Kencana Utari

Kencana Utari
Benang merah milikku


__ADS_3

Utari memarkir mobil merah tanpa atapnya di depan sebuah sekolahan, dia memicingkan matanya sembari menurunkan kaca mata hitamnya. Dia bisa melihat para siswa berbondong-bondong keluar dari sekolah mewah dan elite itu, satu-persatu siswa keluar tak ada satupun yang luput dari perhatian Utari.


Segerombol siswa keluar dengan gaya badung mereka, seragam yang tidak rapi dan rambut yang di cat warna-warni serta gaya bicara yang tak sopan melewati Utari.


"Alvaro Sanjaya Putra!" kata Utari, semua rombongan murit badung itu menoleh ke arah Utari.


"Siapa kamu?" tanya salah seorang dari teman Varo.


Utari tak menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman Varo, gadis itu hanya memandang mata calon suaminya yang langsung kagum ketika melihat ke arah Utari. Varo sudah tau dia akan di jodohkan dengan seorang gadis bernama Kencana Utari Dewi. Varo juga tak menyangka jika gadis yang akan jadi istrinya adalah seorang gadis cantik, manis dan berkelas seperti gadis yang dia lihat di depannya itu. Varo berfikir dia akan di jodohkan dengan gadis desa yang udik dan culun karena Varo merasa Kencana Utari Dewi adalah nama yang kampungan sekali.


"Mau bicara sebentar?" tanya Utari, dia seakan bisa membaca fikiran Varo calon suaminya itu. Utari bisa melihat benang merah di tangan Varo, itu tandanya Varo adalah miliknya.


Cowok manis berambut pirang karena di cat itu melangkahkan kakinya maju ke arah Utari, dia tau menolak perjodohan ini sama dengan berhenti jadi keluarga Sanjaya, dia akan hidup susah seperti kakaknya dan dia tak mau melakukan itu.


Varo dan Utari kini hanya berdua saja mereka duduk di meja taman depan sekolah, Utari dengan gaya coolnya melihat ke arah Varo yang duduk di sebelahnya.


"Kau sekolah di mana?" tanya Varo pada Utari.


"Aku tak perlu sekolah!" jawab Utari.


"Kau pasti Home Schooling!" kata Varo, dia tampak salah tingkah di depan Utari yang tampak sangat tenang.


Varo adalah cowok idola di sekolah ini, semua gadis di sekolahnya tergila-gila padanya dan sekarang dia berhadapan dengan gadis berhati marmer tapi sangat cantik.


"Kau pasti kaget karena perjodohan ini, aku juga kaget sekali tapi aku tak bisa menolak!" jelas Varo.


"Aku suka lelaki yang berambut hitam,!" kata Utari


"Aku bisa mengecatnya jadi hitam lagi!" sahut Varo cepat.


"Aku suka lelaki yang rapi!"


"Aku akan rapi mulai besok!" kata Varo, dia langsung mengancingkan kemejanya yang berantakan.


"Aku sensitif dengan bau, jadi usahakan kau rajin sikat gigi dan mandi!" kata Utari,


"Siap!" Varo terlihat sangat bersemangat sekali untuk memenuhi syarat Utari tadi.

__ADS_1


"Apa kau jago ciuman?" tanya Utari lagi, Varo hanya bengong tak berdaya. Ciuman saja belom pernah apa lagi dia yang selalu di kekang orang tuanya untuk tak terlalu banyak bergaul dengan orang luar.


"Aku belom pernah ciuman,!" kata Varo dia menunduk malu.


"Aku juga baru melakukannya sekali,!" kata Utari masih stay dengan gaya coolnya.


"Dengan siapa?" tanya Varo kepo, dia juga merasa aneh bagaimana bisa dia berbicara senyaman ini dengan wanita yang baru saja dia temui.


"Musuhku!" kata Utari, ciuman pertamanya adalah dengan Salendra 900 tahun yang lalu, sebelum terjadinya perang berdarah itu.


"Maaf aku menanyakan itu, kau punya no Hp?" tanya Varo, dia menyerahkan ponselnya pada Utari. Utari mencatat no hpnya di ponsel Varo.


"Trimakasih,!" senyuman indah merekah di wajah Varo membuat Utari juga tersenyum kecil melihat Varo yang bisa tersenyum dengan hal sesederhana itu.


"Varo kau belum pulang?," seorang pria berpakaian rapi berdiri di dekat kami,


"Siapa kamu kau bukan siswi di sini?" kata pria itu ketika melihat Utari yang duduk di samping adiknya.


Mata Aska dan Utari saling bertatapan,


"Kau.....!" kata Utari dengan penuh keheranan.


"Kalian saling kenal?" tanya Varo.


Utari masih menatap Aska yang semakin keras meremas dadanya karena sakitnya bertambah semakin dia melihat sosok Utari.


"Tidak!" kata Utari, dia langsung berdiri dan meningalkan kedua kakak adik itu begitu saja.


"Aku kan menelfonmu nanti!" kata Varo, dan secara ajaib no pemberian Utari menghilang dari ponsel Varo karena Utari menghapusnya dengan kekuatannya


"Kakak kenapa, apa kakak punya penyakit jantung?" tanya Varo sedih, dia sangat dekat dengan Aska meski Aska sudah tak menjadi angota keluarga Sanjaya lagi.


"Entah kenapa dadaku terasa sangat sakit saat melihat gadis tadi!" kata Aska.


"Apa karena Utariku sangat cantik?" tanya Varo.


"Siapa namanya?" tanya Aska dia tampak tak asing dengan nama gadis itu.

__ADS_1


"Kencana Utari Dewi!" kata Varo yang langsung hafal nama Utari. Dada Varo bereaksi lagi, ini yang dia alami saat usianya 18 tahun.


.


.


.


.


5 tahun yang lalu


"Sini nak, ada yang ayah mau bicarakan ke kamu!" seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat pas di badan lelaki itu, dia memangil Aska yang baru pulang dari sekolah.


Aska masih mengenakan seragam sekolahnya dan memasuki ruangan kerja ayahnya, dia menunduk hormat di depan ayahnya dan duduk di sofa tepat di depan ayahnya.


"Ayah menjodohkanmu dengan seorang gadis dari keluarga yang bagus, menikahlah!" Aska memandang ayahnya tak percaya, bagaimana di usianya yang baru hampir 18 tahun ini menikahi seorang gadis.


"Ayah saya masih terlalu muda untuk menikah!" jawab Aska.


"Dia juga masih muda namanya Kencana Utari Dewi, dia gadis yang sangat cantik!" bujuk ayah Aska.


"Saya masih ingin kuliah dan mengejar cita-citaku ayah, bagimana jika setelah lulus kuliah saja!" Aska mencoba bernegosiasi dengan ayahnya.


"Jika kau menolak perjodohan ini kau harus keluar dari rumah dan keluarga ini!" itu kata-kata terakhir yang di dengar Aska dari ayahnya.


.


.


.


*S**ekarang*


Apa dia gadis yang di jodohkan 5 tahun yang lalu denganku, tapi kenapa dia terlihat seperti gadis 17 tahun...


"Bagaimana kau kenal dengan gadis tadi?" tanya Aska pada adiknya yang masih senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Dia gadis yang di jodohkan ayah denganku!" kata Varo, sakit di dada Aska mulai lagi. Meski tak sesakit tadi tapi dia merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya.



__ADS_2