Kencana Utari

Kencana Utari
Indra keenam


__ADS_3

Aska bisa melihat benang merah yang terikat di tangan Ratih dan Pria itu, dia terpaku. Bukan karena cemburu, tapi karena merasa aneh dengan matanya. Bagaimana dia bisa melihat hal-hal semacam itu, Aska berfikir Utari pasti menyihirnya.


Penglihatan yang dia dapat sekarang, membuatnya bisa melihat benang takdir seseorang. Alhasil Aska langsung melihat ke arah tangannya yang kosong tak ada sehelai pun benang di sana.


Sudut matanya memicing ke tangan kanan Utari yang terdapat benang merah di sana, semua orang punya benang di tangan mereka dengan warna yang berbeda-beda. Kenapa hanya dia yang tak mempunyai.


"Bahkan hantu sekali pun masih punya takdir, kenapa kau tak punya?" tanya Utari pada Aska yang masih terdiam di tempat dia berdiri.


"Apa kau ingin punya takdir, kau bisa mengorbankan nyawa orang yang kamu cintai untuk mendapatkannya!" Kata Utari yang terus saja memandang ke arah Ratih dan pria yang pernah dia temui di Arkana Tower yang sedang ngobrol di samping mobil Lamborghini Urus berwarna kuning itu.


Aska cukup lama berkutat dengan teori-teori konspirasi kemistisan di dalam otaknya, hinga dia sadar mobil kuning itu mengaum dan merderu meningalkan gang sempit itu.


Aska bisa melihat wajah pengemudi yang tak lain adalah pria yang pernah di peluk oleh Utari, dan saat Aska memikirkan itu dadanya menjadi sesak.


Aku cemburu buta pada setan iblis ini, aku pasti sudah gila...


"Bagaimana apa yang kau inginkan dalam takdirmu?" tanya Utari.


Aska merogoh kantongnya dan mengambil remote kunci mobil mewah Utari.


"Kau bisa mengambilnya sendiri kan?" tanya Aska kesal.


"Hay kau harus selesaikan pekerjaan mu dulu, bukannya kau akan pergi kemping selama tiga hari?" tanya Utari.


"Dari mana kau tau?" tanya Aska kaget, Utari benar-benar sakti.


"Varo!" kata Utari yang langsung berjalan ke arah jalan raya.


Saat Utari mengatakan nama itu, Aska langsung terdiam dan seperti sebilah pisau menancap di ulu hatinya. Reaksinya tubuhnya benar-benar sangat berlebihan.


Aska hanya bisa mengekori Utari dari belakang dan dia masih bisa melihat benang-benang takdir orang, serta mahluk tak kasat mata.


"Akkkkk!" Pekik Aska tak kala matanya memandang sesuatu merangkak dari dalam got.


Rambut hitam yang lusuh dan basah, jemari-jemari biru pucat yang menghitam. Aska bisa melihat tubuh ramping dengan baju putih yang sudah usang dan tak utuh lagi.


Dengan wajah tegang Aska masih memandangi mahluk yang bau comberan itu. Perlahan kepala berambut basah yang kusut itu mendongak dan meperlihatkan senyum di wajah membiru dan menghitam di area mulut dan matanya.


Bola mata yang seluruhnya hitam itu menatap ke arah Aska.

__ADS_1


"Akkkkkkkkkkk!" teriakan Aska semakin keras, tak kala mahluk itu melompat ke arahnya.


Wussssssss


Utari dengan pedang Es nya berdiri dengan kuda-kuda kokoh, Utari baru saja menyabet setan itu dengan pedangnya hinga musnah.


"Apa itu tadi?" tanya Aska yang masih dalam ke adaan gemetar dan ketakutan tubuh gagahnya seketika ambruk menerjang aspal jalanan gang itu.


Utari hanya mengeleng-geleng dan mencibir mental Aska yang ternyata hanya sebesar biji kacang tanah, langkah kaki Utari segera meningalkan Aska setelah menyimpan lagi pedang Esnya.


"Oyyyyy...tungu aku....Utariiiiii!" Aska segera bangun dengan kaki gemetar, dan berusaha mengejar langkah Utari.


.


Karena kondisi Aska masih tak setabil, Utari yang menyetir menuju pusat perbelanjaan. Gadis cantik itu mengeluarkan sebilah belati lengkap dengan sarungnya yang berhiaskan pahatan indah dan beberapa titik manik berlian di bagian tertentu dan dia berikannya pada Aska.


"Apa ini?" tanya Aska, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena masih ketakutan.


"Bawalah ini, mahluk-mahluk seperti itu akan menjauh darimu!" jelas Utari.


Dengan cepat tangan Aska meraih belati itu, dia sudah tak peduli apa belati itu akan membuatnya mendapat masalah dengan polisi atau tidak. Yang penting baginya adalah di jauhi para hantu-hantu mengerikan itu.


"Kalau aku yang mengambil, yaaa sekalian sama jiwamu!" jawab Utari yang masih terus menyetir.


Aska hanya bisa pasrah dan mencoba tak kaget dengan kata kasar Utari.


"Buatlah kontrak dengan belati itu, agar kau tak kehilannya. Belati itu hanya ada satu di dunia ini!" kata Utari.


"Tidak, kau pasti sedang melakukan siasat licikkan untuk menguasai jiwaku!" kata Aska penuh curiga.


"Terserah kamu, hanya belati itu yang bisa melindungimu selain aku!" kata Utari, tapi sifat keras kepala Aska tak mau mendengar nasehat dari Utari itu.


.


Utari dan Aska sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan dan mereka dengan berkeliling untuk berbelanja, Aska mendorong teroli belanja sambil mengamati belati indah yang di berikan Utari.


Sementara Utari sibuk memilih-milih barang belanjaan,


"Askaaaa....bantu aku!" pangil Utari, Aska hanya berjalan cepat ke arah Utari dan mengambil beberapa barang yang biasa di gunakan Utari.

__ADS_1


"Kamu itu apa?" tanya Aska pada Utari.


"Maksutmu?" tanya Utari yang bingung akan pertanyaan Aska.


"Jika kau hantu kenapa kau juga makan dan minum seperti manusia, kau bahkan mengunakan produk-produk manusia....kau bukan manusia kan?" tanya Aska,


Utari hanya memandang ke arah Aska, dan langkahnya perlahan mendekati lelaki gagah itu.


Tangan mungilnya meraih belati yang berada di dalam gengaman Aska.


"Kembalikan!" gumam Utari dengan senyuman manisnya.


"Engak!" kata Aska juga dengan wajah tersenyum, tapi dia baru sadar kalau pertanyaannya membuat emosi Utari.


"Aku bilang kembalikan!" bentak Utari.


Seketika gengaman Aska pada belati indah itu terlepas, dan Utari yang kini menguasai itu.


"Maaf kan aku Utari....aku tak akan tanya hal itu lagi...!" kata Aska, Utari pun seketika menghilang dari hadapannya hanya menyisakan hantaman angin lembut di wajah Aska.


"Wanita yang mudah sekali tersingung!" gumam Aska, dia melanjutkan acara belanjanya sendiri di dalam pusat perbelanjaan itu.


Belum lama Aska berjalan sendiri, dia merasa ada yang memperhatikannya. Seketika kepala Aska menoleh ke belakang dan matanya memicing untuk menyelidik. Tapi tak ada yang dia dapatkan.


Dia pun menyusuri lorong berikutnya, lorong cemilan, Aska menatap coklat kesukaan Utari dan tersenyum karena mengingat bagaimana ekspresi bahagia dan nikmat Utari saat menikamati coklat merek itu.


Aska segera mengambil coklat itu dan seorang anak kecil menarik-narik kausnya.


Aska pun melihat ke bawah, dan seorang anak lelaki berkulit pucat sedang berdiri di dekatnya.


"Ada apa dek?" tanya Aska ramah.


"Tolong aku juga mau itu!" kata anak itu dengan nada yang aneh, tapi Aska menepis prasangkanya dan mengambilkan satu bungkus coklat itu dan memberikannya pada anak itu.


Tapi coklat itu terjatuh saat Aska memberikannya, seketika Aska berjongkok untuk mengambil coklat itu kembali.


Dari arah itu Aska bisa melihat kaki bocah ini tak menapak ke tanah, tubuhnya mulai merinding dan tangannya yang memegang coklat itu sudah bergetar.


Anjirrr bocah ini hantu...

__ADS_1


Aska mendongak untuk memastikan, dan sebuah senyuman mengerikan di wajah pucat yang sudah mulai menghitam itu membuatnya berteriak sangat keras.


__ADS_2