasti akan bahagia jika bersama.


"Baiklah, tapi kalian harus menjaga SuSi jangan sampai Utari melihatnya!" kata Aska.


"Tuan Aska tak perlu khawatir....aku adalah mantan pasukan elite jepang, aku pandai bersembunyi!" kata Haruto dengan sombongnya.


"Apa itu berguna untuk mengelabuhi Utari!" kata Aska, sambil tersenyum meledek.


Karena Aska harus menghadiri pertemuan dengan keluarganya dia pamit pergi pada Haruto dan Mbok Jumi, dan masih saja nerocos soal melindungi SuSi dari kekejaman Si Jelmaan Setan Iblis Utari.


.


.


.


.


Di sebuah ruangan Presiden Direktur yang mewah, seorang lelaki berusia 50an sedang menikmati sebatang rokoknya yang dia hisap dengan pipa gading gajah yang di ukir dengan motif bunga mawar yang indah.


Pintu besar di depan ruangan itu terbuka dengan sendirinya, gadis cantik dengan gaun putih gading polos yang melekat di tubuh indahnya. Tak lupa blezer putih bersih yang di hiasi mutiara di tepiannya. High Heels putih yang di taburi Swarovski . Tas tangan Dior berwarna perak yang selaras dengan pancaran berlian Swarovski di Heelsnya.


Utari dengan santai dan elegan seperti biasanya mendekati pria tua yang duduk di balik meja kerjanya.


Pria itu tampak tersenyum bahagia, menyambut kedatangan iblis ini tak seperti manusia lain yang akan ketakutan saat di datangi Utari.


"Ku pikir kau tak akan datang kali ini!" kata lelaki tua itu masih dengan raut wajah bahagia.


"Kenapa kau berfikir begitu, Tuan Kandar Wibisana?" tanya Utari, dia segera duduk di sofa yang di tata rapi di depan meja kerja mewah yang terbuat dari akar pohon jati yang sangat astetik.

__ADS_1


Pria tua itu bangkit dari kursi putarnya dan duduk di sofa di depan Utari.


"Aku mengorbankan orang yang paling ku cintai!" kata lelaki tua itu dengan senyum bahagia yang malah terlihat menyeramkan karena apa yang dia fikirkan.


__ADS_2